Jangan mau dibohongi pakai tulisan saya….

sateSuatu hari saya menulis kalimat penutup kuliah di papan tulis begini, “Kalau tidak punya uang, jangan makan sate kambing.”

Menjelang kelas berakhir, beberapa mahasiswa saya lihat memotret tulisan saya pakai kamera hp nya.



Beberapa hari kemudian, saya didatangi salah satu mahasiswa yang absen saat saya membuat tulisan terdahulu, “Pak, apa benar kalau tidak punya uang, saya tidak boleh makan sate kambing?” tanyanya sambil menunjukkan foto tulisan saya di hp pintarnya

Saya pun tertawa, “Kamu jangan mau dibohongi pakai tulisan saya….”
“Tapi tulisan Bapak kan begitu?” tanyanya lagi, “Berarti tulisan Bapak bohong, dong?”
“Eitss…jangan ngomong sembarangan, kalau tulisan saya bohong, berarti saya sebagai penulisnya bohong, dong?”
“Tapi tadi Bapak bilang begitu, kan?” katanya.
“Dengar kalimat saya sekali lagi. Kamu jangan mau dibohongi pakai tulisan saya. Kawanmu yang bohong. Dia pakai tulisan saya untuk membohongimu. Tulisan yang kamu baca di hp itu, ada penjelasan sebelumnya. Salah satunya begini, kalau nanti atau suatu saat kamu sudah kerja. Terus di akhir bulan uangmu habis, ya jangan maksa beli sate kambing. Jangan boros! Tidak perlu belagak punya duit. Tapi kalau waktu kamu tidak punya uang, ada yang ngasih sate kambing. Ya makan aja…. wkwkwk”
“Oooo…. begitu ya, Pak…”
“Makanya rajin kuliah. Jangan cuma belajar fotocopy-an, apalagi lewat medsos…”
Advertisements

Dasi….lagi…..:D

dasi2

Aku lihat jam mobilku. Masih pukul 07.56 pagi sih sebenarnya.

Bukan karena aku karyawan baru, bukan bermaksud pamer di depan kawan-kawan dosen lain, apalagi mau cari muka ke atasan,  aku datang sepagi ini karena salah satu kebiasaan “baik” di tempat kerja yang lama masih ‘nyangkut sedikit di otakku.

Ya, meski tinggal lima sampai sepuluh persen lah! 😀

Hari ini aku mengajar mata kuliah Manajemen Pemasaran.

***

Pemandangan di kelas terlihat lain dari biasanya.

Semua mahasiswa pakai dasi.

Beberapa terlihat sangat kikuk.

Beberapa lagi kelihatan sangat pede.

“Bagaimana rasanya pakai dasi?” tanyaku.

“Gatal, Pak!”

“Pak, pake dong dasinya seperti kami,” usul seorang mahasiswa.

“Enak aja! Emangnya saya salesman!” gurauku.

Aku memang sengaja tidak pakai dasi. Lagi “M” alias males..:D

Tugas hari ini adalah presentasi tentang 4P.

Suasana perkuliahan penuh dengan gelak tawa.

Pasalnya, semua mahasiswa mendadak jadi pakar busana.

Yang warna dasi tidak sesuai dengan warna bajulah….

Dasinya kegedeanlah…yang miringlah….

Masangnya kependekan atau kepanjanganlah….dsb dsb dsb…

Semua dikomentari…

Pokoknya, ribut banget!

Padahal, di kanan kiri kelasku masih ada kuliah dosen lain. “Pasti nanti ada komplain waktu rapat dosen,” pikirku.

Biar saja, komplain urusan belakang. Yang penting mahasiswa mendapat pengalaman baru.

Learning by doing, experential learning, or apapun  lah istilahnya. Aku percaya banget dengan efektifitas konsep belajar yang satu ini.

Kuliah baru berjalan 20 menit, kulihat dua pasang kaki berhadap-hadapan di balik pintu kaca tempatku mengajar.

Bagian lutut ke atas tidak terlihat, karena ditutupi lapisan buram yang menempel di kaca pintu.

Hmm……

….

….

….

Pintu kubuka. Dan tawapun seketika meledak.

Dua mahasiswa di depan pintu tadi terperanjat.

Mereka tidak dapat menyembunyikan kekagetannya waktu pintu terbuka.

Keduanya “tertangkap basah” sedang saling mencoba membantu mengenakan dasi satu sama lain….Terlihat mesra…wkwkwk

Dan….gagal total!!!! Hahaha…

“Kenapa tidak pakai dari rumah?”

“Malu, Pak.”

Ada-ada saja, lalu mereka kusuruh masuk dan memasang dasi di dalam kelas.

***

Kira-kira menjelang akhir perkuliahan, terdengar suara ketukan.

“Masuk!” perintahku.

Makhluk di balik pintu tidak bereaksi.

“Silakan masuk!” kuulangi dengan volume suara yang lebih keras.

Tak juga ada reaksi.

Aku berjalan menuju pintu. Pintu kubuka. “Kenapa nggak masuk? Kan sudah saya suruh masuk tadi? Ayo duduk.”

Mahasiswaku tadi akhirnya masuk.

Dandanan luar biasa berantakan.

Ujung dasi yang kecil terlihat lebih panjang daripada ujung yang besar.

Bajunya basah, penuh keringat. Bau badannya yang demikian tajam langsung  menyergap hidungku.

Wuih!!! Anak ini pasti sedang stres berat!

“Kenapa baru datang? Untung kelompokmu belum dapat giliran presentasi.”

“Sa…sa…saya nggak bisa pakai dasi, Pak,” jawabnya terbata-bata, memelas sekali wajahnya.

Kontan suara tawa membahana (lagi) di dalam kelas.

“Sana, gabung dengan kelompokmu. Nanti kamu yang bagian presentasi, ya!” Sengaja aku kerjain dia.

“Bagaimana kelompok tiga. Setuju dengan usulan saya?”

“Setuju banget, Pak!” Serentak empat orang anggota kelompok tersebut menyahut. Si mahasiswapun makin lemas.

Dasi, oh dasi!