Setitik Harapan dan Warisan Dari Hutan Jati

jatiKawasan penanaman hutan jati Bangilan-Tuban, Jatim 1985.

Papa saya (P): Bang, bapak2 ini besar kemungkinan tidak akan melihat proses penebangan pohon yg ditanamnya saat ini…

Saya (S): kenapa, Pa?

P: Umur jati yg siap panen di atas 60 tahun, di atas 70 tahun lebih baik…

S: Kenapa mereka demikian semangat waktu menanam? merawatnya juga aku lihat tekun dan rajin (sambil melihat ke lokasi lain yang ditanami jati berumur sekitar 10 tahun)

P: Mereka berharap, keturunan mereka nanti yang menebang. Mereka tidak meninggalkan uang kepada keturunan mereka karena miskin. Tapi mereka masih berharap mampu meninggalkan pekerjaan bagi anak2 mereka, ya menebang kayu jati yang layak ditebang.

~Terima kasih untuk papaku SSP Tambunan, yang selalu mengajarkan nilai2 kehidupan kepadaku hingga hari ini…..~

Buku: Menjadi Pakar Dalam MasterCAM Lathe Versi 9

Mastercam Lathe-Cover

Sinopsis

Mastercam Lathe Versi 9 adalah perangkat lunak CAD/CAM yang sering diterapkan pada industri manufaktur, khususnya untuk meningkatkan produktifitas salah satu proses permesinan (machining) yang dikenal luas dengan istilah proses pembubutan (turning process). Proses pembubutan yang menggunakan Mastercam Lathe adalah proses pembubutan berbasiskan CNC (Computer Numerical Control).

Penulis: Tigor Tambunan

ISBN: 979-007-073-X

Penerbit: Restu Agung, Jakarta

Tahun terbit: 2008

Buku: Menjadi Pakar dalam MasterCAM Mill Versi 9

 

Menjadi Pakar dalam Mastercam Mill

Penulis: Tigor Tambunan

ISBN: 979-007-069-1

Penerbit: Restu Agung Jakarta

Isi buku (dilengkapi CD tutorial):

Sesuai judul buku, fokus utama isi buku adalah bagaimana cara menggunakan software MasterCAM Mill versi 9 dalam proses permesinan (milling).

Sub-materi yang dibahas antara lain:

  • Membuat contour toolpath, drill toolpath, pocket toolpath, face toolpath, surface toolpath.
  • Cara membuat Numerical Control (NC) program secara cepat, serta;
  • Beberapa informasi teknis seputar endmill.

 

Pak Tigor, kenal Pak Tambunan?

STBT6Setiap kali mengenalkan diri di kelas, aku biasa menyebut sambil menuliskan namaku di papan tulis. Tigor Tambunan, lengkap seperti itu kutulis.

“Memanggil Bapak enaknya gimana, Pak?” hehehe…aku maklum banget dengan pertanyaan seperti ini. Namaku masih cukup aneh bagi kuping sebagian mahasiswaku yang berasal dari Jawa, khususnya Jawa Timur.

“Terserah kalian. Orang Batak kalau sudah menikah, apalagi sudah punya anak, biasa dipanggil dengan marganya. Jadi kalian bisa panggil saya dengan Pak Tambunan.”

“Kalau Pak Tigor boleh apa tidak, Pak?”

“Terserah kalian sajalah,” jawabku sambil tersenyum.

Yah begitulah. Setidaknya ada dua nama resmi panggilanku di kampus. Tapi yang paling biasa didengar adalah “Pak Tigor”. Yang memanggil “Pak Tambunan” hanya hitungan jari.

Resmi? Hahaha…berarti ada yang tidak resmi? Ya iyalah. Gelar dan sebutan-sebutan “sayang” untuk dosen sudah bukan barang aneh di kehidupan kampus.

Secara tidak sengaja, beberapa kali aku mendengar mahasiswa menyebut namaku dengan istilah “Mr. T” (mister ti), “Pak T”, “Papa T-Bob”…Itu yang aku tahu. Aku yakin masih ada lagi gelar atau “nama-nama kesayangan” yang beredar khusus di tengah-tengah mahasiswa yang pasti tidak (atau belum) aku ketahui…. 😀

***

Hari ini, sekitar jam 13.00 siang -setelah jam istirahat- iseng-iseng aku mampir ke ruang komputer dosen untuk sebuah keperluan. Waktu kubuka pintu, kulihat hanya ada satu orang rekan dosen, siapa lagi kalau bukan sang penunggu ruangan.

Setelah berbasa-basi beberapa detik dengan sang penunggu..:D…, aku langsung menuju ke salah satu komputer yang kebetulan paling dekat dengan pintu masuk.

