BERLARI!!!

Oleh Tigor Tambunan

lariPagi itu terasa cukup terik. Seorang anak kecil, umurnya paling banyak sepuluh tahun, terlihat berlari – lari kecil mondar mandir di gang tempat tinggalnya. Keringat sebesar butiran-butiran kacang hijau mengucur deras di seluruh bagian tubuhnya. Tak nampak sedikitpun terpancar tanda-tanda kelelahan di wajahnya. Pandangannya lurus ke depan, sesekali menoleh ke atas, mirip seorang atlit lari profesional yang sedang berkonsentrasi penuh di jalurnya. Kadang-kadang mulutnya terlihat berkomat-kamit.  Mungkin sedang merapal mantra-mantra penambah motivasi.

Polah si anak ternyata menarik perhatian tiga pria tua yang sedang ngobrol di bawah atap bambu sebuah kedai kopi, persis di pinggir jalan di mana si anak telah melintasi tempat itu untuk yang ke tiga kalinya.

“Anak itu memang gendut sekali. Pasti dia sedang mencoba menurunkan berat badan,” kata  seorang pria yang kurus sekali sambil bolak-balik menghisap rokoknya yang entah sudah batang ke berapa pagi ini.

“ Apa kau bilang? Gemuk? Jangan kau samakan dia dengan kau waktu masih kecil dulu. Anak itu sehat sekali! Ukurannya pas buat anak seumur dia! Dia berlari pasti karena menuruti nasihat gurunya supaya berolahraga tiap pagi,” bantah pria kedua, seorang pensiunan guru olah raga sambil meniup gelas kopi keduanya yang baru saja datang. Aroma kopi Sidikalang yang terkenal itu pun makin menyebar berbaur dengan segala jenis bau yang ada dalam kedai.

“He…he…he…kalian berdua ini bisa saja. Anak itu memang belum gemuk. Tapi hampir. Anak sekarang kalau makan amit-amit rakusnya. Sudah begitu,  selalu membantah pula kalau dinasehati. Dia pasti anak yang bandel. Percayalah kalian! Paling banter, anak itu sedang menjalani hukuman dari ayahnya,” kali ini seorang pria tua berkumis tebal ikut berargumentasi. Bekas-bekas kesangaran masih terlihat dari wajahnya yang mulai keriputan. “Aaaah, Namboru! Pisang goreng kau ini lama sekali sekali sih panasnya!” kata si pria berkumis tadi sedikit membentak wanita tua pemilik kedai. Tak tahan rupanya dia menunggu, disantapnya juga pisang goreng itu dalam keadaan panas-panas.  Sambil dihembus-hembusnya, beberapa tetesan air menerobos dari sela-sela giginya yang nggak genap lagi dan mampir di permukaan kulit pisang goreng. “Tak apa! Aku juganya yang makan pisang ini!” gumamnya pada diri sendiri.

Segaris senyum tak bersuara muncul dari bibir tua sang empunya kedai.

Kemudian kata pria perokok tadi kepada kedua temannya, “Menurut kalian, berapa kali lagi anak itu melewati tempat ini? Kalau menurutku, untuk menurunkan berat badan paling tidak dia akan berlari sekitar lima kali lagi”, pria kurus itu rupanya masih bersikukuh kalau si anak berlari karena obesitas.

“Lima kali? Pasti lebih! Anak-anak sekarang bandelnya luar biasa. Hukuman seringan itu tidak akan membuatnya berubah menjadi anak penurut!” komentar si pria berkumis, “Kalau dia anakku, aku suruh dia berlari terus. Kalau perlu sampai pingsan, biar jera!”

“Ah, kalian berdua ini selalu memandang banyak hal dari sisi negatif. Anak seperti dia sudah jarang ada di jaman ini. Bangun pagi, kemudian berolahraga. Aku yakin orangtua dan gurunya yang telah berhasil mendorong dia jadi semangat seperti itu. Lagipula, bukan jumlahnya yang penting. Tapi semangatnya.” sang mantan guru rupanya tidak bisa menerima komentar kedua kawannya tadi. Setelah itu ia mulai menyeruput kopinya.

