Ellipse di AutoCAD tidak bisa di Explode?

Pernah mengalami masalah/ pesan kesalahan seperti gambar berikut waktu membuat gambar di AutoCAD?

 

 

Pesan kesalahan tersebut muncul ketika Anda mencoba meng-Explode obyek yang berasal dari sebuah Ellipse di AutoCAD. Supaya ellipse bisa di-explode, atur dulu variabel Pellipse menjadi 1 sehingga menjadi polyline yang bisa diedit.

 

 

Setelah nilai Pellipse diubah menjadi 1. Buatlah sebuah Ellipse, kemudian Explode-lah obyek tersebut. Bagaimana? Sudah bisa, bukan? Sekarang ellipse tersebut dapat disambung dengan obyek lain menjadi polyline lewat perintah Pedit.

Ide Tugas Akhir Teknik Industri – Hazard Mapping dan Tata Letak Fasilitas

Apakah Anda menduga sebuah perusahaan punya masalah bahaya kerja? Kalau ya, kelola bahaya di tempat kerja dengan alur berpikir seperti di bawah ini.

Berikut ini adalah kondisi awal tata letak fasilitas produksi di sebuah pabrik beserta dua jenis kelompok bahaya, yaitu bahaya mekanik (lingkaran kuning) dan bahaya kebakaran (lingkaran merah).

Catatan:
Kelompok bahaya dapat dikembangkan sesuai dengan kondisi di lapangan, contohnya: bahaya listrik, bahaya listrik, bahaya biologi, dsb.

Bahaya Mekanik (kondisi awal)
Angka 1-5 dalam lingkaran warna kuning menunjukkan tingkat bahaya mekanik, di mana 1 menunjukkan kondisi sangat tidak berbahaya dan 5 adalah kondisi sangat berbahaya. Cara penentuan tingkat bahaya bisa menggunakan metode HIRARC, FMEA, dan teknik-teknik lainnya.

Dari gambar berikut, bisa diidentifikasi lokasi-lokasi mana saja yang mengandung bahaya mekanik terbesar.

Bahaya Kebakaran (kondisi awal)
Angka 1-5 dalam lingkaran warna merah menunjukkan tingkat bahaya kebakaran, di mana 1 menunjukkan kondisi sangat tidak berbahaya dan 5 kondisi sangat berbahaya (sangat mudah terbakar). Cara penentuan tingkat bahaya bisa menggunakan metode HIRARC, FMEA, dan teknik-teknik lainnya.

Dari gambar berikut, bisa diidentifikasi lokasi-lokasi mana saja yang mengandung bahaya kebakaran terbesar.

Peta Bahaya (kondisi awal)
Jika kedua kondisi potensi bahaya digabungkan, maka akan diperoleh peta bahaya gabungan seperti gambar berikut.

Dari gambar berikut, bisa disimpulkan lokasi-lokasi yang mengandung bahaya terbesar (gabungan bahaya mekanik dan bahaya kebakaran). Teknik pembobotan pada setiap kelompok bahaya dapat digunakan untuk mempertajam analisis peta potensi bahaya ini.

Pasca mengidentifikasi (Hazard Identification) dan menilai potensi bahaya (Risk Assessment) di tempat kerja, maka perlu dilakukan sejumlah pengendalian resiko (Risk Control) berupa penerapan prinsip-prinsip manajemen bahaya (Hazard Management Principles/ HMP).

Dalam bidang teknik industri, efektifitas penerapan HMP dapat dimaksimalkan dengan memadukan teknik-teknik analisis tata letak fasilitas, salah satunya metode ARC (Activities relationship chart). Angka resiko pada setiap bahaya, dapat dijadikan faktor pertimbangan dalam mendekatkan/ menjauhkan fasilitas/ aktifitas produksi yang ada. Dalam contoh kasus di atas, prioritas kedekatan bisa dipilih antara potensi bahaya mekanik, potensi bahaya kebakaran, atau potensi gabungan. Catatan Kecelakaan Kerja (KK) atau Penyakit Akibat Kerja (PAK) di masa lalu, dapat menjadi alasan penentuan skala prioritas.

