Ide Tugas Akhir Teknik Industri – Hazard Mapping dan Tata Letak Fasilitas

Apakah Anda menduga sebuah perusahaan punya masalah bahaya kerja? Kalau ya, kelola bahaya di tempat kerja dengan alur berpikir seperti di bawah ini.

Berikut ini adalah kondisi awal tata letak fasilitas produksi di sebuah pabrik beserta dua jenis kelompok bahaya, yaitu bahaya mekanik (lingkaran kuning) dan bahaya kebakaran (lingkaran merah).

Catatan:
Kelompok bahaya dapat dikembangkan sesuai dengan kondisi di lapangan, contohnya: bahaya listrik, bahaya listrik, bahaya biologi, dsb.

Bahaya Mekanik (kondisi awal)
Angka 1-5 dalam lingkaran warna kuning menunjukkan tingkat bahaya mekanik, di mana 1 menunjukkan kondisi sangat tidak berbahaya dan 5 adalah kondisi sangat berbahaya. Cara penentuan tingkat bahaya bisa menggunakan metode HIRARC, FMEA, dan teknik-teknik lainnya.

Dari gambar berikut, bisa diidentifikasi lokasi-lokasi mana saja yang mengandung bahaya mekanik terbesar.

Bahaya Kebakaran (kondisi awal)
Angka 1-5 dalam lingkaran warna merah menunjukkan tingkat bahaya kebakaran, di mana 1 menunjukkan kondisi sangat tidak berbahaya dan 5 kondisi sangat berbahaya (sangat mudah terbakar). Cara penentuan tingkat bahaya bisa menggunakan metode HIRARC, FMEA, dan teknik-teknik lainnya.

Dari gambar berikut, bisa diidentifikasi lokasi-lokasi mana saja yang mengandung bahaya kebakaran terbesar.

Peta Bahaya (kondisi awal)
Jika kedua kondisi potensi bahaya digabungkan, maka akan diperoleh peta bahaya gabungan seperti gambar berikut.

Dari gambar berikut, bisa disimpulkan lokasi-lokasi yang mengandung bahaya terbesar (gabungan bahaya mekanik dan bahaya kebakaran). Teknik pembobotan pada setiap kelompok bahaya dapat digunakan untuk mempertajam analisis peta potensi bahaya ini.

Pasca mengidentifikasi (Hazard Identification) dan menilai potensi bahaya (Risk Assessment) di tempat kerja, maka perlu dilakukan sejumlah pengendalian resiko (Risk Control) berupa penerapan prinsip-prinsip manajemen bahaya (Hazard Management Principles/ HMP).

Dalam bidang teknik industri, efektifitas penerapan HMP dapat dimaksimalkan dengan memadukan teknik-teknik analisis tata letak fasilitas, salah satunya metode ARC (Activities relationship chart). Angka resiko pada setiap bahaya, dapat dijadikan faktor pertimbangan dalam mendekatkan/ menjauhkan fasilitas/ aktifitas produksi yang ada. Dalam contoh kasus di atas, prioritas kedekatan bisa dipilih antara potensi bahaya mekanik, potensi bahaya kebakaran, atau potensi gabungan. Catatan Kecelakaan Kerja (KK) atau Penyakit Akibat Kerja (PAK) di masa lalu, dapat menjadi alasan penentuan skala prioritas.

Bahaya Mekanik (kondisi pasca perbaikan)
Perhatikan, perubahan posisi fasilitas secara otomatis akan memindah posisi bahaya mekanik.

Bahaya Kebakaran (kondisi pasca perbaikan)
Perhatikan, perubahan posisi fasilitas secara otomatis akan memindah posisi bahaya kebakaran..

Peta Bahaya (kondisi pasca perbaikan)
Jika kedua kondisi potensi bahaya pasca perbaikan digabungkan, maka akan diperoleh kondisi baru seperti gambar berikut.

Analisis:
Efektifitas perbaikan tingkat bahaya dapat diukur dari beberapa hal, misalnya:
1. Penurunan tingkat bahaya di beberapa lokasi sekaligus
2. Pengurangan kompleksitas jenis bahaya di sebuah tempat. Makin banyak jenis bahaya, makin susah mengelolanya.

