Bisnis Bali: Produk Elektronik Ramah Lingkungan

Bisnis Bali,23 Februari 2011

Beberapa bulan belakangan, makin banyak media cetak yang memberikan ruang cukup luas bagi artikel -artikel (nonkomersial) yang membahas produk-produk elektronik berteknologi ramah lingkungan. Seperti penyejuk udara atau AC yang lebih hemat listrik, mesin cuci yang hemat listrik, air, dan deterjen, dan sebagainya.

Bentuk- bentuk partisipasi media massa dalam hal pendidikan lingkungan bagi masyarakat seperti ini pantas dihargai, mengingat pengetahuan dan kepedulian masyarakat kita terhadap masalah lingkungan masih jauh sekali dari yang kita harapkan.

AC hemat listrik dipersepsikan tidak bisa mendinginkan ruangan secara optimal, mesin cuci yang hemat listrik atau hemat air dianggap tidak dapat menghasilkan cucian yang bersih, perangkat audio video yang berukuran kecil dan ringan, kualitasnya dinilai tidak sebaik perangkat yang lebih besar atau lebih berat. Produk-produk ramah lingkungan juga diyakini lebih mudah rusak, umurnya pun lebih pendek.

Dan persepsi negatif yang cukup mematikan semangat para produsen untuk mengembangkan produk elektronik ramah lingkungan ini adalah, kalau mereka memposisikan produknya sebagai produk berkualitas tinggi, produk yang dimaksud dengan cepat mendapat gelar produk mahal yang segmen pasarnya sangat terbatas alias susah laku!

Persepsi-persepsi negatif tentang kinerja produk ramah lingkungan masih banyak beredar di masyarakat kita. Persepsi semacam ini harus dikikis. Masyarakat harus terus dididik dan diberi informasi yang sebenar-benarnya tentang konsep produk ramah lingkungan.

Eco-labels

Secara umum, produk ramah lingkungan ( eco-frienldy product ) didefinisikan sebagai produk yang seluruh aspek fisik dan operasional di tiap tahap siklus hidupnya- tidak berbahaya bagi lingkungan. Produk ramah lingkungan dirancang, dibuat, dan dievaluasi dengan menerapkan segala bentuk inovasi dan teknologi yang difokuskan pada pengurangan dampak-dampak yang membahayakan lingkungan ( green product evaluation mechanism ).

Pertanyaan konsumen terhadap produk-produk elektronik ramah lingkungan yang baru saja melakukan penetrasi ke pasar umumnya jauh lebih banyak dibanding pertanyaan untuk produk-produk “biasa” yang berteknologi baru. “Berat produknya berapa? Listriknya irit atau tidak? Adakah bahan-bahan tertentu yang berbahaya bagi kesehatan konsumen di dalam produk? Berapa kira-kira umur operasional produk? Tahan lama atau tidak?” Tertangkap sedikit kesan, konsumen cenderung meragukan kinerja produk-produk ramah lingkungan.

Apalagi menurut beberapa konsumen- tidak sulit mengukur tingkat keramahlingkungan sebuah produk elektronik. Pengurangan jumlah tagihan listrik paska penggunaan AC atau televisi berteknologi hemat listrik dalam pemakaian normal merupakan tolok ukur praktis untuk membuktikan penggunakan produk-produk ramah lingkungan memberikan keuntungan yang nyata, baik secara finansial maupun dari sisi lingkungan. Kenyataan ini tidak perlu disikapi secara pesimis oleh produsen produk-produk ramah lingkungan. Pertanyaan-pertanyaan tadi justru dapat dimanfaatkan untuk melakukan pendidikan lingkungan terhadap pasar.