Bahaya Mekanik (kondisi pasca perbaikan)
Perhatikan, perubahan posisi fasilitas secara otomatis akan memindah posisi bahaya mekanik.

Bahaya Kebakaran (kondisi pasca perbaikan)
Perhatikan, perubahan posisi fasilitas secara otomatis akan memindah posisi bahaya kebakaran..

Peta Bahaya (kondisi pasca perbaikan)
Jika kedua kondisi potensi bahaya pasca perbaikan digabungkan, maka akan diperoleh kondisi baru seperti gambar berikut.

Analisis:
Efektifitas perbaikan tingkat bahaya dapat diukur dari beberapa hal, misalnya:
1. Penurunan tingkat bahaya di beberapa lokasi sekaligus
2. Pengurangan kompleksitas jenis bahaya di sebuah tempat. Makin banyak jenis bahaya, makin susah mengelolanya.

Kurang lebih seperti itu, silakan mencoba! 🙂

Gelar Sarjana Tidak Bermakna? Benarkah?

Saya selalu heran ketika bertemu dengan anak muda yang demikian menyesali perjalanan hidupnya pasca lulus dari sebuah perguruan tinggi. Saya masih mencoba memahami (walau sebenarnya tak kunjung paham juga) kalau yang bicara adalah seorang sarjana yang belum dapat pekerjaan. Saya anggap saja pernyataan tsb sebagai bentuk luapan kejengkelan. Tapi kalau yang ngedumel adalah sarjana yang sudah dapat pekerjaan (dan gajinya bagus), terus ngomong, “Pengetahuan yang saya peroleh di kampus sama sekali tidak bermanfaat,” saya jadi heran..hehehe…

Gelar sarjana (S1) jelas bukan cuma tambahan beberapa huruf di sebelah nama. Tidak sembarang orang bisa memperoleh gelar sarjana (catatan: bukan gelar abal-abal lho, ya).

Gelar sarjana mencerminkan keragaman dan kedalaman pengetahuan seseorang, paling tidak terdiri dari 40 jenis pengetahuan yang berasal dari 40 mata kuliah yang berbeda. Apa pun perguruan tinggi atau jurusannya, apapun akreditasinya, atau di mana pun lokasinya.

Gelar sarjana seharusnya mencerminkan cara berpikir yang sistematis dan terlatih, paling tidak lewat 40 kuis, 40 Ujian Tengah Semester (UTS), dan 40 Ujian Akhir Semester (UAS). Setiap sarjana pasti secara sadar pernah berkali-kali melakukan tindakan mempersiapkan diri untuk menghadapi ujian. Nilai tidak maksimal? Itu hal yang berbeda.

Gelar sarjana mencerminkan tingkat kreatifitas, kemandirian, dan ketahanan mental yang teruji, paling tidak melalui 1 semester proses pengerjaan skripsi/ tugas akhir.

Gelar sarjana juga menunjukkan dengan siapa saja seseorang bergaul selama 4 tahun (atau lebih). Setiap sarjana, pasti berada dalam komunitas tertentu dengan segala keunikannya.

Yang tidak kalah penting, semua hal tsb terjadi karena si penyandang gelar sarjana secara sukarela sudah bersedia “membuka” kepala dan hatinya selama 4 tahun (atau lebih). Artinya, setiap penyandang gelar sarjana pada dasarnya pembelajar dan pejuang yang hebat.

Anda bergelar sarjana tapi tidak merasa menerima hal-hal tsb di atas? Masa iya sih? Cobalah introspeksi. Jangan sampai “keluhan pribadi” terhadap gelar sarjana yang melekat pada diri membuat orang lain memandang  kita sebagai manusia bodoh yang menyia-nyiakan hidup selama 4-5 tahun (atau lebih) di sebuah tempat yang bernama perguruan tinggi.

Gelar sarjana bukan tentang kebanggaan atau penyesalan. Gelar sarjana adalah tentang kapabilitas diri yang sudah dibangun secara sadar (maupun tidak sadar).

Kalau belum mampu memanfaatkan gelar sarjana untuk menciptakan kemandirian ekonomi, cobalah bersabar dan berusaha lebih keras. Jangan tutup diri dari hal2 baru yang positif. Kesempatan bisa datang kapan saja dan dari siapa saja.

