ArtCAM – Simple Art

Dari gambar 2D (bitmap) hingga menjadi ukiran kayu jati 3D…. From bitmap to 3D teakwood relief…

For corporate training (only) on AutoCAD, ArtCAM, MasterCAM, CNC:
Contact:
Tigor Tambunan
Ph/ WA: 08989495756
Email: STB_Tambunan@yahoo.com/ TigorTambunan@gmail.com

 

ArtCAM – Simple Art

  1. Buat pola awal (vektor)
  2. Rotate sambil dicopy
  3. Buat reliefnya (Shaping)
  4. Buat Lingkaran
  5. Modifikasi reliefnya (Shaping-merge high)
  6. Buat 3D toolpathnya…
  7. Siapkan mesin CNC Anda…. 😉

For Corporate Training, contact me at 08989495756 (phone or WhatsApp) or email me at STB_Tambunan@yahoo.com

Belajar Berjanji

Waktu itu perkuliahan baru saja dimulai.
Seseorang mengetuk pintu. Saya menuju pintu dan membukanya.
“Pagi, Pak Tigor,”
“Pagi, Billy. Ayo masuk. Kuliah baru mulai, ” saya mempersilakan dia masuk.
“Maaf, Pak. Saya tdk kuliah hari ini. Saya ijin karena ada tugas organisasi, “katanya sambil menyebut salah satu kegiatan organisasi kampus.
“Hari ini materinya sangat penting. Ayo kuliah dulu,”
“Wah, bgm ya, Pak. Saya sdh terlanjur janji dgn kawan2 organisasi saya. Masa tdk boleh, Pak?”
Materi kuliah saya hari ini adalah materi utama. Tapi memakainya sbg dasar berargumentasi sdh saya buktikan makin tdk efektif bbrp tahun belakangan. Harus pakai alasan lain. Alasan yg lebih emosional tapi harus sangat logis.
“Kapan kamu janji ke kawan-kawanmu? ”
“Kemarin, Pak. Waktu kami rapat.”
“Ya, sdh. Terserah kamu dan kawan-kawanmu. Kalau kalian pikir janji yg kalian buat kemarin lebih penting dari janji kalian terhadap orangtua kalian dan diri sendiri utk belajar dgn tekun di awal kuliah di sini, silakan lakukan kegiatan organisasi kalian.”
“Yaaaaah, koq gitu, Pak. Sekali iniiii saja, Pak Tigor.”
“Lho? Saya kan tdk melarang. Lagipula kalian kan mmg punya jatah utk absen 25% dari total kehadiran… ” kata saya sambil tersenyum.
“Sdh, ya. Saya harus mengajar, kawan2mu menunggu.”
Kuliah saya lanjutkan.



Sekitar 15 menit kemudian, pintu diketuk lagi.
Bayang2 tinggi badan dan model rambut di balik kaca buram pintu kelas cukup jelas bagi saya utk mengira-ngira siapa yg datang.
“Masuk, Billy” pinta saya sambil menulis di papan.
Dia masuk kelas dengan wajah ditekuk.
Wkwkwk… Saya mencoba membayangkan apa yg sdh tjd di antara mereka.
Rasa2nya baru saja terjadi perdebatan keras di antara Billy dan kawan2 organisasinya.
Efektifkah perkuliahan saya buat Billy hari ini? Saya tdk yakin. Tapi saya yakin, Billy sdh belajar hal penting yg jauh lebih penting dari perkuliahan saya. Itu yg saya sebut self learning.

Berenang di Kolam Dalam

Manusia dewasa normal yg tidak bisa berenang tidak akan pernah memasuki bagian kolam renang yang dalam.Yang dimaksud normal di sini adalah isi kepalanya.
Kalau nekat, bahaya mati tenggelam terbuka lebar di depan mata.
Aman2 saja sih sebenarnya kalau manusia dewasa tadi pakai ban pelampung. Tapi apa kata dunia?

Kalau tidak bisa berenang sama sekali, kadang lebih baik tidak masuk kolam sekalian…terus selfie dengan latar belakang kolam jadi background, lanjut apde status di medsos, “Badan lagi not delicious nih… batal deh pakai gaya bebas 1000m…”

Beda dgn anak kecil yg tidak bisa berenang. Begitu dia merasakan enaknya air kolam renang pakai ban pelampung, dia tidak akan ragu memasuki setiap area kolam renang. Nekat? Sama sekali tidak. Anak kecil ini tidak tahu apa itu dangkal atau dalam… Dan dia juga juga tdk tahu apa itu tenggelam… Apa lagi mati tenggelam!

