Sistem Zonasi PPDB untuk Apa dan Siapa?

Dunia pendidikan Indonesia dibuat heboh oleh pelaksanaan sistem zonasi yang dijalankan berdasarkan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Permendikbud) No 51/ 2018 tentang Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB). Beleid bertujuan mendorong peningkatan akses layanan pendidikan (Pasal 3a).

Logika sederhana penulis, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) telah melakukan self assessment terhadap kinerjanya dengan kesimpulan; akses layanan pendidikan yang disediakan oleh pemerintah belum dinikmati seluruh masyarakat atau layanan yang dinikmati masyarakat belum sesuai dengan standar pelayanan minimal, sehingga perlu ditingkatkan.

Siapa yang didorong melakukan hal tersebut? Pemerintah Daerah jawabannya (Pasal 3b). Penerapannya? Bukan jumlah layanan pendidikan yang ditingkatkan jumlah dan kualitasnya agar makin mudah diakses oleh masyarakat, tapi masyarakat diminta bersekolah di sekolah yang dekat dengan tempat tinggalnya. Adakah perubahan dalam sistem zonasi ini? Jelas ada. Tahun lalu, semua siswa dapat hak yang sama untuk memilih sekolah. Tahun ini, hanya yang berdomisili dekat sekolah yang berhak menikmati layanan pendidikan tersebut.

Adakah perbaikan akses layanan pendidikan? Entahlah. Yang pasti, daya tampung sekolah tetap, jumlah yang tidak diterima sekolah negeri juga relatif (tetap) sangat banyak.

Entah pencapaian apa saja sebenarnya yang diharapkan dari pelaksanaan sistem zonasi dalam Permendikbud tersebut tahun ini. Apakah target tersebut benar-benar spesifik, terukur, dan relevan dengan era digital saat ini? Jika tujuannya pemerataan kualitas pendidikan, adakah para pemangku kepentingan di negara ini yang berkenan menjabarkan logical roadmap-nya kepada masyarakat? Bukankah komponen kualitas pendidikan sudah diuraikan terang benderang dalam Undang-Undang (UU) No. 20/2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional?

Penulis secara pribadi mendengar sistem zonasi ini pertama kali di Jawa Timur pada 2017. Pelaksanaan sistem yang hendak diterapkan Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur pada PPDB SMA/ SMK kala itu berhasil “dihentikan” masyarakat Jawa Timur. Reaksi keras tersebut berawal dari rencana pemberian 12,5 poin tambahan kepada siswa yang berdomisili dalam zona sesuai sekolah tujuan. Poin yang rencananya dikompensasikan terhadap Nilai Ujian Nasional (NUN) dinilai sangat tidak berkeadilan oleh banyak pihak.

Tahun 2018, sistem zonasi tersebut akhirnya dijalankan di beberapa daerah di Indonesia dengan segala dampaknya yang masih dengan mudah dapat kita temui di internet. PPDB SMA/ SMK 2018 di Jawa Timur, khususnya Surabaya, tetap menggunakan hasil Ujian Akhir Nasional (UAN) sebagai kriteria seleksi utama. Lancar-lancar saja, setiap anak di Surabaya memiliki hak yang sama untuk memilih sekolah di mana pun, dalam batas administrasi Kota Surabaya. Kriteria seleksinya adalah Nilai Ujian Nasional.

Tahun 2019, sistem zonasi “diuji-paksa” secara nasional. Kriteria seleksi utamanya adalah kedekatan antara tempat tinggal siswa dengan sekolah dalam zona yang telah ditentukan Pemerintah Daerah. Info yang beredar, metode pengukuran jarak yang digunakan adalah jarak Euclidean. Selain tidak menunjukkan jarak tempuh sebenarnya, perhitungan jarak ini hanya cocok untuk bidang datar.

