Manusia Dewasa

Mahasiswa (M): Pak, ngapain sih kami di-“absen”? Kami kan sdh dewasa. Urusan kami kan bukan hanya perkuliahan.

Dosen (D):Ok, mulai minggu depan, kalian tidak lagi saya absen.

Masa Ujian Akhir Semester (UAS) pun tiba… Si M datang dgn wajah sangat kusut seperti kain belum diseterika…

M: Pak, koq saya tdk diberitahu kalau absen saya sudah kebanyakan. Saya jadi tidak diijinkan ikut UAS mata kuliah Bapak. 😦

D:Lhoooo…. kamu kan sudah dewasa. Masak urusan absen saja harus saya beritahu. Lagipula, kesibukanmu kan sangat banyak  🙂

M: Walaaah, Bapak mempermainkan omongan saya waktu itu … 😦 ~wajahnya makin lecek~

D:Saya tdk suka main2, dek. Saya kan manusia dewasa, sama seperti adik 🙂

M: ^^$%^&$*!$#@@$& … ~mencabik-cabik wajahnya sambil mengucapkan mantra pakai bahasa Planet Pluto~

(lagi)… Nama Bapak siapa?

 

Di suatu siang, saat aku sendirian di ruang kerjaku.

“Selamat siang, Pak.”
Dua orang mahasiswi memasuki ruang kerjaku.
“Pak, kami mau membagi undangan kegiatan kampus ke dosen-dosen di ruangan ini,” kata salah satu dari mereka.
“Silakan,” jawabku.
Pekerjaanku di depan komputer pun berlanjut.



Sempat tertangkap dari ekor mataku, mereka seperti kebingungan.
“Maaf, Pak. Bisa mengganggu sebentar?”
“Iya?” pekerjaanku kuhentikan.
“Pak, di ruangan ini ada berapa dosen, ya?”
“Ada sembilan orang. Kalian bawa daftar namanya?” tanyaku.
“Di undangan ada namanya. Tapi kami tidak tahu siapa yang di ruangan ini, Pak.“ jawabnya sambil tersenyum kecut.
“Kalian mahasiswa baru, ya?”
“Iya, Pak.”
“Ok. Saya bantu. Depan saya adalah meja Bapak…., sebelah kanan saya Ibu …,” satu per satu aku beritahu siapa yang duduk di ruanganku.
Sambil kutunjuk, mereka meletakkan undangan ke tiap meja sesuai dengan nama yang tertera di undangan.

Tidak sampai dua menit, delapan undangan sudah terbagi…..
“Sudah, ya, “ kataku. Akupun kembali ke kesibukanku.
“Baik, Pak. Terima kasih atas bantuannya.”

Beberapa saat, aku baru sadar kalau mereka belum meninggalkan ruangan.
Kulihat mereka saling pandang. Kelihatan sekali kalau mata mereka sedang berkomunikasi…. via batin…. hehehe



“Maaf, Pak..,” salah satu dari mereka memberanikan diri bertanya.
“Nama Bapak siapa, ya? Bapak kan belum dapat undangan.”
Huahaha…. Aku juga baru sadar kalau mereka tidak memberiku undangan.
“Nama saya Tigor”
“Oooo… sebentar ya, Pak. Kami carikan undangannya,”
“Ok.”

Kulihat mereka membolak-balik amplop undangan yang tersisa sampai berkali-kali. Dan  tak kunjung menemukan undangan atas namaku.
“Pak Tigor, maaf. Sepertinya tadi undangan untuk Bapak terselip entah di mana. Nanti kami print ulang ya, Pak.”
“Tidak perlu. Saya sudah tahu acara kalian.”
“Nggak, Pak. Sebentar lagi kami kirim. Bapak harus dapat undangannya. Permisi, Pak, “ kata mereka.sambil cepat-cepat meninggalkan ruanganku.