Terus berusaha dan berdoa!

Ide Tugas Akhir Teknik Industri – DFMA

Coba perhatikan dua buah produk berikut…

Dengan mudah dapat kita “bayangkan” kedua produk tersebut memiliki fungsi yang sama. Perbedaannya? Ada beberapa…

Pertama dari sisi jumlah part atau komponen. Produk di sebelah kiri memiliki tiga buah part dan empat buah pengencang (fasterner). Yang sebelah kanan? Hanya satu part dan tanpa pengencang. Konsekuensi lanjutannya? Berat produk kiri dan kanan pasti berbeda!

Perbedaan kedua, Proses pembuatan (manufacturing) part produk di sebelah kiri dan kanan pasti berbeda. Konsekuensinya? Waktu pembuatan part keduanya akan berbeda. Fasilitas yang diperlukan untuk membuat kedua produk tersebut berpotensi berbeda, tapi bisa juga tidak.

Perbedaan ketiga ada para proses perakitan(assembly)? Produk kiri jelas jauh lebih rumit dan memakan waktu dibanding produk kanan (zero assembly time). Konsekuensi tambahan, produk kiri juga memerlukan alat untuk merakit.

Rancangan sebuah produk perlu disederhanakan agar mudah dibuat dan dirakit. Salah satu metode analisis untuk keperluan ini adalah DFMA (Design for Manufacturing and Assembly).

Dengan menerapkan DFMA diharapkan:

  • Jumlah part lebih sedikit
  • Proses pembuatan (manufaktur) produk lebih mudah dan lebih cepat
  • Proses perakitan lebih mudah dan lebh cepat

Semoga bermanfaat!

Ide Tugas Akhir Teknik Industri – Pengembangan Produk

Fokus desain sepatu pada video di atas adalah penyelesaian masalah ekonomi (kemiskinan). Jika mahasiswa Teknik Industri yg melakukan desain produk tersebut, fokusnya bisa pada umur produk (product life cycle) atau keberlanjutan lingkungan (environmental sustaiinability).

Contoh produk lain yg berpotensi diperpanjang (sustained) umurnya lewat desain:
1. Sepatu
2. Baju
3. Tas
4. Tempat tidur
5. Sepeda, dan;
6. Produk-produk lainnya yang “terpaksa” tidak bisa dipakai lagi karena penggunanya mengalami perubahan aspek ergonomi (contoh: penambahan umur, penambahan berat/ tinggi badan, dsb)

Input untuk Tugas Akhir ini adalah:
1. Model produk yang sudah ada
2. Umur produk dan masalah lingkungan

Metode analysis utk membantu proses pengembangan produk tersebut antara lain:
1. House of Quality (HoQ)
2. Design For Environment (DFE)
3. Life Cycle Assessment (LCA)
3. Functional Analysis System Technique (FAST), dsb.

Output-nya: prototype/ soft model (CAD model)/ 3D printed.

Semoga bermanfaat!

Forum Manajemen Prasetiya Mulya: Perusahaan Terbaik versi Karyawan

Hari ini saya iseng-iseng berselancar di Google. Eh… tahu-tahu sampai ke sebuah artikel yang pernah saya tulis beberapa tahun lalu di Forum Manajemen Prasetiya Mulya. Judulnya “Perusahaan Terbaik Versi Karyawan.”

Saya baca sejenak sambil mencoba mengingat-ingat kembali apa saja yang pernah saya tulis dalam artikel tersebut. Saya ingin tahu apakah tulisan tersebut masih relevan dengan situasi dan kondisi yang ada saat ini, khususnya terkait dengan kehidupan industrial saya saat ini?

Dan ketika sampai di kalimat terakhir yang berbunyi, “Ingin mencapai kemenangan organisasional tertinggi? Raihlah hati para karyawan!”, saya jadi ingat latar belakang penulisan artikel ini.

Kalau Anda berminat membacanya, silakan download filenya di link Forum Manajemen Prasetiya Mulya ini.

