Perhitungan Upah Lembur

Lembur atau melakukan pekerjaan melebihi waktu kerja standar harian (7 atau 8 jam) hanya diijinkan secara hukum jika kondisinya sesuai dengan UU Ketenagakerjaan No. 13/ 2003 ps. 78 yang isinya adalah sbb:

(1) Pengusaha yang mempekerjakan pekerja/buruh melebihi waktu kerja sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 77 ayat (2) harus memenuhi syarat:
a. ada persetujuan pekerja/buruh yang bersangkutan; dan
b. waktu kerja lembur hanya dapat dilakukan paling banyak 3 (tiga) jam dalam 1 (satu) hari dan 14 (empat belas) jam dalam 1 (satu) minggu.

(2) Pengusaha yang mempekerjakan pekerja/buruh melebihi waktu kerja sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) wajib membayar upah kerja lembur.

(3) Ketentuan waktu kerja lembur sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b tidak berlaku bagi sektor usaha atau pekerjaan tertentu.

(4) Ketentuan mengenai waktu kerja lembur dan upah kerja lembur sebagaimana
dimaksud pada ayat (2) dan ayat (3) diatur dengan Keputusan Menteri


Dan acuan/ dasar hukum perhitungan upah lembur
di Indonesia adalah Keputusan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Republik Indonesia No. Kep: 102/MEN/VI/2004.

Bbrp pasal yang perlu mendapat perhatian khusus menyangkut perhitungan adalah:

Pasal. 8
(1) Perhitungan upah lembur didasarkan pada upah bulanan.
(2) Cara menghitung upah sejam adalah 1/173 kali upah sebulan.

Catatan:
Angka 173 berasal dari perhitungan sebagai berikut:
– Satu tahun (12 bulan) masa kerja terdiri dari 52 minggu, artinya: setiap bulan terdiri dari 4.33 minggu (52 minggu/12 bulan=4.33 minggu/ bulan).
– Satu minggu masa kerja terdiri dari 40 jam (40 jam/ minggu), sehingga dalam satu bulan, seorang pekerja akan bekerja selama 4.33 minggu/bulan x 40 jam/ minggu = 173.33 jam (dan dibulatkan menjadi 173 jam/ bulan).
– Sehingga, jika dalam satu bulan seorang pekerja menerima upah bulanan sebesar (misal) Rp 1.730.000), berarti upah per jamnya adalah Rp 1.730.000/173= Rp 10.000,-

Pasal 9
(1) Dalam hal upah pekerja/buruh dibayar secara harian, maka penghitungan besarnya upah sebulan adalah upah sehari dikalikan 25 (dua puluh lima) bagi pekerja/buruh yang bekerja 6 (enam) hari kerja dalam 1 (satu) minggu atau dikalikan 21
(dua puluh satu) bagi pekerja/buruh yang bekerja 5 (lima) hari kerja dalam 1 (satu) minggu.
(2) Dalam hal upah pekerja/buruh dibayar berdasarkan satuan hasil, maka upah sebulan adalah upah rata-rata 12 (dua belas) bulan terakhir.
(3) Dalam hal pekerja/buruh bekerja kurang dari 12 (dua belas) bulan sebagaimana dimaksud dalam ayat (2), maka upah sebulan dihitung berdasarkan upah rata-rata selama bekerja dengan ketentuan tidak boleh lebih rendah dari upah dari upah minimum setempat.

Pasal 10
(1) Dalam hal upah terdiri dari upah pokok dan tunjangan tetap maka dasar perhitungan upah lembur adalah 100 % (seratus perseratus) dari upah.
(2) Dalam hal upah terdiri dari upah pokok, tunjangan tetap dan tunjangan tidak tetap, apabila upah pokok tambah tunjangan tetap lebih kecil dari 75 % (tujuh puluh lima perseratus) keseluruhan upah, maka dasar perhitungan upah lembur 75 % (tujuh puluh lima perseratus) dari keseluruhan upah.

Pasal 11
Cara perhitungan upah kerja lembur sebagai berikut :
a. Apabila kerja lembur dilakukan pada hari kerja :
a.1. untuk jam kerja lembur pertama harus dibayar upah sebesar 1,5 (satu setengah) kali upah sejam;
a.2. untuk setiap jam kerja lembur berikutnya harus dibayar upah sebesar 2(dua) kali upah sejam.

b. Apabila kerja lembur dilakukan pada hari istirahat mingguan dan/atau hari libur resmi untuk waktu kerja 6 (enam) hari kerja 40 (empat puluh) jam seminggu maka :
b.1. perhitungan upah kerja lembur untuk 7 (tujuh) jam pertama dibayar 2 (dua) kali upah sejam, dan jam kedelapan dibayar 3 (tiga) kali upah sejam dan jam lembur kesembilan dan kesepuluh dibayar 4 (empat) kali upah sejam.
b.2. apabila hari libur resmi jatuh pada hari kerja terpendek perhitungan upah lembur 5 (lima) jam pertama dibayar 2 (dua)
kali upah sejam, jam keenam 3(tiga) kali upah sejam dan jam lembur ketujuh dan kedelapan 4 (empat) kali upah sejam.

c. Apabila kerja lembur dilakukan pada hari istirahat mingguan dan/atau hari libur resmi untuk waktu kerja 5 (lima) hari kerja dan 40 (empat puluh) jam seminggu, maka perhitungan upah kerja lembur untuk 8 (delapan) jam pertama dibayar 2 (dua)
kali upah sejam, jam kesembilan dibayar 3(tiga) kali upah sejam dan jam kesepuluh dan kesebelas 4 (empat) kali upah sejam.