Wkwkwk… kalau kawan-kawan seruanganku tahu pasti mereka ketawa sambil berkomentar, “Pak Tigor sudah tidak diakui keberadaannya di kampus ini…”



Lima menit kemudian….
“Permisi, Pak.”
“Iya?” Kulihat dua orang mahasiswi tadi datang kembali ke ruanganku.
“Pak, nama Bapak STB Tambunan, ya?” kulihat wajah setengah kesal tapi lucu tergambar di wajah mereka.
Hahaha…. baru ngeh aku apa penyebab kebingungan mereka tadi.
“Benar. Nama panggilan saya Pak Tigor atau Pak Tambunan,” jawabku sambil tertawa lebar.
“Yahhhhh, Bapak. Nggak ngomong dari tadi. Undangan buat Bapak tadi sudah ada.”
“Ya, sdh. Saya minta maaf. Saya kan tidak tahu bagaimana kalian menulis nama saya di undangan “
Aku yakin mereka sempat ditegur panitia yang lebih senior.
“Hehehe…. Ok deh, Pak. Ini undangan buat Bapak. Bapak datang, ya”

 

 

Kata siapa gaji dosen kecil???!!!!

teacher“Pak T, jadi dosen itu enak, ya?” tanya seorang mahasiswaku dalam sebuah obrolan siang.
“Kenapa kamu berpikir begitu?” tanyaku.

“Berarti nggak enak, dong???”  pertanyaannya sedikit menggoda

FYI, si mahasiswa yang tanya ini IPK nya lumayan tinggi. Di atas 3.5.

Dari informasi yang beredar di kampustainmen, anak ini ingin jadi dosen kalau lulus. Ruaaarrr biazzza!!!

Sebuah cita-cita yang sangat mulia…. 😀

“Wah, koq kesimpulanmu begitu?”

“Saya lihat Pak T sering senyum-senyum….”

Hmmm…. Kurang ajar juga ini bocah! Jangan2 dia mau ngomong kalau aku ada gila2nya sedikit, tapi pakai istilah yang diperhalus….hehehe….

“Masak iya, sih?’ Terus apa hubungannya dengan enak tidaknya profesi dosen?”

“Ya adalah, Pak. Itu kan artinya Pak T menikmati pekerjaan ini…”

“Oooo…begitu,ya?”  komentarku singkat.

“Aneh sih sebenarnya, Pak. Koq bisa orang menikmati pekerjaan seorang dosen. Padahal gajinya kecil….” sambungnya.

“KATA SIAPA GAJI DOSEN KECIL???!!!!!” harga diriku “pura-pura” tersentak…. 😀

“Kata Pak Dosen baru yang masih muda itu, Pak…” jawabnya kalem sambil menyebut nama salah satu dosen yang baru saja bekerja satu semester di kampusku.
“Oooo….dia… Kalau itu dia yang salah…” jelasku santai….

“Maksud Pak T dia berbohong?”

“Bukan berbohong. Maksud saya,… salah dia sendiri kenapa gajinya diambil tiap bulan. Coba diambil setahun sekali, pasti gajinya lumayan besar….”  kujawab dia pakai joke yang sering dilontarkan sesama rekan dosen…. 😀

“Ooo…. Saya tahu maksud Pak T. Berarti kalau jadi dosen sebenarnya tidak perlu mengandalkan hidup pada gajinya.  Seorang dosen adalah orang yang sudah tidak punya ketergantungan masalah finansial lagi ya, Pak… :D”

“Hahahaha….ngledek kamu, ya,” aku pun tertawa. Menertawakan diriku sendiri …. 😉

 

Pak Tigor, kenal Pak Tambunan?

STBT6Setiap kali mengenalkan diri di kelas, aku biasa menyebut sambil menuliskan namaku di papan tulis. Tigor Tambunan, lengkap seperti itu kutulis.

“Memanggil Bapak enaknya gimana, Pak?” hehehe…aku maklum banget dengan pertanyaan seperti ini. Namaku masih cukup aneh bagi kuping sebagian mahasiswaku yang berasal dari Jawa, khususnya Jawa Timur.

“Terserah kalian. Orang Batak kalau sudah menikah, apalagi sudah punya anak, biasa dipanggil dengan marganya. Jadi kalian bisa panggil saya dengan Pak Tambunan.”

“Kalau Pak Tigor boleh apa tidak, Pak?”

“Terserah kalian sajalah,” jawabku sambil tersenyum.

Yah begitulah. Setidaknya ada dua nama resmi panggilanku di kampus. Tapi yang paling biasa didengar adalah “Pak Tigor”. Yang memanggil “Pak Tambunan” hanya hitungan jari.

Resmi? Hahaha…berarti ada yang tidak resmi? Ya iyalah. Gelar dan sebutan-sebutan “sayang” untuk dosen sudah bukan barang aneh di kehidupan kampus.