Kurang lebih seperti itu, silakan mencoba! 🙂

Gelar Sarjana Tidak Bermakna? Benarkah?

Saya selalu heran ketika bertemu dengan anak muda yang demikian menyesali perjalanan hidupnya pasca lulus dari sebuah perguruan tinggi. Saya masih mencoba memahami (walau sebenarnya tak kunjung paham juga) kalau yang bicara adalah seorang sarjana yang belum dapat pekerjaan. Saya anggap saja pernyataan tsb sebagai bentuk luapan kejengkelan. Tapi kalau yang ngedumel adalah sarjana yang sudah dapat pekerjaan (dan gajinya bagus), terus ngomong, “Pengetahuan yang saya peroleh di kampus sama sekali tidak bermanfaat,” saya jadi heran..hehehe…

Gelar sarjana (S1) jelas bukan cuma tambahan beberapa huruf di sebelah nama. Tidak sembarang orang bisa memperoleh gelar sarjana (catatan: bukan gelar abal-abal lho, ya).

Gelar sarjana mencerminkan keragaman dan kedalaman pengetahuan seseorang, paling tidak terdiri dari 40 jenis pengetahuan yang berasal dari 40 mata kuliah yang berbeda. Apa pun perguruan tinggi atau jurusannya, apapun akreditasinya, atau di mana pun lokasinya.

Gelar sarjana seharusnya mencerminkan cara berpikir yang sistematis dan terlatih, paling tidak lewat 40 kuis, 40 Ujian Tengah Semester (UTS), dan 40 Ujian Akhir Semester (UAS). Setiap sarjana pasti secara sadar pernah berkali-kali melakukan tindakan mempersiapkan diri untuk menghadapi ujian. Nilai tidak maksimal? Itu hal yang berbeda.

Gelar sarjana mencerminkan tingkat kreatifitas, kemandirian, dan ketahanan mental yang teruji, paling tidak melalui 1 semester proses pengerjaan skripsi/ tugas akhir.

Gelar sarjana juga menunjukkan dengan siapa saja seseorang bergaul selama 4 tahun (atau lebih). Setiap sarjana, pasti berada dalam komunitas tertentu dengan segala keunikannya.

Yang tidak kalah penting, semua hal tsb terjadi karena si penyandang gelar sarjana secara sukarela sudah bersedia “membuka” kepala dan hatinya selama 4 tahun (atau lebih). Artinya, setiap penyandang gelar sarjana pada dasarnya pembelajar dan pejuang yang hebat.

Anda bergelar sarjana tapi tidak merasa menerima hal-hal tsb di atas? Masa iya sih? Cobalah introspeksi. Jangan sampai “keluhan pribadi” terhadap gelar sarjana yang melekat pada diri membuat orang lain memandang  kita sebagai manusia bodoh yang menyia-nyiakan hidup selama 4-5 tahun (atau lebih) di sebuah tempat yang bernama perguruan tinggi.

Gelar sarjana bukan tentang kebanggaan atau penyesalan. Gelar sarjana adalah tentang kapabilitas diri yang sudah dibangun secara sadar (maupun tidak sadar).

Kalau belum mampu memanfaatkan gelar sarjana untuk menciptakan kemandirian ekonomi, cobalah bersabar dan berusaha lebih keras. Jangan tutup diri dari hal2 baru yang positif. Kesempatan bisa datang kapan saja dan dari siapa saja.

Terus berusaha dan berdoa!

Ide Tugas Akhir Teknik Industri – DFMA

Coba perhatikan dua buah produk berikut…

Dengan mudah dapat kita “bayangkan” kedua produk tersebut memiliki fungsi yang sama. Perbedaannya? Ada beberapa…

Pertama dari sisi jumlah part atau komponen. Produk di sebelah kiri memiliki tiga buah part dan empat buah pengencang (fasterner). Yang sebelah kanan? Hanya satu part dan tanpa pengencang. Konsekuensi lanjutannya? Berat produk kiri dan kanan pasti berbeda!

