Cermin…

img_20170214_230858“Pak,  bagaimana kalau cermin ini aku keluarkan dari kamar?” usul seorang anak gadis kepada bapaknya.

“Kenapa begitu,  anakku yang cantik? ” tanya si bapak.

“Ah…  Bapak membuatku makin membenci cermin ini.  Aku tidak cantik seperti yang Bapak bilang. Cermin ini menunjukkannya tiap hari. Aku sangat gemuk,  Pak.  Dan itu sangat buruk…!!!”

“Hehehe… Coba dengar dan pikirkan dgn tenang kata2 Bapakmu ini,  Putri cantikku. Apakah setelah cermin ini kita singkirkan, masalahmu selesai? “tanya si Bapak.

“Paling tdk aku lebih tenang,  Pak, ” sanggah si anak.

“Blm selesai Bapak bicara,  sdh kamu potong. Tdk boleh begitu anakku. Coba dengar baik2…” kata si Bapak.

“Kamu sdh besar.  Kamu pasti tahu bagaimana menyelesaikan masalahmu.  Membuang cermin sama artinya dgn membohongi diri. Kamu mencoba lari dari masalah, bukan mencoba menghadapi dan menyelesaikannya. Cermin di kamarmu bisa saja kita buang. Bgm dgn cermin di ruangan lain? Di kampusmu?  Di tempat2 lain yg kamu kunjungi?  Masak harus disingkirkan semua? ” kata Bapaknya sambil tersenyum,  sedikit menggoda.

Kali ini si anak tidak protes,  tapi jelas masih ada kegalauan di wajahnya.

“Nak,  jangan jadikan cermin sbg musuh.  Jadikan dia teman yg akan selalu menemanimu.  Dia akan menunjukkan apakah kau sdh berusaha  cukup keras utk jadi cantik spt yang kamu harapkan. Cermin adalah teman yang sangat jujur.  Menyingkirkan cermin, berarti menyingkirkan apa hayoooo??” tanya si Bapak.

“….menyingkirkan teman yang jujur ya,  Pak?” jawabnya lirih.

“Sipl! Itu baru jawaban yang benar dan cantik… ”

 

 

 

 

Jangan mau dibohongi pakai tulisan saya….

sateSuatu hari saya menulis kalimat penutup kuliah di papan tulis begini, “Kalau tidak punya uang, jangan makan sate kambing.”

Menjelang kelas berakhir, beberapa mahasiswa saya lihat memotret tulisan saya pakai kamera hp nya.



Beberapa hari kemudian, saya didatangi salah satu mahasiswa yang absen saat saya membuat tulisan terdahulu, “Pak, apa benar kalau tidak punya uang, saya tidak boleh makan sate kambing?” tanyanya sambil menunjukkan foto tulisan saya di hp pintarnya

Saya pun tertawa, “Kamu jangan mau dibohongi pakai tulisan saya….”
“Tapi tulisan Bapak kan begitu?” tanyanya lagi, “Berarti tulisan Bapak bohong, dong?”
“Eitss…jangan ngomong sembarangan, kalau tulisan saya bohong, berarti saya sebagai penulisnya bohong, dong?”
“Tapi tadi Bapak bilang begitu, kan?” katanya.
“Dengar kalimat saya sekali lagi. Kamu jangan mau dibohongi pakai tulisan saya. Kawanmu yang bohong. Dia pakai tulisan saya untuk membohongimu. Tulisan yang kamu baca di hp itu, ada penjelasan sebelumnya. Salah satunya begini, kalau nanti atau suatu saat kamu sudah kerja. Terus di akhir bulan uangmu habis, ya jangan maksa beli sate kambing. Jangan boros! Tidak perlu belagak punya duit. Tapi kalau waktu kamu tidak punya uang, ada yang ngasih sate kambing. Ya makan aja…. wkwkwk”
“Oooo…. begitu ya, Pak…”
“Makanya rajin kuliah. Jangan cuma belajar fotocopy-an, apalagi lewat medsos…”

Ketika Kepintaran Jadi Kelemahan

war

“Para Komandan Peleton, pastikan setiap strategi yang sudah kalian susun, dikomunikasikan dengan komandan peleton lainnya. Kita sudah tidak ada waktu lagi untuk berdiskusi. Menurut informan kita, musuh sudah semakin dekat…,” tegas Komandan Utama dalam sebuah  rapat koordinasi penentuan strategi perang gabungan.