Secara tidak sengaja, beberapa kali aku mendengar mahasiswa menyebut namaku dengan istilah “Mr. T” (mister ti), “Pak T”, “Papa T-Bob”…Itu yang aku tahu. Aku yakin masih ada lagi gelar atau “nama-nama kesayangan” yang beredar khusus di tengah-tengah mahasiswa yang pasti tidak (atau belum) aku ketahui…. 😀

***

Hari ini, sekitar jam 13.00 siang -setelah jam istirahat- iseng-iseng aku mampir ke ruang komputer dosen untuk sebuah keperluan. Waktu kubuka pintu, kulihat hanya ada satu orang rekan dosen, siapa lagi kalau bukan sang penunggu ruangan.

Setelah berbasa-basi beberapa detik dengan sang penunggu..:D…, aku langsung menuju ke salah satu komputer yang kebetulan paling dekat dengan pintu masuk.

Selang beberapa saat, kulihat pintu ruangan terbuka. Sebutir kelapa…ehhh…maksudku kepala mahasiswa, muncul dari sela-sela pintu yang terkuak beberapa cm. Melihat aku ada di komputer dekat pintu, dia pun menyapaku dengan sangat sopan, “Halo, Pak Tigor. “

“Halo,” jawabku juga. Aku belum hafal ingat namanya, makanya tidak kusebut. Khawatir salah 🙂

Dari ekor mataku kulihat dia mencari “sesuatu”. Karena dia tidak bertanya apa-apa, aku cuek saja. Kesibukankupun kulanjutkan.

Tidak menemukan apa yang dicarinya, diapun menutup pintu tanpa sempat berpamitan.

***

Beberapa menit kemudian, seorang rekan dosen membuka pintu, “Lho, Pak Tigor di sini?”

“Iya. Kenapa, Pak Toni?” tanyaku.

“Tadi ada mahasiswa cari Pak Tigor…”

“Seperti apa mahasiswanya, Pak?” tanyaku.

“Cowok.  Anaknya agak tinggi, pakai kacamata,” katanya.

“Hmm….itu kan anak yang buka pintu tadi dan negur aku?” pikirku.

“O…anak itu, ya. Tadi dia ke sini tapi tidak bilang apa-apa tuh.”

“Tapi dia bilang ke saya kalau cari sudah Pak Tigor ke mana-mana tapi tidak ketemu. Tadi, katanya, dia juga sudah mampir ke ruangan ini, juga nggak ketemu Pak Tigor”

Hmmm…koq aneh, ya. Dari tadi aku ada di ruangan ini, dan tidak pernah ke luar walaupun sebentar.

Lagipula -seingatku- ilmu menghilangkan diriku masih belum sehebat itu..belum bisa sim salabim, terus blusssss….hilang dari pandangan mata orang….

Bahkan sampai hari ini, kalau menghilang dari kampus, aku masih pakai mantra dasar   “ijin tidak masuk karena sakit” …..wkwkwk

***

Satu jam kemudian, Pak Toni tadi meninggalkan ruangan.

Aku masih bertahan dengan komputer di depanku. Sendirian. Sang penunggu entah ke mana.

Dan…pintu kembali terbuka…

Kulihat mahasiswa yang tadi membuka pintu ketika aku baru sampai di ruangan,..sekaligus mahasiswa dengan ciri-ciri yang sama seperti dibilang rekan dosen tadi kembali menampakkan dirinya….wajahnya cukup galau….

“Halo, Pak Tigor,” sapanya. Tetap sopan….

“Halo, kamu cari siapa. Koq sepertinya bingung banget,” tanyaku.

“Iya nih, Pak Tigor. Saya dari tadi mondar-mandir cari seorang dosen, tapi nggak ketemu-ketemu,” katanya.

Lanjutnya, “Saya sepertinya dikerjain sama Pak Toni, nih. Tadi beliau bilang yang saya cari ada di ruang komputer dosen. Ternyata yang ada hanya Pak Tigor.”

“Oooo…,dari tadi saya sendiri. Sempat sih berdua dengan Pak Toni,” kataku.

“Ya, sudahlah. Pak. Saya pamit dulu, Pak Tigor, “ katanya.

“Ok…Yang sabar, ya.”