Perbedaan kedua, Proses pembuatan (manufacturing) part produk di sebelah kiri dan kanan pasti berbeda. Konsekuensinya? Waktu pembuatan part keduanya akan berbeda. Fasilitas yang diperlukan untuk membuat kedua produk tersebut berpotensi berbeda, tapi bisa juga tidak.

Perbedaan ketiga ada para proses perakitan(assembly)? Produk kiri jelas jauh lebih rumit dan memakan waktu dibanding produk kanan (zero assembly time). Konsekuensi tambahan, produk kiri juga memerlukan alat untuk merakit.

Rancangan sebuah produk perlu disederhanakan agar mudah dibuat dan dirakit. Salah satu metode analisis untuk keperluan ini adalah DFMA (Design for Manufacturing and Assembly).

Dengan menerapkan DFMA diharapkan:

  • Jumlah part lebih sedikit
  • Proses pembuatan (manufaktur) produk lebih mudah dan lebih cepat
  • Proses perakitan lebih mudah dan lebh cepat

Semoga bermanfaat!

Ide Tugas Akhir Teknik Industri – Pengembangan Produk

Fokus desain sepatu pada video di atas adalah penyelesaian masalah ekonomi (kemiskinan). Jika mahasiswa Teknik Industri yg melakukan desain produk tersebut, fokusnya bisa pada umur produk (product life cycle) atau keberlanjutan lingkungan (environmental sustaiinability).

Contoh produk lain yg berpotensi diperpanjang (sustained) umurnya lewat desain:
1. Sepatu
2. Baju
3. Tas
4. Tempat tidur
5. Sepeda, dan;
6. Produk-produk lainnya yang “terpaksa” tidak bisa dipakai lagi karena penggunanya mengalami perubahan aspek ergonomi (contoh: penambahan umur, penambahan berat/ tinggi badan, dsb)

Input untuk Tugas Akhir ini adalah:
1. Model produk yang sudah ada
2. Umur produk dan masalah lingkungan

Metode analysis utk membantu proses pengembangan produk tersebut antara lain:
1. House of Quality (HoQ)
2. Design For Environment (DFE)
3. Life Cycle Assessment (LCA)
3. Functional Analysis System Technique (FAST), dsb.

Output-nya: prototype/ soft model (CAD model)/ 3D printed.

Semoga bermanfaat!

Forum Manajemen Prasetiya Mulya: Perusahaan Terbaik versi Karyawan

Hari ini saya iseng-iseng berselancar di Google. Eh… tahu-tahu sampai ke sebuah artikel yang pernah saya tulis beberapa tahun lalu di Forum Manajemen Prasetiya Mulya. Judulnya “Perusahaan Terbaik Versi Karyawan.”

Saya baca sejenak sambil mencoba mengingat-ingat kembali apa saja yang pernah saya tulis dalam artikel tersebut. Saya ingin tahu apakah tulisan tersebut masih relevan dengan situasi dan kondisi yang ada saat ini, khususnya terkait dengan kehidupan industrial saya saat ini?

Dan ketika sampai di kalimat terakhir yang berbunyi, “Ingin mencapai kemenangan organisasional tertinggi? Raihlah hati para karyawan!”, saya jadi ingat latar belakang penulisan artikel ini.

Kalau Anda berminat membacanya, silakan download filenya di link Forum Manajemen Prasetiya Mulya ini.

IJSRM: A Conceptual Framework: Organizational Learning, Competencies, and Innovation in Indonesian Digital Startup

Sihar Tigor Benjamin Tambunan, Budiman Christiananta, Dyna Rachmawati,

Article Date Published : 18 October 2019 | Page No.: EM-2019-1384-1394 | Google Scholar

Website (downloadable): IJSRM

Abstract

Disruptions carried out by digital startups show a big role of technology-based competencies and  innovations. In fact, both are the results of organizational learning. This paper explores a conceptual framework that links organizational learning with performance through competency development and innovation in Indonesian digital startups. A combination of literature studies on organizational learning and some previous research compared with a number of factual conditions of digital startups in Indonesia, resulting in intended conceptual framework.