Terlepas dari teknik pengukuran yang digunakan, sistem zonasi berbasiskan jarak antara tempat tinggal dan sekolah dalam Permendikbud 51/ 2018 jelas-jelas membatasi kebebasan warga negara untuk memilih pendidikan yang dianggap terbaik bagi dirinya seperti yang diamanatkan UU No. 20/ 2003. Anak-anak banyak yang kehilangan kesempatan belajar di sekolah impian mereka karena rumahnya jauh dari sekolah.

Dengan NUN, sebagai kriteria seleksi, setiap anak memiliki hak yang sama untuk memilih sekolah, sedangkan dengan sistem zonasi (jarak) hak tersebut menjadi jauh lebih besar pada anak-anak yang rumahnya dekat dari sekolah. Sistem zonasi ini sebenarnya untuk kepentingan apa atau siapa?

Pemerintah melalui Kemendikbud dan Dinas Pendidikan terkait memiliki tanggung jawab yang jelas dalam mewujudkan sistem pendidikan nasional yang bermutu lewat pencapaian delapan Standar Nasional Pendidikan, yaitu standar isi, proses, kompetensi lulusan, tenaga kependidikan, sarana dan prasarana, pengelolaan, pembiayaan, dan penilaian pendidikan (UU No. 20/ 2003 Pasal 35).

Tidak ada satu pun istilah zona atau zonasi dalam UU No. 20/ 2003. Standar tersebut harus ditingkatkan secara berencana dan berkala. Delapan Standar Nasional Pendidikan tersebut adalah kriteria minimal yang berlaku di seluruh wilayah Hukum NKRI. Keberadaan sekolah yang dilabeli “favorit” oleh masyarakat, justru mengindikasikan belum tercapainya sistem pendidikan yang bermutu sesuai standar secara nasional/ di tingkat daerah. Sangat janggal jika Pemerintah (cq Kemendikbud) belum mampu mewujudkan Sistem Pendidikan yang bermutu secara merata, “memaksa” siswa bersekolah di sekolah yang kualitasnya masih di bawah standar sekaligus “membagi beban” kepada para siswa bernilai tinggi untuk membantu proses pemerataan kualitas pendidikan lewat sistem zonasi.

Apakah ini artinya siswa-siswa pintar nantinya akan diharapkan berperan sebagai “motivator sekaligus guru tambahan” bagi siswa-siswa yang capaian akademisnya kurang baik? Sistem zonasi ini sebenarnya untuk kepentingan apa atau siapa?

Masyarakat di berbagai provinsi di Indonesia, khususnya anak-anak, sudah berbulan-bulan gundah akibat pemberlakuan sistem zonasi Permendikbud 51/ 2018. Sebaiknya sistem PPDB SMA/ SMK dikembalikan seperti apa yang terjadi pada tahun 2017 atau 2018 di Jawa Timur. “Perlawanan logis” masyarakat dan Pemerintah Daerah terhadap sistem zonasi malah diancam pasal 41 (b) berupa sanksi pengurangan bantuan Pemerintah Pusat dan/atau realokasi dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) yang pada dasarnya adalah kewajiban negara.

Padahal, perlawanan tersebut pasti didasarkan atas pengetahuan dan pertimbangan pengadministrasian sistem pendidikan termasuk potensi masalah yang bakal muncul di kemudian hari, sama sekali bukan bentuk pertentangan hirarki struktural. Sekali lagi, sistem zonasi ini sebenarnya untuk kepentingan apa atau siapa?

Biarkan siswa berkompetisi memilih sekolah sesuai dengan keinginannya. Tidak ada yang salah dengan berkompetisi, asal secara sehat! Pendidikan adalah investasi strategis bagi masyarakat dan negara. Kalau belum ada kajian yang terstruktur, sistematis, dan masif, jangan asal membuat kebijakan.