***

Tidak terasa sudah cukup lama aku mendekam dalam ruangan ini. Urusan menjawab beberapa email penting, memperbaiki sebuah makalah, dan download sejumlah paper membuat aku bertahan hampir 3,5 jam di ruangan komputer dosen.

Pintu ruangan kembali terbuka, kali ini gerakannya agak keras. Cukup membuatku kaget.

“Nggak sopan juga cara orang ini buka pintu,” pikirku.

Dan…..ya, ampun….anak ini lagi???!!!!

Hampir aku maki, tapi melihat tampangnya yang melas banget, batal deh…hahaha…

“Sore, Pak Tigor,” dengan nada ramah yang sedikit dipaksakan…:D

“Hai,…lho, kamu lagi???” tanyaku.

“Iya, Pak. Aduh capek banget, Pak. Benar-benar menjengkelkan. Sudah lebih tiga jam saya cari Pak Dosen yang satu ini, susahnya amit-amit…”

“Semua orang bilang si Bapak ada di ruang komputer dosen, tapi tidak sekalipun saya ketemu…”

Wajahnya benar-benar kusut…seperti kain katun 100% yang habis dicuci.

“Kamu cari siapa sih?” tanyaku penasaran.

“Cari dosen baru, Pak Tigor.”

“Dosen baru??? Namanya siapa?” seingatku, beberapa bulan sejak aku masuk belum ada dosen baru yang masuk.

“Namanya Pak Tambunan, Pak. Seperti apa sih orangnya, Pak?”

Hah?????????!!!!!!

Dosen…oh….dosen….:D

lecturerNamanya juga mobil tua, rusak sedikit itu sudah biasa. Tapi biar ongkos servicenya cuma 100 ribu or 200 ribu, kalau di kantong sedang tidak ada uang cadangan, pusing juga kepala ini untuk memikirkan subsidi silangnya. Padahal aku sudah terlanjur janji ‘nraktir anak-anakku nanti malam.

Kalau perbaikan mobil ditunda, takut kerusakan makin parah dan merambat ke mana-mana. Bagiku dan keluargaku, mobilku ini benar-benar sahabat yang sangat baik.

***

Kata mas montir perlu waktu sekitar dua jam untuk memperbaiki mobilku. Waktunya tanggung bener! Mau pulang dulu, terlalu jauh. Lagian, tidak ada orang di rumah. Kalau ke kantor, internet lagi ngadat. Otakku juga lagi beku, nggak ada inspirasi buat ‘nulis. Ya, sudahlah, aku tunggu saja.

Bergantian kubaca koran dan beberapa majalah otomotif yang ada di ruang tunggu bengket.

***

“Bener-bener nggak habis pikir aku sama tetanggaku yang satu ini! Kata orang, suaminya dosen, tapi cara ngomongnya kasar sekali!” kudengar obrolan dua mbak-mbak bagian administrasi bengkel.

Si Mbak yang satu lagi menyahut, “Emangnya kenapa, ‘Lis?”

Lis? Hmmm…Aku mencoba menduga-duga namanya. Kalau dari panggilan tadi, mungkin namanya Sulis, Lilis, Lista, atau Geulis.

“Probabilitas untuk Geulis hampir nggak ada, “pikirku, “Ini kan kota Surabaya. Lagipula ngomongnya medhok banget.”

“Kemaren di RT ku kan ada arisan PKK. Si istri dosen itu kan nggak punya jabatan apa-apa. Ketua bukan. Sekretaris bukan. Bendahara, juga bukan. Masak sih dia marah-marah karena aku datang nggak pakai seragam.”

“Seragammu di mana rupanya?”

“Ya, di rumah. Aku memang lagi males pake! Arisannya kan lesehan. Nggak bebas gitu lho, Mbak!”

“Ya, salahmu kalau begitu.” Kata si mbak yang satunya.

“Aku tahu aku salah. Tapi khan ngomongnya nggak perlu bentak-bentak seperti itu, to! Aku ini kan bukan anak kecil. Katanya istri dosen, tapi nggak ada halus-halusnya sedikit pun. Nggak punya sopan santun sama sekali.”

Si mbak yang satu nyeletuk, “Kali suaminya nggak pernah ngajarin, ya?”