Contoh:
Suatu saat, seorang pekerja dengan upah Rp 1.730.000/ bulan, bekerja lembur di hari kerja biasa sejak pukul 17.00-19.00. Maka upah lembur (minimal) sesuai peraturan menteri yang seharusnya diterima oleh pekerja tersebut adalah:

Upah lembur (17.00-18.00) = 1/173xRp 1.730.000 x 1 jam x 1.5 = Rp 15.000,-
Upah lembur (18.00-19.00) = 1/173xRp 1.730.000 x 1 jam x 2 = Rp 20.000,-
Jumlah upah lembur= Rp 15.000 + Rp 20.000,- = Rp 35.000,-

Semoga bermanfaat!

 

 

 

Advertisements

ArtCAM – Rotary Machining

These objects created with ArtCAM and prepared for rotary machining (CNC). Interesting, isn’t it? Do you realize, this is not about CNC machine or product design merely. This is about knowledge that enable you to sustain your business in the longrun.

Can you find any strategic values in your design and machining/ operation capabilities? Do you need these to develop your competitive advantage? Do you want to develop your company strategic competitiveness through your knowledge and technology management?

For these purposes, contact me:
WA: 08989495756

 

 

MasterCAM X6 – Work with STL File

  • Create your 3D Objects (I made it with AutoCAD)
  • Save it into STL
  • Open it with MasterCAM X6

  • Define the material (stock setup)

  • Determine the type of toolpath, endmill, and other cutting parameters

  • Verify it (Simulation)

  • Generate the G-Code
  • Prepare your material and CNC Machine
  • Machine it!

My Book:

 

 

 

 

 

 

 

 

For CAD/ CAM Training (AutoCAD, MasterCAM, ArtCAM, & CNC) (Corporate only), contact me:
email: TigorTambunan@gmail.com
Ph/ WA: +628989495756

ArtCAM – Work With STL file

  • Create your 3D objects (I made it with AutoCAD).

  • Save as STL
  • Use ArtCAM to open it

  • Develop your model

  • Define the toolpaths. Check your tools and material thickness.

  • Generate the G-code.

  • Prepare your material and CNC Machine.
  • Machine it!

For CAD/ CAM Training (AutoCAD, MasterCAM, ArtCAM, & CNC) (Corporate only), contact me:
email: TigorTambunan@gmail.com
Ph/ WA: +628989495756

Makna Pasangan Hidup yang Seiman (telaah Kekristenan)

Tahap-tahap pertumbuhan keimanan (sbg salah satu acuan memahami konsep pasangan hidup yg “seiman”)

Tahap 1. Undifferentiated stage
Terjadi pd org yg ke gereja, tapi tanpa tujuan yg jelas, tdk tahu mau ngapain di gereja. Waktu di gereja kerjaannya main hp melulu, ngobrol, ngelamun. Waktu nyanyi tdk ikut nyanyi, waktu berdoa tdk ikut berdoa. Bolak balik lihat jam.

Tahap 2. Intuitive-projective stage
Di tahap ini, org mulai senang ke gereja, tapi tujuan utamanya adalah ketemu teman2, janjian nanti entah ke mana pulang dari gereja, cari pacar, bisa juga ngarepin snack gratis.

Tahap 3. Mythic-literal Faith
Mulai serius mengikuti kebaktian. Bisa cerita apa yg dikotbahkan pendeta. Tapi ya begitu saja, sekedar copy-paste. Semua yg diomongkan pendetanya dianggap benar. Niat mencari kebenaran yg hakiki blm ada. Tapi mulai ngeyelan urusan rohani, pdhl yg diomongkan adalah omongan orang lain.

Tahap 4. Individuative-reflective Faith
Mulai serius urusan rohani. Rajin berdoa, pelayanan, bahkan puasa. Tapi tujuannya adalah minta dan minta terus ke Tuhan. Bukan kehendak Tuhan yg dicari, tapi kehendak sendiri yg diharapkan terpenuhi.

Tahap 5. Conjunctive Faith
Mulai memikirkan orang lain dalam setiap aktifitas spiritualitasnya. Ya, lumayanlah. Walaupun kadang2 masih lebih banyak dlm bentuk pemikiran dan doa daripada tindakan nyata.
Mulai mau mendengar pandangan orang lain sebagai pengayaan keyakinan. Beda pendapat tdk jadi alasan utk beda rumah makan utk makan siang.

Tahap 6: Universalizing Faith
Tindakan nyata sbg refleksi kualitas hubungan dengan Tuhan makin nyata dlm keseharian. Memberi dan melayani adalah sebuah kebiasaan dan ketulusan.

Nah, makna pasangan hidup yg seiman makin jelas bukan? Arti seiman bukan lagi sekedar tentang sama-sama ke gereja atau ke gereja yang sama. Jauh lebih dalam! Ada faktor perkembangan keimanannya yang perlu diperhatikan kesamaan perkembangan dan tingkatannya.

Semoga dengan memahami perkembangan keimanan dalam tulisan ini, para pencari pasangan bisa menimbang lebih dalam sebelum membuat keputusan, yang sudah berpasangan berusaha untuk berada pada stage/ tahap keimanan yang lebih tinggi.

Selamat hari Minggu,
Berkah Dalem.

*Hasil parafrase tulisan James W Fowler dlm khotbah Pdt Yakobus Susabda di GKI Manyar, Surabaya, pada hari Minggu, 10 September 2017, 09.30-12.00.

ArtCAM – Simple Art

Dari gambar 2D (bitmap) hingga menjadi ukiran kayu jati 3D…. From bitmap to 3D teakwood relief…

For corporate training (only) on AutoCAD, ArtCAM, MasterCAM, CNC:
Contact:
Tigor Tambunan
Ph/ WA: 08989495756
Email: STB_Tambunan@yahoo.com/ TigorTambunan@gmail.com