Entah mengapa, selanjutnya terjadilah perdebatan sengit antara mereka bertiga. Berangkat dari topik alasan di balik acara lari pagi seorang anak kecil, perdebatan menjadi merembet ke masalah nasional bahkan sesekali ke tingkat dunia. Isu-isu kegagalan pemerintah untuk membina olahraga di tanah air, KDRT dan hak-hak anak, makin amburadulnya sistem pendidikan nasional, pajak rokok dan keberadaan pabrik rokok ilegal, peranan wanita, isu ketenagakerjaan, rendahnya tingkat keamanan sistem transportasi, bahkan sampai isu lingkungan hidup seperti kasus lumpur panas Sidoarjo ikut diangkat. Kok bisa nyambung, ya?

Bayangkan! Tidak disangka, tidak dinyana, seluruh menteri dalam jajaran kabinet SBY-JK akhirnya ikut tersangkut dengan urusan si anak yang sedang lari pagi ini. Dan yang paling tidak mengenakkan, semua menteri –pada porsinya masing-masing- mereka simpulkan ikut bersalah dan bertanggungjawab atas membanjirnya tetesan keringat si anak di pagi hari yang panas itu.

Kedai kopi, oh, kedai kopi!  Kalian benar-benar layak dijuluki The House of News! Coba para pemilik TV swasta kenal kalian! Mereka nggak perlu bayar mahal para pengamat dadakan hanya untuk jadi komentator!

Entah sudah berapa banyak puntung rokok si pria kurus tadi berceceran di lantai, entah sudah berapa banyak gelas kopi kosong si pria mantan guru yang belum sempat dicuci berserakan di lantai dapur, entah sudah berapa kali Inang pemilik kedai mendapat bentakan dari si pria sangar, masih belum ada – atau mungkin tidak-  titik temu alias kata kesepakatan di antara mereka tentang latar belakang apa di balik acara pagi anak umur sebelas tahun tadi.

Diskusi yang benar-benar melelahkan! Demikian melelahkan hingga akhirnya mereka terdiam.

***

Sesaat, datang seorang Bapak bersama anaknya yang sedang meringis kesakitan, “Ompung Boru, kopi satu sama teh satu. Bikin yang manis ya, ‘Pung!” pintanya pada si wanita tua pemilik kedai.

Rambut si anak acak-acakan. Kulitnya tangan dan wajahnya memerah terbakar sinar matahari. Bajunya basah oleh keringat. Dan baunya…!  Pokoknya, berantakan sekali!!!

“Lho, ini kan anak yang lari-lari tadi? Kenapa kamu, Ucok? Habis jatuh kau rupanya, ya” tanya si pria kurus.

Dia yakin si anak pasti jatuh karena kehilangan keseimbangan waktu berlari. “Benarkan apa yang ku bilang tadi, tubuhnya anak ini terlampau gemuk,” pikirnya. “Tak perlulah berpanjang cakap lagi. Capek aku ngomong sama orang-orang keras kepala macam mereka ini!” namun tak diucapkannya.

“Sakit sedikit nggak apa-apa, Ucok. Kalau kau mau jadi atlit terkenal musti terbiasa dengan rasa sakit!” hibur pria lainnya.

Si Bapak berwajah sangar hanya senyum-senyum kecil. Melihat kehadiran sang Bapak dan kondisi si anak, dia makin yakin kalau si anak memang sedang dihukum oleh Bapaknya.

Tak ada reaksi, si anak malah membuang muka. Sempat sedikit terpercik api kemarahan dari raut wajahnya. Bapaknya dengan ramah menjawab,”Iya, dia habis jatuh, Tulang. Dari tadi sudah aku bilang supaya berhenti. Tak digubrisnya pula. Sekarang, pakai acara jatuh pula. Dasar anak-anak. Susah kali diberi tahu”

Dari dalam dapur, terdengar sahutan si Ompung Boru yang sedang bikin kopi, “Sudahlah, Ucok! Minta aja ke Bapakmu supaya dibelikan burung yang baru. Burungmu yang lepas itu, pasti sudah terbang jauh.  Ngapain pula kau kejar-kejar. Macam anak orang susah aja kau ini!”

Hah!!!!!

Surabaya, 29 Juni 2007