IJSRM: A Conceptual Framework: Organizational Learning, Competencies, and Innovation in Indonesian Digital Startup

Sihar Tigor Benjamin Tambunan, Budiman Christiananta, Dyna Rachmawati,

Article Date Published : 18 October 2019 | Page No.: EM-2019-1384-1394 | Google Scholar

Website (downloadable): IJSRM
PDF: 2019-IJSRM-Sihar Tigor Benjamin Tambunan
Abstract

Disruptions carried out by digital startups show a big role of technology-based competencies and  innovations. In fact, both are the results of organizational learning. This paper explores a conceptual framework that links organizational learning with performance through competency development and innovation in Indonesian digital startups. A combination of literature studies on organizational learning and some previous research compared with a number of factual conditions of digital startups in Indonesia, resulting in intended conceptual framework.

The authors managed to place technology as a prominent element in each of the proposed variables forming a conceptual framework that links organizational learning with digital startup performance. This conceptual study does not compare the concepts of organizational learning and individual learning in digital startups. Supporting facts used in this study are multi-sector digital startups. So this conceptual framework could be different if applied to specific sectors.

Conceptually, organizational learning has the potential to significantly influence the competency development and innovation in Indonesian digital startups.

 

Empati

Seekor tikus, penghuni rumah Pak Tani, mendadak kalang kabut. Dari tempat persembunyiannya, dia melihat Pak Tani dan Bu Tani sedang membongkar barang belanjaan mereka dari kota. Dan salah satu barang tsb adalah PERANGKAP TIKUS!!!!

Dia pun berlari menghampiri ayam milik Pak Tani dan menceritakan hal tsb. “Malang benar nasibmu, Tikus. Maaf saya tdk bisa membantu apa pun. Perangkap itu tdk membawa pengaruh apapun pada saya,” kata si ayam.

Si tikus pun menghampiri babi di kandangnya. Reaksi babi sama dgn si ayam, “Maaf, saya tidak bisa melakukan apa pun.”

Tikus masih punya harapan. Dia pun bergegas menemui sapi yang sedang menikmati makanannya. Reaksi sapi? Setali tiga uang dengan ayam dan babi.

Sang tikus sangat sedih. Sekarang dia merasa hidupnya di rumah Pak Tani sangat tidak nyaman. Dia pun memutuskan menemui ular, pemburu utamanya. Dia berharap sang ular mau memberi masukan. Apa yang terjadi? Si ular justru mengancam akan memakannya!

Tikus pun buru2 lari meninggalkan ular. Dia berkata pada dirinya sendiri, “Ya, sudahlah. Saya harus lebih berhati-hati mulai sekarang.”

Bbrp hari kemudian, di tengah malam, terdengar suara ribut di rumah Pak Tani. Sepertinya ada yg masuk perangkap tikus. Pak Tani mengambil kapak untuk menangkap tikus, sedangkan Bu Tani segera menghampiri perangkap. Ternyata bukan tikus, tapi si ular! Ular yg beberapa hari lalu pernah mengancam si tikus, masuk ke rumah Pak Tani untuk mencari tempat yg hangat! Ekornya terjepit. Dan dlm kesakitannya, dia sempat mematuk Bu Tani. Pak Tani melihat kejadian itu sangat marah! Kapak diayunkan ke tubuh si ular ber kali-kali. Ular pun mati.

Dalam keadaan lemas, Bu Tani dibawa ke mantri kesehatan. Setelah diobati seadanya, Pak Mantri menyarankan Pak Tani membuat sup ayam hangat supaya Bu Tani cepat pulih. Sampai di rumah, Pak Tani segera menuju kandang ayam. Hidup si ayam pun berakhir.

Bu Tani tak kunjung pulih, bahkan makin parah. Pak Tani mendapat masukan dari tetangganya utk memberikan hati babi sebagai penawar sisa-sisa racun di tubuh Bu Tani. Tanpa menunggu lama, nasib si babi pun menyusul ular dan ayam.

Tak ada yg tahu umur manusia, dua hari setelah itu, Bu Tani akhirnya meninggal. Tamu2 berdatangan. Karena di tempat itu ada kebiasaan utk menjamu tamu yg datang saat ada yg meninggal, maka Pak Tani pun memotong si sapi dan menyuguhkannya kepada para tamu yg menyampaikan rasa duka.