Tiba-tiba, salah satu komandan peleton mengangkat tangannya dan berbicara, “Mohon ijin bicara Komandan.”

“Silakan, ” kata Sang Komandan.

Si Komandan Peleton pun berbicara, “Mohon masukan dari Komandan dan rekan-rekan yang lain. Saya punya seorang anak buah. Dia pintar sekali. Bahkan paling pintar di antara anak buah lainnya. Masalahnya, setiap kali saya atau anak buah saya lainnya mengusulkan sebuah strategi, dia selalu berhasil menunjukkan kelemahan strategi tersebut…. Apa yang harus saya lakukan? Seluruh anak buah saya sekarang jadi penuh keraguan.”

Tanpa menunggu masukan dari yang lain, Sang Komandan Utama langsung tegas berbicara, “Tembak kepalanya! Dia sama sekali bukan sumber kepintaran bagi kelompokmu. Dia adalah sumber kelemahan. Cuma ada kelemahan di dalam kepalanya!”

Dengan ternganga si Komandan Peleton bertanya, “Komandan, masa kita harus menembaknya? Bagaimana kalau dia saya letakkan sebagai tenaga cadangan?”

“Kalau itu yang kamu lakukan, saya akan memecatmu selesai rapat ini. Dan setelah itu saya akan ke pasukanmu untuk menembaknya! Lakukan perintah saya atau kamu diberhentikan dari jabatanmu sebagai Komandan Peleton” seru si Komandan Utama.

“Kemampuan mengenali kelemahan tidak layak disebut kepandaian. Kepandaian yang sebenarnya adalah kemampuan untuk menutupi kelemahan. Camkan itu!” lanjut Sang Komandan.