Produsen yang memiliki komitmen penuh terhadap kelestarian lingkungan, tidak perlu ragu mendeklarasikan selengkap mungkin informasi lingkungan yang ada pada produknya ( eco-declaration ). Panasonic, LG, Nokia, dan Samsung adalah beberapa di antaranya. Nokia dalam eco-profile -nya, bahkan mencantumkan rekam jejak dampak lingkungan yang diakibatkan oleh produknya. Contohnya, dampak lingkungan yang dihasilkan oleh Nokia tipe X2 (tahun 2010) tinggal sepertiga dampak lingkungan Nokia type 3310 (tahun 2000). Informasi lingkungan ( eco-profile ) yang lengkap justru akan memantapkan niat konsumen untuk membeli produk.

Lalu, produk elektronik seperti apakah yang aspek keramah-lingkungan dapat dipertanggungjawabkan sehingga layak dibeli konsumen? Secara praktis, simbul-simbul ramah lingkungan ( eco-labels ) seperti simbul dapat didaur-ulang ( recyclable ), simbul dibuat dari material ramah lingkungan, simbul terstandarisasi dari organisasi-organisasi lingkungan yang tertera pada produk dapat dijadikan patokan untuk menilai keramahlingkungan sebuah produk.

Contohnya, jika ada sebuah produk televisi LCD memperoleh eco-label Euro Flower berarti produk televisi tersebut menggunakan daya kurang dari 1 watt saat standby (standar ini berhasil diraih oleh Sharp). Lebih dari 78% produk televisi LG telah menerima eco-label Energy Star. Artinya, sebagian besar televisi LG adalah produk-produk yang hemat energi. Sementara itu 100% produk monitor komputer LG menerima eco-label EPEAT ( Electronic Product Environmental Assessment Tool ) pada tingkat silver yang artinya produk monitor LG memenuhi segala kriteria pokok kinerja lingkungan dan 50% kinerja pilihan (tambahan). Sebagai tambahan informasi, sebuah produk baru memperoleh EPEAT gold jika sudah memenuhi seluruh kriteria pokok kinerja lingkungan dan sekurang-kurangnya 75% kinerja pilihan (tambahan).

Penghematan Itu Fakta

Keramahlingkungan sebuah produk memang belum menjadi faktor pertimbangan utama para konsumen saat membeli sebuah produk elektronik. Sedikit banyak kondisi ini menyebabkan penambahan kategori dan varian produk elektronik ramah lingkungan tidak secepat produk-produk elektronik “biasa“. Untuk produk-produk “biasa”, situasi persaingan yang umum terjadi adalah produsen adu cepat masuk ke pasar.

Tapi untuk produk ramah lingkungan, kesan yang tertangkap adalah adanya situasi saling menunggu di antara sesama produsen. Kalau tanggapan pasar terhadap kehadiran sebuah produk elektronik ramah lingkungan yang tergolong baru bersifat positif, produsen yang lain baru menyusul. Perkembangan produk elektronik ramah lingkungan akhirnya sangat tergantung pada pertumbuhan kesadaran lingkungan konsumen. Sudah sewajarnya jika kemudian konsumen menghendaki keuntungan yang nyata dan signifikan nilainya saat menggunakan produk elektronik ramah lingkungan.

Tidak masalah kalau tujuan awal atau alasan utama konsumen saat membeli produk-produk elektronik ramah lingkungan adalah untuk penghematan finansial dan belum sepenuhnya berorientasi pada lingkungan. Paling tidak, alasan finansial tadi akan memperkuat fakta bahwa bahwa produk-produk ramah lingkungan adalah produk yang ramah di kantong, khususnya saat dalam masa operasional.

Membeli produk elektronik yang ramah lingkungan jelas bukan hanya untuk memuluskan pencapaian visi lingkungan pihak produsen. Membeli produk ramah lingkungan berarti berkontribusi secara nyata dalam upaya penyelamatan lingkungan. Membeli produk elektronik yang ramah lingkungan, berarti ikut menyelamatkan isi kantong.

 Penulis adalah Ketua Jurusan dan Dosen Teknik Industri Sekolah Tinggi Teknik Surabaya (STTS).

Link: http://www.bisnisbali.com/2011/02/23/news/opini/lo.html

Advertisements