Masih mau bilang tdk ada hubungan antata perangkap tikus dengan nasib ular, ayam, babi, dan sapi tadi? 🙂

“..Jgn pernah menganggap keluh kesah orang lain tidak berhubungan dengan kehidupan kita…”(

Berdasarkan kisah Bapak Pdt Phan Bien Ton – GKI Klaten) 

Sistem Zonasi PPDB untuk Apa dan Siapa?

Dunia pendidikan Indonesia dibuat heboh oleh pelaksanaan sistem zonasi yang dijalankan berdasarkan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Permendikbud) No 51/ 2018 tentang Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB). Beleid bertujuan mendorong peningkatan akses layanan pendidikan (Pasal 3a).

Logika sederhana penulis, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) telah melakukan self assessment terhadap kinerjanya dengan kesimpulan; akses layanan pendidikan yang disediakan oleh pemerintah belum dinikmati seluruh masyarakat atau layanan yang dinikmati masyarakat belum sesuai dengan standar pelayanan minimal, sehingga perlu ditingkatkan.

Siapa yang didorong melakukan hal tersebut? Pemerintah Daerah jawabannya (Pasal 3b). Penerapannya? Bukan jumlah layanan pendidikan yang ditingkatkan jumlah dan kualitasnya agar makin mudah diakses oleh masyarakat, tapi masyarakat diminta bersekolah di sekolah yang dekat dengan tempat tinggalnya. Adakah perubahan dalam sistem zonasi ini? Jelas ada. Tahun lalu, semua siswa dapat hak yang sama untuk memilih sekolah. Tahun ini, hanya yang berdomisili dekat sekolah yang berhak menikmati layanan pendidikan tersebut.

Adakah perbaikan akses layanan pendidikan? Entahlah. Yang pasti, daya tampung sekolah tetap, jumlah yang tidak diterima sekolah negeri juga relatif (tetap) sangat banyak.

Entah pencapaian apa saja sebenarnya yang diharapkan dari pelaksanaan sistem zonasi dalam Permendikbud tersebut tahun ini. Apakah target tersebut benar-benar spesifik, terukur, dan relevan dengan era digital saat ini? Jika tujuannya pemerataan kualitas pendidikan, adakah para pemangku kepentingan di negara ini yang berkenan menjabarkan logical roadmap-nya kepada masyarakat? Bukankah komponen kualitas pendidikan sudah diuraikan terang benderang dalam Undang-Undang (UU) No. 20/2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional?

Penulis secara pribadi mendengar sistem zonasi ini pertama kali di Jawa Timur pada 2017. Pelaksanaan sistem yang hendak diterapkan Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur pada PPDB SMA/ SMK kala itu berhasil “dihentikan” masyarakat Jawa Timur. Reaksi keras tersebut berawal dari rencana pemberian 12,5 poin tambahan kepada siswa yang berdomisili dalam zona sesuai sekolah tujuan. Poin yang rencananya dikompensasikan terhadap Nilai Ujian Nasional (NUN) dinilai sangat tidak berkeadilan oleh banyak pihak.

Tahun 2018, sistem zonasi tersebut akhirnya dijalankan di beberapa daerah di Indonesia dengan segala dampaknya yang masih dengan mudah dapat kita temui di internet. PPDB SMA/ SMK 2018 di Jawa Timur, khususnya Surabaya, tetap menggunakan hasil Ujian Akhir Nasional (UAN) sebagai kriteria seleksi utama. Lancar-lancar saja, setiap anak di Surabaya memiliki hak yang sama untuk memilih sekolah di mana pun, dalam batas administrasi Kota Surabaya. Kriteria seleksinya adalah Nilai Ujian Nasional.

Tahun 2019, sistem zonasi “diuji-paksa” secara nasional. Kriteria seleksi utamanya adalah kedekatan antara tempat tinggal siswa dengan sekolah dalam zona yang telah ditentukan Pemerintah Daerah. Info yang beredar, metode pengukuran jarak yang digunakan adalah jarak Euclidean. Selain tidak menunjukkan jarak tempuh sebenarnya, perhitungan jarak ini hanya cocok untuk bidang datar.