Penulis tidak bisa mengatakan apakah sistem zonasi itu bagus atau tidak bagus secara konseptual, tapi dengan mudah penulis bisa katakan; sistem zonasi dalam Permendikbud 51/ 2018 tidak tepat diterapkan di banyak kota di Indonesia karena kondisi penyebaran masyarakat, sistem sosial, dan infrastruktur pendidikan/penunjang yang sangat beragam. Bahkan, efek domino atau gulir dari kebijakan ini tidak main-main pada kemudian hari.♦

Tigor Tambunan
Ketua Jurusan Teknik Industri Sekolah Tinggi Teknik Surabaya

Pendapat pribadi ini saya saya tulis untuk Harian Kontan.Tulisan asli dapat dibaca di link Harian Kontan dan di-reshare di Line Today.

Advertisements

Sekilas Teknologi Solar Panel

Sinar matahari adalah sumber energi yang sangat melimpah. Manusia dapat memanfaatkan sinar matahari dengan bantuan solar photovoltaic panel (disederhanakan dengan istilah solar panel). Solar panel mengubah sinar matahari menjadi listrik searah (DC), selanjutnya diubah menjadi listrik bolak-balik (AC) dengan bantuan alat yang disebut inverter.

Belakangan, kontribusi sinar matahari sebagai salah satu pemasok kebutuhan energi manusia meningkat drastis. Penyebabnya, dari waktu ke waktu, tingkat efisiensi solar panel dalam mengkonversi sinar matahari makin tinggi. Saat ini, tingkat efisiensi solar panel yang dihasilkan oleh produsen-produsen solar panel ternama di dunia berkisar antara 19,4-23%. Sebagai perbandingan, pada tahun 2012, sebuah solar panel berukuran 39in x 65 in dapat menghasilkan daya sebesar 200 watt (efisiensi 15%), sedangkan solar panel berukuran sama yang dibuat dengan teknologi solar panel tahun 2018-an menghasilkan daya sebesar 320watt (efisiensi 18,7%).

Tingkat efisiensi yang berbeda dipengaruhi oleh beberapa faktor. Salah satunya adalah bahan dasar solar panel. Bahan dasar panel surya monokristalin dan polikristalin adalah kristal silikon. Material ini memiliki sifat molekular yang sangat stabil, dapat menghasilkan energi ketika terpapar sinar matahari, dan dapat berfungsi secara efektif sampai jangka waktu 25 tahun pemakaian.  Itu sebabnya, sejumlah perusahaan penyedia solar panel menawarkan masih jaminan fungsional selama 25-30 tahun (setelah melewati jangka waktu tersebut masih berfungsi, namun efektifitasnya berkurang).

Tingkat efisiensi panel surya monokristalin lebih tinggi daripada panel surya polikristalin karena kemurnian silikon panel monokristalin lebih tinggi daripada panel surya polikristalin. Tingkat efisiensi yang berbeda ini, menyebabkan pengguna  panel surya polikristalin membutuhkan permukaan lebih besar untuk menghasilkan daya listrik yang sama seperti dihasilkan panel surya monokristalin. Meski tingkat efisiensi panel surya polikristalin sedikit lebih rendah dibanding panel surya monokristalin, harga yang relatif lebih murah membuat panel surya polikristalin sangat diminati konsumen. Secara visual, membedakan panel surya monokristalin dan polikristalin cukup mudah. Solar panel monokristalin terlihat seperti lapisan serat yang searah dan seragam seperti wafer (kiri/ hitam), sedangkan solar panel polikristalin lapisan seratnya berhamburan (kanan/ biru).

Meski tergolong energi yang terbarukan dan ramah lingkungan dari sisi penggunaanya, bukan berarti keberadaan solar panel tidak memiliki dampak lingkungan sama sekali. Nitrogen trifluoride (NF3) dan sulfur hexafluoride (SF6) adalah dua buah jenis gas emisi yang sering dihubungkan dengan proses pembuatan solar panel.

NF3 17.000 kali lebih berbahaya dibandingkan CO2, sedangkan  SF6 jauh lebih berbahaya lagi, yaitu 22.200 kali dibandingkan CO2. Paska umur layanannya, sistem solar panel juga menghasilkan limbah (silicon). Karena kemurnian solar panel polikristalin lebih rendah dibanding solar panel monokristalin, otomatis jumlah limbah silikon  solar panel polikristalin juga akan lebih sedikit.