Walah, kupikir si mbak mau mendinginkan suasana hati si Sulis atau Lilis atau Lista atau Lisa atau siapalah. Ternyata malah ‘ngomporin!

“Rasa-rasanya gitu! Kalau mendidik istrinya aja nggak bisa, apalagi mendidik mahasiswanya, ya. Pantes sarjana-sarjana sekarang nggak bisa ngapa-ngapain!”

Kesimpulan berdasarkan analisa perseptual yang dahsyat, man! Meski belum tentu salah..huehehe.

“Fallacy of composition,” kata kawan-kawanku di ekonomi.

“Memang, begitu Lis. Pendidikan di negara kita ini sudah sangat berantakan. Ganti menteri, ganti aturan! Makanya, kalau nanti anakmu sudah besar. Pikir dulu sebelum menyekolahkan. Kalau ujung-ujungnya susah dapat kerjaan, lebih baik nggak usah disekolahin.”

Wah asyik juga nih pembicaraan. Mulai yang sangat mikro, sampai makro. Semuanya tertuang dalam pembicaraan serius dua orang wanita pekerja,  DI BENGKEL!!!

“Bener kan, Mas?” Entah kenapa, si Mbak tanpa identitas itu tiba-tiba mengajakku bergabung ke dalam forum diskusi

“Yang bener apanya, Mbak?” Wah, jangan-jangan ketahuan nih kalau aku ‘nguping….wkwkwk

“Ya, itu tadi. Dosen-dosen sekarang sudah nggak ada yang beres. Kerjanya ngobyek terus. Nggak pernah ngajar. Mahasiswa ditelantarkan. Terima duitnya mau, kerja nggak”

Sepertinya kedua wanita ini punya beberapa kisah buruk yang berhubungan dengan dosen. Dan dosen adalah profesiku saat ini!

“Mbak, senang nggak kalau banyak mobil rusak?” tiba-tiba pertanyaan itu keluar begitu saja dari mulutku.

Si Mbak yang dipanggil Lis tadi langsung menjawab, “Ya jelas, Mas. Kalau nggak ada yang rusak, kami nggak bisa terima gaji, dong. Tapi, apa hubungannya sama dosen?”

“Lho, kalau mobilnya dosen nggak rusak, berarti kan bengkel ini nggak punya kerjaan?” jawabku sekenanya, sambil mencari-cari arah pembicaraanku sendiri.

Terus kusambung, “Gajinya dosen nggak seberapa. Kalau mobilnya rusak, uang yang mestinya buat keperluan penting, terpaksa dipake untuk memperbaiki mobil. Bengkel ini senang, dosennya senep alias sakit perut -bahasa jawa-“

“Karena itu dosen mesti ngobyek, cari kerjaan lain. Biar mbak-mbak bisa terima gaji”

Masih kulanjutkan, “Masak istrinya dosen mesti seperti dosen. Nanti pembantunya dosen, supirnya, baby sitternya, pengawal pribadinya juga dituntut Mbak-Mbak harus berperilaku seperti dosen!!!”

Tiba-tiba aku bingung sendiri sama opiniku. Lagian, dosen apa bisa ya bayar supir pribadi? Dari mana duitnya?

By the way, Mbak…Jangan-jangan istrinya dosen di kumpulan PKK-nya mbak tadi itu kerja di bengkel,…makanya kalau ngomong kasar, seenaknya sendiri.” Nah, ketemu nih kata-kata yang cespleng…,

Aku nggak peduli dia ngerti apa nggak ama kata-kata canggihku, “Pasti suaminya yang dosen itu sudah terkontaminasi oleh kebiasaan kawan istrinya, bukan sebaliknya….”

“Pengaruh jelek memang mudah sekali mempengaruhi seseorang, Mbak…” makin kuperparah, “Apalagi dari istri sendiri,…yang kerjanya di bengkel…”

Aku pura-pura menghela nafas panjang, “Kasihan banget mahasiswa suaminya itu,…” seolah aku sedang berempati.

Reaksimu benar-benar seperti yang aku perkirakan,“Koq mas ngomongnya gitu? Kenapa saya jadi yang disalahin?”

“Eeeit, saya nggak pernah ‘ngebahas Mbak lho dari tadi. Tapi istrinya dosen tetangga mbak itu, jangan tersinggung dong…”

Kena dia sekarang!