Prisoner’s Dilemma

prisonerKisah “Prisoner’s Dilemma” (Dember et al, 1984) diawali dari tertangkapnya dua pria bersenjata ilegal yang sedang adu jotos oleh aparat keamanan. Selidik punya selidik, keduanya diduga kuat telah membobol lemari besi sebuah bank beberapa hari sebelumnya. Oleh Kepala Tahanan, kedua orang tersebut ditempatkan secara terpisah dalam dua sel yang berjauhan.
Untuk memperkuat dugaan, sang Kepala Tahanan melakukan interogasi sembari mengajukan tiga opsi sanksi hukum kepada setiap tersangka. Opsi pertama, jika salah satu tersangka mengaku telah melakukan perampokan sementara yang lain bungkam, maka Kepala Tahanan akan memberikan ganjaran nol tahun penjara kepada pengaku dan sepuluh tahun penjara kepada yang tidak mengaku.
Opsi kedua, jika kedua tersangka mengaku telah melakukan perampokan bersama-sama, masing-masing akan diganjar lima tahun penjara. Opsi terakhir, jika kedua tersangka sama-sama tidak mau mengakui perampokan tersebut sebagai aksi mereka, masing-masing akan diganjar setahun penjara atas dasar kepemilikan senjata secara ilegal.
Pertanyaannya sekarang, keputusan individual manakah yang kemungkinan besar akan dipilih oleh setiap tersangka menghadapi ketiga opsi tersebut, mengaku atau tidak mengaku?
***
Sementara menimbang untuk tidak mengaku, sangatlah manusiawi jika kemudian muncul rasa kekhawatiran dari masing-masing tersangka akan adanya pengakuan dari tersangka lainnya. Bayangan bakal hidup dalam masa penantian selama sepuluh tahun di hotel prodeo jelas bukan idaman siapa pun, bahkan bagi penjahat terkejam sekali pun. Secara rasional  kedua tersangka sedapat mungkin menghindari angka sepuluh tahun.
Akibatnya, angka nol tahun pun “seolah” menjadi harapan yang mustahil terwujud! Lewat pengerahan logika individual secara monolog ala si Butet dari Yogya, secara terpisah kedua tersangka memutuskan akan mengarungi kehidupan lima tahun di balik dinding-dinding penjara. Angka “optimal” ini membuat probabilitas terbesar jatuhnya pilihan setiap tersangka adalah mengaku.
Bagaimana dengan satu tahun penjara? Atas nama rasionalitas, kemungkinan untuk mendapatkan sanksi minimal ini seolah terlupakan. Padahal, berbekal kebersamaan emosional selama bertahun-tahun dalam melakukan kejahatan, seharusnya pasangan penjahat tersebut pernah berbicara dari hati ke hati memikirkan segala risiko, cara menghadapinya, termasuk saat tertangkap.
Semestinya, kemungkinan untuk menjalani hukuman selama satu tahun dalam penjara dapat direalisasikan sebagai keputusan terbaik bagi keduanya jika kedua tersangka tersebut sama-sama yakin bahwa pihak yang lain tidak akan pernah mengaku.
***
Fenomena Prisoner’s Dilemma sering terjadi pada berbagai kasus industrial yang tetap saja marak di berbagai pelosok negeri ini. Kedua elemen bipartit, yaitu pengusaha dan pekerja ibarat “sepasang karib” yang tertangkap basah oleh regulator saat sedang meributkan hasil survey KHL, UMR atau segala tetek bengek peraturan yang digunakan untuk menetapkan hak-hak dan kewajiban normatif ketenagakerjaan lainnya.
Buruknya kualitas hubungan industrial dan produktifitas ekonomi dua tersangka yang tinggal seatap di alam ekonomi bebas ini “dicurigai” para pakar ketenagakerjaan dan investasi sebagai salah satu penghambat perkembangan perekonomian Indonesia, karena itu keduanya “harus ditangkap”. Sedikit berbeda dengan analog di awal, setelah ditangkap –atas kemauan sendiri- keduanya meminta diletakkan pada sel yang berbeda. Kejadian berikutnya mirip dengan analog di atas, pemerintah selaku Kepala Tahanan harus memberikan opsi untuk mengetahui benar tidaknya hasil investigasi kepakaran.
Permasalahannya sekarang, memberikan tiga opsi solutif ternyata bukan perkara mudah bagi si Kepala Tahanan. Contohnya, pemberian opsi sanksi nol tahun bagi yang menerima nilai UMR dan sanksi sepuluh tahun bagi yang menolak UMR ternyata ditanggapi sebagai opsi hasil perselingkuhan industrial antara salah satu tersangka dengan Kepala Tahanan.
Karena jengkel atau bingung atas situasi yang berkembang, sang Kepala Tahanan bahkan sering (sengaja) tidak mengunci pintu sel masing-masing tersangka. Sayangnya, meski Kepala Tahanan telah “mempersilakan” para tersangka untuk keluar dari sel agar dapat berdiskusi dan menentukan opsinya sendiri dengan lebih nyaman, ternyata para prisoners tetap bersikeras untuk tinggal di sel mereka masing-masing. Konflik para penghuni “penjara industrial” makin dilematis.
***
“Miskin” perselisihan industrial adalah dambaan semua perusahaan. Saat ini sebagian para pengusaha dan pekerja di Indonesia sudah telanjur terperangkap “penjara industrial”. Sel yang terbuka dan kebebasan untuk membuat opsi yang ditawarkan oleh Kepala Tahanan seharusnya dimanfaatkan sebagai momen reformatif untuk melakukan perjanjian rasional, emosional, murni dan bebas mediasi. Siapa tahu, sambil mengenang bayangan kemesraan di awal terbentuknya hubungan industrial, ruang tahanan dapat dijadikan tempat kerja yang sangat produktif selama satu tahun masa tahanan.