The authors managed to place technology as a prominent element in each of the proposed variables forming a conceptual framework that links organizational learning with digital startup performance. This conceptual study does not compare the concepts of organizational learning and individual learning in digital startups. Supporting facts used in this study are multi-sector digital startups. So this conceptual framework could be different if applied to specific sectors.

Conceptually, organizational learning has the potential to significantly influence the competency development and innovation in Indonesian digital startups.

 

Empati

Seekor tikus, penghuni rumah Pak Tani, mendadak kalang kabut. Dari tempat persembunyiannya, dia melihat Pak Tani dan Bu Tani sedang membongkar barang belanjaan mereka dari kota. Dan salah satu barang tsb adalah PERANGKAP TIKUS!!!!

Dia pun berlari menghampiri ayam milik Pak Tani dan menceritakan hal tsb. “Malang benar nasibmu, Tikus. Maaf saya tdk bisa membantu apa pun. Perangkap itu tdk membawa pengaruh apapun pada saya,” kata si ayam.

Si tikus pun menghampiri babi di kandangnya. Reaksi babi sama dgn si ayam, “Maaf, saya tidak bisa melakukan apa pun.”

Tikus masih punya harapan. Dia pun bergegas menemui sapi yang sedang menikmati makanannya. Reaksi sapi? Setali tiga uang dengan ayam dan babi.

Sang tikus sangat sedih. Sekarang dia merasa hidupnya di rumah Pak Tani sangat tidak nyaman. Dia pun memutuskan menemui ular, pemburu utamanya. Dia berharap sang ular mau memberi masukan. Apa yang terjadi? Si ular justru mengancam akan memakannya!

Tikus pun buru2 lari meninggalkan ular. Dia berkata pada dirinya sendiri, “Ya, sudahlah. Saya harus lebih berhati-hati mulai sekarang.”

Bbrp hari kemudian, di tengah malam, terdengar suara ribut di rumah Pak Tani. Sepertinya ada yg masuk perangkap tikus. Pak Tani mengambil kapak untuk menangkap tikus, sedangkan Bu Tani segera menghampiri perangkap. Ternyata bukan tikus, tapi si ular! Ular yg beberapa hari lalu pernah mengancam si tikus, masuk ke rumah Pak Tani untuk mencari tempat yg hangat! Ekornya terjepit. Dan dlm kesakitannya, dia sempat mematuk Bu Tani. Pak Tani melihat kejadian itu sangat marah! Kapak diayunkan ke tubuh si ular ber kali-kali. Ular pun mati.

Dalam keadaan lemas, Bu Tani dibawa ke mantri kesehatan. Setelah diobati seadanya, Pak Mantri menyarankan Pak Tani membuat sup ayam hangat supaya Bu Tani cepat pulih. Sampai di rumah, Pak Tani segera menuju kandang ayam. Hidup si ayam pun berakhir.

Bu Tani tak kunjung pulih, bahkan makin parah. Pak Tani mendapat masukan dari tetangganya utk memberikan hati babi sebagai penawar sisa-sisa racun di tubuh Bu Tani. Tanpa menunggu lama, nasib si babi pun menyusul ular dan ayam.

Tak ada yg tahu umur manusia, dua hari setelah itu, Bu Tani akhirnya meninggal. Tamu2 berdatangan. Karena di tempat itu ada kebiasaan utk menjamu tamu yg datang saat ada yg meninggal, maka Pak Tani pun memotong si sapi dan menyuguhkannya kepada para tamu yg menyampaikan rasa duka.

Masih mau bilang tdk ada hubungan antata perangkap tikus dengan nasib ular, ayam, babi, dan sapi tadi? 🙂

“..Jgn pernah menganggap keluh kesah orang lain tidak berhubungan dengan kehidupan kita…”(

Berdasarkan kisah Bapak Pdt Phan Bien Ton – GKI Klaten)