“Mas ini pasti mahasiswa, ya? Suka bicara dibolak-balik!” tanyanya penuh kepastian. Benar-benar nih orang! Errrggh…

weit e minet!!!!…“Mahasiswa…?!” Senang juga dicurigai sebagai mahasiswa. Berarti tampangku masih segar banget dong…he…he….he…

“Saya ini dosen, Mbak!”

Sesaat, mereka berdua saling pandang.

“Pasti mereka tidak percaya!” pikirku.

“Kenapa Mbak. Masih muda, ya?” Ge-er sedikit setahuku tidak termasuk pelanggaran hukum. Jadi, sah-sah aja khan?

“Masa, sih? Ora pantes blas!!!….Kalau Mas ini dosen, pasti dosen yang ngeselin!!!”

Huahaha…sableng juga nih si mbak! Hobi banget mengambil kesimpulan dan kepastian! Padahal di kelas aku selalu berkoar-koar kalau satu-satunya kepastian di muka bumi ini adalah ketidakpastian itu sendiri…ceilleeee,…pret, dung, tak, tak, tak….byurrr…

Kujawab aja, “Bisa jadi, soalnya saya sering ke bengkel ini…”

Hua…ha…ha…ha…Mampus, lu!!!

Si Lis jadi agak salah tingkah, “Mas, tadi itu sekedar cerita, lho. Jangan dimasukin hati….”

“Iya Mas, kami berdua biasa ngobrolan apa aja. Buat isi waktu. Abis, kerjaan lagi sepi..” Mbak yang satunya ikut-ikutan angkat bicara.

“Nggak. Jangan kuatir. Paling nanti langsung saya ceritakan ke Mas Slamet,” jawabku sambil senyum-senyum.

Setel yakin aja! Mas Slamet itu aku yakin bos mereka. Ya yang punya bengkel ini!!!

Aku punya empat fakta di balik kesimpulanku tentang orang yang namanya Slamet ini.

Pertama.Bengkel ini namanya bengkel Slamet.

Kedua. Tadi sempat kulihat ada pria pendek, item, kepalanya miskin rambut, tapi berotot, ada tulisan nama Slamet di atas dada kanannya.

Ketiga, orang yang namanya Mas Slamet tadi, kerjanya mondar-mandir dari satu mobil ke mobil lain. Hampir semua orang bengkel diperintahnya..

Alasan keempat. Waktu baru datang, orang tua yang lagi duduk di sebelahku tanya ke si Mbak Lis, “Slamet mana, Lis?”

“Pak Slamet sedang memeriksa kendaraan di sebelah, Pak…”

“Tolong beritahu dia, mobil saya yang diperbaiki kemaren, ngadat lagi.”

. ***

“Dua ratus tiga puluh ribu, Mas”

Kulihat kertas rincian tagihan yang disodorkan. Di bawah tertera nama “Sumarni”.

Tanyaku, hanya ingin tahu, “Sumarni ini nama siapa, Mbak?”

“Nama saya, Mas. Kenapa?”

“Tadi Mbak yang satu manggilnya koq Lis?”

Agak tersipu dia kulihat, “Itu nama keren saya di bengkel ini, Mas.”

Oooo…

***

“Pa, kita nanti makan di mana?” tanya anakku yang bontot.

“Kita ke Podomoro saja, ya.” Jawabku. Warung Podomoro itu dekat kampus Universitas Surabaya. Tamie goreng dan nasi goreng diamondnya, pas banget buat lidahku, harganya masih dalam jangkauan warga kampus…he…he…he…

Untung, janji makan malamku ke mereka sifatnya open destination alias tempatnya belum definitif. Jadinya aman,kan? Janjipun perlu strategi, bukan! Uang di saku sudah tersedot buat service mobil.

***

Sambil menunggu pesanan, aku, istriku, dan anak-anakku ngobrol ringan. Di sekitar kami, beberapa anak muda -aku yakin banget mereka mahasiswa- sedang makan dengan lahapnya, sambil sesekali berbicara. Ada juga yang kelihatan sedikit serius. Mereka sepertinya sedang punya masalah dengan dosen.

Dosen???

“Dosen yang satu itu memang sok kuasa! Mentang-mentang punya jabatan. Dasar ….-ups-… harus disensor, nih!”

Ya, ampun!. Sial banget nasib perseptual profesi dosen hari ini!