Beda lagi kalau bisa renang, apalagi jagoan. Nggak manusia dewasa, nggak anak kecil, justru akan jadi pertanyaan kenapa hanya berendam dan tdk berenang saat ada di kolam renang.

Berenang beda dengan sekedar berendam di kolam renang. Berenang urusannya dgn bisa atau tidak bisa, bukan dewasa atau anak-anak.

Masuk ke kolam yg dalam bagi yg tdk bisa renang urusannya dgn tdk tahu malu atau tdk tahu resiko.

Cermin…

img_20170214_230858“Pak,  bagaimana kalau cermin ini aku keluarkan dari kamar?” usul seorang anak gadis kepada bapaknya.

“Kenapa begitu,  anakku yang cantik? ” tanya si bapak.

“Ah…  Bapak membuatku makin membenci cermin ini.  Aku tidak cantik seperti yang Bapak bilang. Cermin ini menunjukkannya tiap hari. Aku sangat gemuk,  Pak.  Dan itu sangat buruk…!!!”

“Hehehe… Coba dengar dan pikirkan dgn tenang kata2 Bapakmu ini,  Putri cantikku. Apakah setelah cermin ini kita singkirkan, masalahmu selesai? “tanya si Bapak.

“Paling tdk aku lebih tenang,  Pak, ” sanggah si anak.

“Blm selesai Bapak bicara,  sdh kamu potong. Tdk boleh begitu anakku. Coba dengar baik2…” kata si Bapak.

“Kamu sdh besar.  Kamu pasti tahu bagaimana menyelesaikan masalahmu.  Membuang cermin sama artinya dgn membohongi diri. Kamu mencoba lari dari masalah, bukan mencoba menghadapi dan menyelesaikannya. Cermin di kamarmu bisa saja kita buang. Bgm dgn cermin di ruangan lain? Di kampusmu?  Di tempat2 lain yg kamu kunjungi?  Masak harus disingkirkan semua? ” kata Bapaknya sambil tersenyum,  sedikit menggoda.

Kali ini si anak tidak protes,  tapi jelas masih ada kegalauan di wajahnya.

“Nak,  jangan jadikan cermin sbg musuh.  Jadikan dia teman yg akan selalu menemanimu.  Dia akan menunjukkan apakah kau sdh berusaha  cukup keras utk jadi cantik spt yang kamu harapkan. Cermin adalah teman yang sangat jujur.  Menyingkirkan cermin, berarti menyingkirkan apa hayoooo??” tanya si Bapak.

“….menyingkirkan teman yang jujur ya,  Pak?” jawabnya lirih.

“Sipl! Itu baru jawaban yang benar dan cantik… ”

 

 

 

 

Jangan mau dibohongi pakai tulisan saya….

sateSuatu hari saya menulis kalimat penutup kuliah di papan tulis begini, “Kalau tidak punya uang, jangan makan sate kambing.”

Menjelang kelas berakhir, beberapa mahasiswa saya lihat memotret tulisan saya pakai kamera hp nya.



Beberapa hari kemudian, saya didatangi salah satu mahasiswa yang absen saat saya membuat tulisan terdahulu, “Pak, apa benar kalau tidak punya uang, saya tidak boleh makan sate kambing?” tanyanya sambil menunjukkan foto tulisan saya di hp pintarnya

Saya pun tertawa, “Kamu jangan mau dibohongi pakai tulisan saya….”
“Tapi tulisan Bapak kan begitu?” tanyanya lagi, “Berarti tulisan Bapak bohong, dong?”
“Eitss…jangan ngomong sembarangan, kalau tulisan saya bohong, berarti saya sebagai penulisnya bohong, dong?”
“Tapi tadi Bapak bilang begitu, kan?” katanya.
“Dengar kalimat saya sekali lagi. Kamu jangan mau dibohongi pakai tulisan saya. Kawanmu yang bohong. Dia pakai tulisan saya untuk membohongimu. Tulisan yang kamu baca di hp itu, ada penjelasan sebelumnya. Salah satunya begini, kalau nanti atau suatu saat kamu sudah kerja. Terus di akhir bulan uangmu habis, ya jangan maksa beli sate kambing. Jangan boros! Tidak perlu belagak punya duit. Tapi kalau waktu kamu tidak punya uang, ada yang ngasih sate kambing. Ya makan aja…. wkwkwk”
“Oooo…. begitu ya, Pak…”
“Makanya rajin kuliah. Jangan cuma belajar fotocopy-an, apalagi lewat medsos…”