Yang perlu digaris bawahi di sini adalah, tidak ada satupun energi tanpa resiko atau dampak terhadap lingkungan selama siklus hidupnya. Yang perlu dilakukan adalah, usaha-usaha untuk meminimalkan dampak lingkungan harus terus diupayakan.

ArtCAM: Weave Wizard

Mari kita coba memanfaatkan salah satu perintah keren di ArtCAM, yaitu Weave Wizard.

1. Buatlah lima buah kotak dan sebuah kurva bersisi tiga seperti dalam gambar berikut.

2. Klik ke enam obyek tersebut (kurva bersisi tiga dipilih terakhir), kemudian klik ikon Weave Wizard.

3. Isi parameter dalam kotak tersebut sesuai dengan keperluan

4. Klik OK.

Selamat mencoba!

Ps. Saya telah menulis beberapa buku bertopik CAD/ CAM seperti buku AutoCAD, MasterCAM, dan Siemens NX. Silakan klik di sini untuk melihat dan memesan buku yang pernah saya tulis (selama stok masih ada).

Jika perusahaan Anda (minimal; 3 orang peserta) membutuhkan penawaran pelatihan AutoCAD, ArtCAM, MasterCAM, termasuk pengoperasian mesin CNC, silakan tinggalkan pesan di kotak komentar atau langsung WA 08989495756.

 

Buku NX CAD – Pembuatan Model 3D dalam NX11

…Sepatah kata…

Nah, ini adalah buku NX saya yang kedua. Temanya tentang Pembuatan Model 3D dalam NX11. Harus saya akui, software ini benar2 canggih. Proses mendesain obyek2 3D menjadi terasa sangat mudah! Sekali lagi, terima kasih kepada Siemens PLM yang telah menghibahkan software NX ke Prodi Teknik Industri STTS, tempat di mana saya mengajar.  Semoga buku ini bermanfaat bagi perkembangan teknologi Indonesia.

Terima kasih,
Tigor Tambunan

DETAIL
Judul: NX CAD – Pembuatan Model 3D dalam NX11

ISBN: 978-602-417-131-5
Kategori: CAD/ CAM (design, engineering/ teknik)
Ukuran: 17cmx25cm
Hal: vi + 206 hal
Edisi, cetakan: 1/1 (plastic wrapped)
Bahasa: Indonesia
Harga (per 15 Mei 2018): Rp 180.000 (tidak termasuk ongkos kirim).

SINOPSIS
Fasilitas pembuatan model 3D dalam NX11 memang sangat lengkap. Pengguna NX11 akan merasakan fleksibilitas perintah-perintah NX11 yang sangat tinggi untuk membuat maupun memodifikasi obyek-obyek 3D, mulai dari yang sangat sederhana hingga cukup kompleks.

Fasilitas yang dimaksud antara lain:

  • Pengantar NX11
  • Pembuatan Obyek-Obyek Solid (3D), terdiri dari sekitar 24 perintah, mulai dari pembuatan obyek-obyek dasar 3D (seperti Box, Cylinder, Sphere, Extrude, dll), perintah modifikasi (seperti chamfer, unite, fillet, trim body, shell, split body,dll)
  • Pembuatan Surface, terdiri dari sekitar 7 perintah seperti four point surface, face blend, swoop, dsb.
  • Synchronous Modelling, terdiri dari sekitar 5 perintah seperti move face, pull face, dsb

Ingin menang dalam persaingan di era Revolusi Industri 4.0 ini , kuasailah teknologi yang benar-benar berkelas tinggi. NX11 adalah salah satunya.

