Bisnis Bali: Harmonisasi Pendidikan dan Dunia Usaha

Bisnis Bali, 9 Juni 2011

Sebuah kebetulan saja Hari Pendidikan Nasional kita jatuh bersebelahan dengan Hari Pekerja Sedunia. Tapi kalau keterkaitan antara subjek dan objek dalam kedua hari peringatan tersebut, pasti bukan kebetulan. Secara teoritis, hubungan kedua dunia ini akan kian “akrab” seiring dengan kemajuan peradaban sebuah masyarakat.

Dunia kerja (dunia usaha) akan makin membutuhkan dunia pendidikan dalam proses pembentukan kualitas sumber daya manusia dalam kuantitas tertentu, dunia pendidikan akan makin membutuhkan dunia usaha sebagai penyerap sumber daya manusia terdidik yang mereka hasilkan.

Di tengah saling ketergantungan tadi, ternyata masih terus beredar isu (baca: hasil penelitian) tidak sedap yang menunjukkan tingginya angka pasokan angkatan kerja berpendidikan yang tidak terserap dunia kerja. Kabar ini makin menusuk dunia pendidikan ketika “tertuduh utamanya” justru dunia pendidikan. Sistem pendidikan kita di berbagai jenjang dituding beberapa pihak tidak mampu menghasilkan manusia-manusia dengan kualitas yang diharapkan dunia usaha.

Kualitas sumber daya manusia acapkali dituduh sebagai penyebab utama produk-produk dalam negeri menjadi tidak kompetitif. Keahlian yang tidak memadai, disiplin kerja yang relatif rendah, dan minim inisiatif seolah menjadi ciri khas pekerja Indonesia . Produktivitas rendah menjadi alasan dibalik pemberian upah minimum yang sangat minim. (Sekali lagi) “Ini semua karena ketidakmampuan dunia pendidikan!“ Benarkah?

Disharmonisasi Informasi

Mari kita lihat beberapa fakta berikut. Siswa-siswa lulusan SMA berburu jurusan-jurusan – di perguruan tinggi – yang sedang naik daun karena aktifitas promosional lembaga penyelenggara pendidikan, bukan dunia usaha. Padahal lembaga-lembaga pendidikan-bahkan bisa dibilang seluruh jenjang — tidak memiliki informasi yang akurat dan presisi tentang kebutuhan tenaga kerja.

Kebutuhan yang diketahui dunia pendidikan adalah angka dan spesifikasi kebutuhan tenaga kerja saat ini, bukan kebutuhan empat lima tahun ke depan. Itupun data-data sekunder yang sifatnya sangat umum. Artinya, kalau pun bermanfaat, informasi kebutuhan tenaga kerja — versi lembaga pendidikan — tersebut hanya bernilai bagi mahasiswa yang akan jadi sarjana tahun ini atau satu dua tahun ke depan (pada bidang ilmu yang bersesuaian). Bukan bagi siswa SMA yang akan lulus dan menjadi mahasiswa tahun ini.

Celakanya lagi, jika dua atau tiga tahun yang lalu, jurusan ini masih sepi peminat/sepi penyelenggara, akan muncul kesan di masyarakat luas bahwa permintaan terhadap lulusan dengan kompetensi yang dimaksud tadi menjadi makin luar biasa besarnya ( undersupply) . Kelatahan masal pun terjadi! Banyak lembaga pendidikan berbondong-bondong mendirikan jurusan tertentu, dan masyarakat berduyun-duyun mengarahkan anaknya untuk mempelajari bidang ini.

Terlintas sebuah pemikiran, mengapa dunia usaha tidak ikut mencoba/memperbanyak frekuensi terjun lebih dini ke dunia pendidikan khususnya di jenjang pendidikan menengah atas (baca: tidak hanya pada pendidkan vokasional seperti SMK atau BLK, tapi juga SMA). Kegiatan informasional ini sangat efektif untuk menunjukkan kebutuhan riel dunia usaha terhadap sumber daya manusia (dimensi kuantitas dan kualitas) khususnya pada tiga sampai lima tahun ke depan, di wilayah di mana dunia usaha beraktifitas (dimensi waktu dan tempat).

Informasi-informasi semacam ini bisa menjadi panduan para siswa SMA untuk memilih jurusan yang tepat di perguruan tinggi yang tepat. Informasi semacam ini jauh lebih sahih dibanding informasi promosional lembaga-lembaga pendidikan. Kalau informasi semacam ini baru diberikan perusahaan kepada mahasiswa perguruan tinggi jelas sudah sangat terlambat.

Seseorang yang sudah berstatus mahasiswa adalah manusia yang sudah menentukan arah masa depan kehidupan ekonominya. Dan arah tersebut bisa saja sangat salah kalau dasar pemilihan bidangnya tidak mempertimbangkan kebutuhan dunia kerja, apalagi hanya atas dasar minat individual dan tren! Pada jalur pendidikan tinggi, yang bisa dilakukan oleh masyarakat berstatus mahasiswa adalah memaksimumkan kecakapan di bidangnya dan mencoba untuk menjadi lebih baik dibanding orang lain (baca: peran dunia pendidikan). Peran dunia usaha? Membantu mengasah kecakapan mahasiswa melalui penyediaan fasilitas praktek kerja industrial.

Daya dongkrak ekonomi

Berbekal hasil pendidikan, seseorang yang tadinya tidak bekerja menjadi bekerja. Paling tidak, waktu tunggu untuk memperoleh pekerjaan menjadi lebih pendek. Dan seperti hasil penelitian yang dilakukan oleh Federman dan Levine (2005), didukung hasil proses pendidikan yang dialaminya, seseorang mestinya akan memperoleh penghasilan lebih besar dibanding sebelum mengenyam pendidikan.

Berpijak pada jenis dan tingkat pendidikan yang dimiliki, seseorang seharusnya dapat bekerja sesuai dengan bidang pendidikan yang ditekuninya, asal pemilihan bidang pendidikan didasarkan pada kebutuhan dunia kerja di masa yang akan datang (baca: bukan pada tren pendidikan atau preferensi pribadi semata). Selain itu, pendidikan seharusnya juga menjadi tambahan “modal“ yang sangat besar bagi para calon wirausahawan.

Seseorang yang berwirausaha dengan modal tambahan pendidikan memiliki kekuatan sosial ekonomi yang lebih besar dibanding yang tidak berpendidikan sederajat pada kekuatan finansial yang sama. Menurut Simanjuntak (1998) dalam bukunya “Pengantar Ekonomi Sumberdaya Manusia”, tenaga kerja terdidik memiliki produktivitas kerja lebih tinggi daripada yang tidak terdidik. Karena itu, pendidikan harus membuat kondisi dunia usaha menjadi lebih baik.

Seperti memasuki rimba raya yang tak berpangkal dan berujung, harmonisasi sistem pendidikan terhadap dunia kerja adalah proses yang sangat kompleks dan dipenuhi liku-liku tak terduga.

Butuh waktu lama untuk mendapatkan kondisi jumlah dan kualitas pasokan angkatan kerja berpendidikan yang tepat, di saat dan di lokasi permintaan yang tepat. Pendidikan harus mampu menunjukkan kontribusinya dalam memperbaiki membuat kondisi sosial ekonomi masyarakat secara nyata. Kalau tidak, ungkapan miring bahwa bersekolah tidak berguna bisa menjadi benar adanya.

*Penulis adalah Dosen Teknik Industri STTS dan peneliti pada Program Penyelarasan

Link: http://www.bisnisbali.com/2011/06/09/news/opini/x.html

Advertisements