Penulis: Tigor Tambunan (25/5 2007)

Sumber: PortalHr

LET THEM BE OUR INTERNAL CUSTOMER! ;)

familyTidak jarang kita marah secara spontan, manakala anak kita datang mendekat ke arah kita ketika kita sedang melakukan pekerjaan-pekerjaan yang menurut kita sangat penting dan memerlukan konsentrasi tinggi.

Andai saja yang menghampiri kita saat itu adalah anak rekan bisnis atau klien kita, akankah kita bereaksi dengan cara yang sama? Rasa-rasanya tidak. Kemungkinan besar kita justru akan berkata kepada rekan bisnis kita,”Wah, anakmu pasti anak yang pintar! Rasa ingin tahunya sangat besar!”

Hardikan dan bahkan bisa jadi umpatan dengan segera kita lontarkan, ketika tanpa terduga anak kita datang di tempat di mana kita sedang melakukan pekerjaan yang kita anggap berbahaya.

Jika yang menghampiri tadi adalah anak pimpinan kita, akankah kita bereaksi dengan cara yang sama? Pasti tidak. Bukan tidak mungkin justru yang kita lakukan adalah memberikan pujian selangit bagi sang anak pimpinan,”Kamu benar-benar anak yang berani!”

Mata kita sontak akan melotot dan tangan kita akan terjulur menjewer anak kita yang secara tidak sengaja menumpahkan air minuman yang sedang kita hidangkan pada tamu kita.

Tapi coba, jika yang melakukan itu adalah anak dari tamu kita, reaksi kita kemungkinan adalah, “Sudah jangan dimarahi, namanya juga anak-anak. Nanti biar dibersihkan pembantu saya.”

Seringkah kita dalam kehidupan sehari-hari memperlakukan anak-anak kita, istri, suami, dan semua orang-orang yang seharusnya memiliki hubungan emosional yang sangat dekat dengan kita dengan cara-cara di atas, sementara itu orang lain lebih sering memperoleh kekaguman, pujian, dan kesabaran yang tak habis-habisnya dari mulut kita?

Kalau iya, alangkah berbagianya menjadi orang lain di mata kita! Dan alangkah menyakitkan untuk menjadi bagian dari keluarga kita!

***

Sebuah perusahaan tidak ada bedanya dengan sebuah keluarga besar. Karyawan atau bawahan kita ibarat anak, istri, suami, atau bisa berstatus apapun yang dalam statusnya sebenarnya mempunyai hubungan emosional sangat tinggi dengan kita!

Pertanyaannya, bagaimanakah cara kita memperlakukan mereka selama ini? Sebagai bagian keluarga atau “cenderung” sebagai tetangga atau pelanggan?

Sudah saatnya kita menilai dengan jujur kualitas “hubungan kekeluargaan” di dalam organisasi kita. Harmoniskah? Atau jangan-jangan kita telah menyia-nyiakan keberadaan “keluarga” kita  dalam waktu yang cukup lama? Jangan-jangan tanpa kita sadari, kita sendirilah sebenarnya yang telah menimbulkan kekacauan dalam keluarga kita sendiri! Kita telah salah mengartikan makna “kedekatan dalam keluarga” sebagai kebebasan mutlak untuk memperlakukan keluarga dengan berbagai cara!

Kita pasti tidak ingin segala sesuatu yang telah kita bangun hancur begitu saja, bukan! Percayalah, selalu masih ada waktu untuk memperbaiki kualitas hubungan kekeluargaan dalam perusahaan kita. Lakukan hal ini dengan segera!

Tidak perlu merasa terlalu tinggi hati untuk memperlakukan karyawan kita sebagaimana kita memperlakukan para “tetangga” atau “pelanggan” kita!. Let them be our internal customer…

***Thx to Pdt Slamat for inspiring me to develop this story at that beautiful Sunday! God bless you…