Selang beberapa saat, kulihat pintu ruangan terbuka. Sebutir kelapa…ehhh…maksudku kepala mahasiswa, muncul dari sela-sela pintu yang terkuak beberapa cm. Melihat aku ada di komputer dekat pintu, dia pun menyapaku dengan sangat sopan, “Halo, Pak Tigor. “

“Halo,” jawabku juga. Aku belum hafal ingat namanya, makanya tidak kusebut. Khawatir salah 🙂

Dari ekor mataku kulihat dia mencari “sesuatu”. Karena dia tidak bertanya apa-apa, aku cuek saja. Kesibukankupun kulanjutkan.

Tidak menemukan apa yang dicarinya, diapun menutup pintu tanpa sempat berpamitan.

***

Beberapa menit kemudian, seorang rekan dosen membuka pintu, “Lho, Pak Tigor di sini?”

“Iya. Kenapa, Pak Toni?” tanyaku.

“Tadi ada mahasiswa cari Pak Tigor…”

“Seperti apa mahasiswanya, Pak?” tanyaku.

“Cowok.  Anaknya agak tinggi, pakai kacamata,” katanya.

“Hmm….itu kan anak yang buka pintu tadi dan negur aku?” pikirku.

“O…anak itu, ya. Tadi dia ke sini tapi tidak bilang apa-apa tuh.”

“Tapi dia bilang ke saya kalau cari sudah Pak Tigor ke mana-mana tapi tidak ketemu. Tadi, katanya, dia juga sudah mampir ke ruangan ini, juga nggak ketemu Pak Tigor”

Hmmm…koq aneh, ya. Dari tadi aku ada di ruangan ini, dan tidak pernah ke luar walaupun sebentar.

Lagipula -seingatku- ilmu menghilangkan diriku masih belum sehebat itu..belum bisa sim salabim, terus blusssss….hilang dari pandangan mata orang….

Bahkan sampai hari ini, kalau menghilang dari kampus, aku masih pakai mantra dasar   “ijin tidak masuk karena sakit” …..wkwkwk

***

Satu jam kemudian, Pak Toni tadi meninggalkan ruangan.

Aku masih bertahan dengan komputer di depanku. Sendirian. Sang penunggu entah ke mana.

Dan…pintu kembali terbuka…

Kulihat mahasiswa yang tadi membuka pintu ketika aku baru sampai di ruangan,..sekaligus mahasiswa dengan ciri-ciri yang sama seperti dibilang rekan dosen tadi kembali menampakkan dirinya….wajahnya cukup galau….

“Halo, Pak Tigor,” sapanya. Tetap sopan….

“Halo, kamu cari siapa. Koq sepertinya bingung banget,” tanyaku.

“Iya nih, Pak Tigor. Saya dari tadi mondar-mandir cari seorang dosen, tapi nggak ketemu-ketemu,” katanya.

Lanjutnya, “Saya sepertinya dikerjain sama Pak Toni, nih. Tadi beliau bilang yang saya cari ada di ruang komputer dosen. Ternyata yang ada hanya Pak Tigor.”

“Oooo…,dari tadi saya sendiri. Sempat sih berdua dengan Pak Toni,” kataku.

“Ya, sudahlah. Pak. Saya pamit dulu, Pak Tigor, “ katanya.

“Ok…Yang sabar, ya.”

***

Tidak terasa sudah cukup lama aku mendekam dalam ruangan ini. Urusan menjawab beberapa email penting, memperbaiki sebuah makalah, dan download sejumlah paper membuat aku bertahan hampir 3,5 jam di ruangan komputer dosen.

Pintu ruangan kembali terbuka, kali ini gerakannya agak keras. Cukup membuatku kaget.

“Nggak sopan juga cara orang ini buka pintu,” pikirku.

Dan…..ya, ampun….anak ini lagi???!!!!

Hampir aku maki, tapi melihat tampangnya yang melas banget, batal deh…hahaha…

“Sore, Pak Tigor,” dengan nada ramah yang sedikit dipaksakan…:D

“Hai,…lho, kamu lagi???” tanyaku.

“Iya, Pak. Aduh capek banget, Pak. Benar-benar menjengkelkan. Sudah lebih tiga jam saya cari Pak Dosen yang satu ini, susahnya amit-amit…”

“Semua orang bilang si Bapak ada di ruang komputer dosen, tapi tidak sekalipun saya ketemu…”

Wajahnya benar-benar kusut…seperti kain katun 100% yang habis dicuci.

“Kamu cari siapa sih?” tanyaku penasaran.

“Cari dosen baru, Pak Tigor.”

“Dosen baru??? Namanya siapa?” seingatku, beberapa bulan sejak aku masuk belum ada dosen baru yang masuk.

“Namanya Pak Tambunan, Pak. Seperti apa sih orangnya, Pak?”

Hah?????????!!!!!!