Berminat menguasai NX11 lewat buku ini?
Untuk pembelian, silakan WA atau Telp ke: 08989495756 (maaf, tdk menerima SMS) atau kirim email ke: STB_Tambunan@yahoo.com

Buku NX CAD – Perintah-Perintah NX11 Dalam Sistem Operasi 2D

…Sepatah kata…

Yup, akhirnya selesai juga proses penulisan buku NX saya yang pertama ini. Tidak seperti buku-buku sebelumnya, proses penulisan buku kali ini cukup panjang karena banyaknya kesibukan yang harus saya kerjakan di saat bersamaan. Terima kasih kepada Siemens PLM yang telah menghibahkan software NX ke Prodi Teknik Industri STTS, tempat di mana saya mengajar. Sebuah kehormatan besar, saya diberi kesempatan untuk mempelajari software tersebut dan menuangkannya ke dalam buku. Semoga buku ini bermanfaat bagi perkembangan teknologi Indonesia.

Terima kasih,
Tigor Tambunan

DETAIL
Judul: NX CAD – Perintah-Perintah  NX11 Dalam Sistem Operasi 2D

ISBN: 978-602-417-132-2
Kategori: CAD/ CAM (design, engineering/ teknik)
Ukuran: 17cmx25cm
Hal: vi + 140 hal
Edisi, cetakan: 1/1 (plastic wrapped)
Bahasa: Indonesia
Harga (per 15 Mei 2018): Rp 140.000 (tidak termasuk ongkos kirim).

SINOPSIS
NX11 adalah salah satu perangkat lunak CAD/ CAM tercanggih di dunia. Segudang fasilitas digital yang saling terintegrasi dengan fleksibilitas yang sangat tinggi tersedia dalam NX11. Mengingat fasilitas NX demikian banyak, buku ini akan membahas salah satu fasilitas dasar dalam perangkat lunak Siemens NX (buku ini mengacu pada Siemens NX 11), yaitu perintah-perintah Siemens NX 11 dalam system operasi 2 dimensi (2D).

Fasilitas yang dimaksud antara lain:

  • Pengantar NX11
  • Perintah-perintah File (termasuk export/ import file)
  • Perintah-perintah View
  • Datum CSYS dan Datum Plane
  • Membuat Sketsa 2D menggunakan 24 perintah utama dalam NX (Point, Line, Circle, Polygon, Helix, Delete, Move, Trim, Geometric Constraint, Rapid Dimension, dll)

Dengan mempelajari buku ini, berarti Anda sedang dalam proses meningkatkan kapabilitas CAD/ CAM berkali-kali lipat dan siap memasuki pasar teknologi yang jauh lebih maju.

Berminat? Silakan WA atau Telp ke: 08989495756 (maaf, tdk menerima SMS) atau kirim email ke: STB_Tambunan@yahoo.com

Kejujuran dan Kamar Kecil

..dari dlm bilik kamar kecil, aku mendengar percakapan cukup ramai di sisi luar…
A: Nilai UTS …. (sambil menyebut nama sebuah mata kuliah) mu kemarin berapa?
B: Aku dpt 70…. ~jelas sekali terdengar nada gembira dari si B~
A: Masak? Nggak mungkin!
B: Beneran. Tanya si C.
C: Iya, dia dapat 70. Keren tuh….
A: Koq bisa?!
B: Soalnya aku nyontek..Hahahaha…


pintu kamar mandi kubuka, ekor mataku jelas menangkap raut wajah penuh kekagetan dari wajah B dan C…. wkwkwkwk…. ternyata aku kenal mereka….

Dengan santai, aku pun berjalan menuju kelas… Baru beberapa langkah keluar dari ruangan itu, aku sengaja berhenti. Terdengar ada percakapan lanjutan di antara mereka…
B: Aseeeeeem! Itu tadi dosenku yg ngajar mata kuliah yg kamu tanyakan…
A: Seriuuuuus???
B: iya…. aseeeemmmmm… (sengaja diperhalus)

#KamarKecil
#Kejujuran

(Fiksi) Hutang Si Tukang Ojek

Di sebuah desa, seorang pria “kreatif” korban PHK, hutang ke tetangganya untuk beli motor. Motornya dipakai ngojek. Penghasilannya dipakai utk bayar bensin, perawatan, dan cicilan hutang (termasuk bunga).