Terlepas dari teknik pengukuran yang digunakan, sistem zonasi berbasiskan jarak antara tempat tinggal dan sekolah dalam Permendikbud 51/ 2018 jelas-jelas membatasi kebebasan warga negara untuk memilih pendidikan yang dianggap terbaik bagi dirinya seperti yang diamanatkan UU No. 20/ 2003. Anak-anak banyak yang kehilangan kesempatan belajar di sekolah impian mereka karena rumahnya jauh dari sekolah.

Dengan NUN, sebagai kriteria seleksi, setiap anak memiliki hak yang sama untuk memilih sekolah, sedangkan dengan sistem zonasi (jarak) hak tersebut menjadi jauh lebih besar pada anak-anak yang rumahnya dekat dari sekolah. Sistem zonasi ini sebenarnya untuk kepentingan apa atau siapa?

Pemerintah melalui Kemendikbud dan Dinas Pendidikan terkait memiliki tanggung jawab yang jelas dalam mewujudkan sistem pendidikan nasional yang bermutu lewat pencapaian delapan Standar Nasional Pendidikan, yaitu standar isi, proses, kompetensi lulusan, tenaga kependidikan, sarana dan prasarana, pengelolaan, pembiayaan, dan penilaian pendidikan (UU No. 20/ 2003 Pasal 35).

Tidak ada satu pun istilah zona atau zonasi dalam UU No. 20/ 2003. Standar tersebut harus ditingkatkan secara berencana dan berkala. Delapan Standar Nasional Pendidikan tersebut adalah kriteria minimal yang berlaku di seluruh wilayah Hukum NKRI. Keberadaan sekolah yang dilabeli “favorit” oleh masyarakat, justru mengindikasikan belum tercapainya sistem pendidikan yang bermutu sesuai standar secara nasional/ di tingkat daerah. Sangat janggal jika Pemerintah (cq Kemendikbud) belum mampu mewujudkan Sistem Pendidikan yang bermutu secara merata, “memaksa” siswa bersekolah di sekolah yang kualitasnya masih di bawah standar sekaligus “membagi beban” kepada para siswa bernilai tinggi untuk membantu proses pemerataan kualitas pendidikan lewat sistem zonasi.

Apakah ini artinya siswa-siswa pintar nantinya akan diharapkan berperan sebagai “motivator sekaligus guru tambahan” bagi siswa-siswa yang capaian akademisnya kurang baik? Sistem zonasi ini sebenarnya untuk kepentingan apa atau siapa?

Masyarakat di berbagai provinsi di Indonesia, khususnya anak-anak, sudah berbulan-bulan gundah akibat pemberlakuan sistem zonasi Permendikbud 51/ 2018. Sebaiknya sistem PPDB SMA/ SMK dikembalikan seperti apa yang terjadi pada tahun 2017 atau 2018 di Jawa Timur. “Perlawanan logis” masyarakat dan Pemerintah Daerah terhadap sistem zonasi malah diancam pasal 41 (b) berupa sanksi pengurangan bantuan Pemerintah Pusat dan/atau realokasi dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) yang pada dasarnya adalah kewajiban negara.

Padahal, perlawanan tersebut pasti didasarkan atas pengetahuan dan pertimbangan pengadministrasian sistem pendidikan termasuk potensi masalah yang bakal muncul di kemudian hari, sama sekali bukan bentuk pertentangan hirarki struktural. Sekali lagi, sistem zonasi ini sebenarnya untuk kepentingan apa atau siapa?

Biarkan siswa berkompetisi memilih sekolah sesuai dengan keinginannya. Tidak ada yang salah dengan berkompetisi, asal secara sehat! Pendidikan adalah investasi strategis bagi masyarakat dan negara. Kalau belum ada kajian yang terstruktur, sistematis, dan masif, jangan asal membuat kebijakan.

Penulis tidak bisa mengatakan apakah sistem zonasi itu bagus atau tidak bagus secara konseptual, tapi dengan mudah penulis bisa katakan; sistem zonasi dalam Permendikbud 51/ 2018 tidak tepat diterapkan di banyak kota di Indonesia karena kondisi penyebaran masyarakat, sistem sosial, dan infrastruktur pendidikan/penunjang yang sangat beragam. Bahkan, efek domino atau gulir dari kebijakan ini tidak main-main pada kemudian hari.♦

Tigor Tambunan
Ketua Jurusan Teknik Industri Sekolah Tinggi Teknik Surabaya

Pendapat pribadi ini saya saya tulis untuk Harian Kontan.Tulisan asli dapat dibaca di link Harian Kontan dan di-reshare di Line Today.

Sekilas Teknologi Solar Panel

Sinar matahari adalah sumber energi yang sangat melimpah. Manusia dapat memanfaatkan sinar matahari dengan bantuan solar photovoltaic panel (disederhanakan dengan istilah solar panel). Solar panel mengubah sinar matahari menjadi listrik searah (DC), selanjutnya diubah menjadi listrik bolak-balik (AC) dengan bantuan alat yang disebut inverter.

Belakangan, kontribusi sinar matahari sebagai salah satu pemasok kebutuhan energi manusia meningkat drastis. Penyebabnya, dari waktu ke waktu, tingkat efisiensi solar panel dalam mengkonversi sinar matahari makin tinggi. Saat ini, tingkat efisiensi solar panel yang dihasilkan oleh produsen-produsen solar panel ternama di dunia berkisar antara 19,4-23%. Sebagai perbandingan, pada tahun 2012, sebuah solar panel berukuran 39in x 65 in dapat menghasilkan daya sebesar 200 watt (efisiensi 15%), sedangkan solar panel berukuran sama yang dibuat dengan teknologi solar panel tahun 2018-an menghasilkan daya sebesar 320watt (efisiensi 18,7%).

Tingkat efisiensi yang berbeda dipengaruhi oleh beberapa faktor. Salah satunya adalah bahan dasar solar panel. Bahan dasar panel surya monokristalin dan polikristalin adalah kristal silikon. Material ini memiliki sifat molekular yang sangat stabil, dapat menghasilkan energi ketika terpapar sinar matahari, dan dapat berfungsi secara efektif sampai jangka waktu 25 tahun pemakaian.  Itu sebabnya, sejumlah perusahaan penyedia solar panel menawarkan masih jaminan fungsional selama 25-30 tahun (setelah melewati jangka waktu tersebut masih berfungsi, namun efektifitasnya berkurang).

Tingkat efisiensi panel surya monokristalin lebih tinggi daripada panel surya polikristalin karena kemurnian silikon panel monokristalin lebih tinggi daripada panel surya polikristalin. Tingkat efisiensi yang berbeda ini, menyebabkan pengguna  panel surya polikristalin membutuhkan permukaan lebih besar untuk menghasilkan daya listrik yang sama seperti dihasilkan panel surya monokristalin. Meski tingkat efisiensi panel surya polikristalin sedikit lebih rendah dibanding panel surya monokristalin, harga yang relatif lebih murah membuat panel surya polikristalin sangat diminati konsumen. Secara visual, membedakan panel surya monokristalin dan polikristalin cukup mudah. Solar panel monokristalin terlihat seperti lapisan serat yang searah dan seragam seperti wafer (kiri/ hitam), sedangkan solar panel polikristalin lapisan seratnya berhamburan (kanan/ biru).

Meski tergolong energi yang terbarukan dan ramah lingkungan dari sisi penggunaanya, bukan berarti keberadaan solar panel tidak memiliki dampak lingkungan sama sekali. Nitrogen trifluoride (NF3) dan sulfur hexafluoride (SF6) adalah dua buah jenis gas emisi yang sering dihubungkan dengan proses pembuatan solar panel.

NF3 17.000 kali lebih berbahaya dibandingkan CO2, sedangkan  SF6 jauh lebih berbahaya lagi, yaitu 22.200 kali dibandingkan CO2. Paska umur layanannya, sistem solar panel juga menghasilkan limbah (silicon). Karena kemurnian solar panel polikristalin lebih rendah dibanding solar panel monokristalin, otomatis jumlah limbah silikon  solar panel polikristalin juga akan lebih sedikit.

Yang perlu digaris bawahi di sini adalah, tidak ada satupun energi tanpa resiko atau dampak terhadap lingkungan selama siklus hidupnya. Yang perlu dilakukan adalah, usaha-usaha untuk meminimalkan dampak lingkungan harus terus diupayakan.