Karena si tetangga juga punya anak yg perlu antar jemput sekolah, si tukang ojek diminta antar jemput anaknya. Bayarkah? Sudah pasti, tapi caranya beda. Biaya antar jemput dipotong langsung dari biaya cicilan hutang si tukang ojek jadi “lebih kecil jumlah angsurannya”.

Saat melakukan kegiatan rutinnya, si tukang ojek melihat peluang lain, yaitu buka jasa SPBU mini. Dia nego ke tetangganya kembali agar mau meminjamkan uangnya. Melihat peluangnya lumayan, sang tetangga pun setuju. Apalagi dengan adanya SPBU mini itu, dia sendiri tidak perlu jauh-jauh ke tengah kota utk isi bensin. Kemungkinan pemasukan yang cukup besar ditambah kemudahan yang dirasakan si pemilik modal, membuat si tukang ojek memiliki “cara yang cukup mudah untuk mengangsur kewajibannya”.

Beberapa waktu kemudian, sang tetangga yang kebetulan punya banyak uang, kali ini justru datang ke si “tukang ojek” untuk menawarkan pinjaman investasi dengan bunga ringan. Kenapa? Dia lebih yakin “meminjamkan uangnya” ke si tukang obyek yang terbukti kreatif dan produktif, dibanding jauh-jauh menyimpan uang di bank. Selain penuh aturan, bunganya kecil.

Sang “tukang ojek” pun setuju, Dan usaha yang akan dilakukan adalah bisnis pupuk karena bisnis utama si pemilik uang adalah petani besar dan pedagang hasil pertanian. Apalagi, daerah mereka pada dasarnya adalah daerah pertanian. Jadi potensinya masih sangat besar. Tapi ada syarat tambahan yang diajukan oleh si tukang ojek. Sang tetangga harus selalu membeli pupuk dari si tukang ojek. Sang tetangga pun setuju. Dengan cara ini, si tukang ojek jadi “lebih mudah mengelola resiko bisnisnya.”

Apakah “kehidupan” sang tukang ojek sudah beres begitu saja? Ternyata tidak. Desa tempat tinggal mereka penuh gosip. Rasa iri terhadap kesuksesan si tukang ojek membuat beberapa orang yang sirik menebar gosip bahwa si tukang ojek punya hutang besar di mana-mana. Dan jumlahnya sangat besar! Apapun istilahnya, bagi mereka, hutang adalah hutang. Dan hutang identik dengan penderitaan! Si tukang ojek akan menderita seumur hidupnya karena tidak akan pernah mampu membayar hutangnya!. Padahal, para tukang gosip itu adalah pengguna jasa ojek, pembeli bensin, dan pupuk dari tempat si tukang ojek. Ya begitulah manusia. Unik dan menarik…. hehehehe….

Sebenarnya si tukang ojek ingin berbagi ilmu ke tetangga-tetangga yang sirik itu bagaimana cara mengembangkan bisnis seperti yang dijalaninya. Tapi dia mikir juga, orang yang dengki apa mau mendengar omongannya? Orang kalau sudah iri, rasionalitasnya kemungkinan sudah terdegradasi oleh emosi tak terkendali.

Apa yang akhirnya dilakukan si tukang ojek? Si tukang ojek tidak peduli. Dia terus menjalankan, bahkan terus mengembangkan bisnisnya. Meski berhasil dan terkenal di mana-mana, si tukang ojek tetap rendah hati dan memperkenalkan dirinya sebagai tukang ojek.

Oiya, hampir lupa. Kalau dulu hanya tetangganya yang baik itu yang meminjamkan modal, sekarang bahkan “beberapa tukang gosip” yang kebetulan juga punya duit, ikut-ikut menawarkan pinjaman, tapi lewat pihak ketiga….. wkwkwkwk

Terakhir,…jangan lupa, tulisan ini hanyalah sebuah fiksi.