Perangkap itu Bernama IP

stabilitasDalam sebuah obrolan ringan, seorang mahasiswa bertanya kepada saya.

“Pak, kemarin saya baca di sebuah tulisan tentang kewirausahaan, IP tinggi itu tidak penting dalam dunia kerja”

“Lalu apa yang penting?” saya pun bertanya.

“Menurut artikel itu, yang penting adalah kreatifitas dan semangat juang. Bagaimana menurut Bapak?”

“Betul!!! Tulisan dalam artikel itu benar sekali….,” jawab saya sambil mengacungkan jempol.

“Ah….Bapak benar-benar dosen yang mengerti kondisi mahasiswa seperti saya, ternyata kita sependapat ya, Pak…,” tukasnya sambil tersenyum lebar sekali.

Saya pun tersenyum, tapi tidak selebar dia, “Ah, masak iya kita sependapat? Berapa IP mu sekarang?”

Dengan mantap dia menjawab, “Dua lebih dikit-dikitlah, Pak. Tapi itu tidak terlalu penting lagi buat saya sekarang, Pak. Artikel tadi dan pendapat Bapak, benar-benar membawa pencerahan bagi saya…”

Hahaha… nih anak sedang mencari pembelaan diri rupanya

“Hehehe….. tulisan dalam artikel tadi benar, tapi pendapatmu salah…”

“Lho, koq gitu, Pak?!” tanyanya sambil sedikit mengerutkan dahi.

“IP dan IPK tinggi itu tidak penting dalam dunia kerja. Tapi sangat penting di sekolah atau perkuliahan….”

“IPK adalah salah satu indikator yang paling mudah digunakan untuk melihat seberapa serius seorang mahasiswa menjalani kehidupan akademiknya…” saya pun melanjutkan.

“Tapi kan tidak berarti orang yang IP dan IPK nya tinggi pasti sukses nantinya, Pak?” Dia masih tidak terima.

“Hehehe… tidak ada manusia yang bisa meramalkan kehidupannya di masa depan. Yang jelas, mahasiswa yang ber-IP tinggi, jelas lebih sukses di perkuliahan daripada mahasiswa yang mahasiswa yang ber-IP rendah. Kalau kemudian ketika keduanya lulus, dan sang mahasiswa yang tadinya ber-IP lebih rendah ternyata kehidupan sosial ekonominya lebih baik, banyak sekali faktor yang mempengaruhinya. Dua di antara sekian banyak adalah kreatifitas dan semangat juang seperti di artikel yang kamu baca”

Seperti dapat angin segar, dia pun berkomentar, “Yaaaa….nanti akan saya tunjukkan kreatifitas dan semangat juang saya setelah lulus, Pak… Saya pasti tidak kalah dengan mereka yang IP nya tinggi-tinggi”

Ganti saya yang mengernyitkan dahi, “Kenapa harus tunggu lulus?”

“IP saya sudah terlanjur hancur, Pak” jawabnya jujur.

“Nah, kamu baru saja melakukan hal positif!”

“Positif apaan, Pak?”

“Kamu baru saja mengaku kalau IP mu saat ini adalah sebuah bentuk kegagalan. Hanya orang yang berniat jadi orang berhasil saja yang mau mengakui kegagalan. Dan itu positif.”

Dia terdiam. Matanya terlihat bergerak-gerak, pertanda dia sedang memikirkan sesuatu.

“Kamu cari artikel tadi hanya untuk membungkus kegagalanmu supaya tidak terlihat oleh orang lain, bukan?”

“Terus apa yang harus saya lakukan, Pak?” tanyanya.

“Berusahalah secerdas dan sekeras mungkin supaya IP mu maksimal, lebih tinggi dari IP mu saat ini. Bukan supaya IP mu bisa melewati kawan-kawanmu yang IP dan IPK sudah tinggi, tapi untuk mengukur, sejauh mana kamu mampu membangkitkan semangat juang dan kreatifitas dalam dirimu. Anggap saja ini sebagai ajang meningkatkan putaran mesin motor “semangat” mu, sehingga ketika mencapai putaran tertentu kamu akan melompat jauh ke depan… Ya waktu kamu lulus nanti….“

Saya perhatikan, dia mendengarkan saya sambil mencabut-cabut dagunya yang tidak berjenggot… hehehe….

“Nah, satu lagi yang harus kamu catat karena mungkin tidak tertulis di artikel yang kamu baca tadi. Manusia-manusia dalam kondisi stabil, saya menyebutnya statis, termasuk kawan-kawanmu yang IP dan IPK nya tinggi dan stabil, tidak jarang terperangkap dalam situasi statis tadi. Perangkap ini sangat mematikan bagi kreatifitas dan semangat juang dalam diri seseorang. Bahkan bisa menular ke orang-orang di sekitarnya. Jadi, berusahalah keras menjadi kreatif, untuk menghilangkan perangkap situasi statis dan membosankan yang mematikan kreatifitas dan semangat juang….”

Setelah saya ngomong itu, saya lihat dia menggaruk-garuk rambutnya. Saya tidak tahu dia paham atau tidak dengan apa yang saya bicarakan, yang jelas saya sendiri baru sadar dengan apa yang saya ucapkan tadi, “…berusahalah keras menjadi kreatif, untuk menghilangkan perangkap situasi statis dan membosankan yang mematikan kreatifitas dan semangat juang….”

Hmmm….. tidak jarang hal-hal positif yang kita lontarkan untuk orang lain ternyata jauh lebih cocok untuk diri sendiri…. 😀

 

Advertisements

Makan tuh gengsi… ;)

motor
Usai perkuliahan Kewirausahaan, seorang mahasiswa (M) datang menghampiri saya (S) dengan penuh semangat…

M: Pak, gara-gara materi kuliah hari ini. Saya jadi pengen banget usaha. Saya sudah punya ide, dan saya yakin ide ini pasti berhasil… 🙂
S: Sippp… Kalau begitu kerjakan… jangan berpikir terlalu panjang… 🙂
M: Itu dia masalahnya, Pak. Saya belum punya modal. Ide saya ini butuh modal sekitar 5 jutaan… 😦
S: Kamu punya motor, kan?
M: Punya, Pak. Emangnya kenapa, Pak?
S: Motor itu kamu pakai sendiri atau juga dipakai orang rumah?
M: Motor saya sendiri, Pak. Hadiah karena saya kuliah.
S: Berapa harganya kalau dijual? Kira-kira saja…
M: Paling tidak Rp 12jt, Pak. Itu kan motor baru. Masih tinggi harganya, Pak.
S: Ok. Sekarang jual motormu. Cari motor 6jt an, 6jt lagi buat modal usahamu.
M: Lho, kan berarti saya naik motor bekas, Pak?
S: Masalah rupanya? Kalau kamu jalankan usahamu dengan serius, tahun depan kamu bisa punya lebih dari sekedar sebuah sepeda motor baru…
M: Tapi, pak….Masak saya naik motor bekaaasssss… 😦

~Hahaha…benar, kan? gengsi adalah salah satu penghalang anak muda berwirausaha…~

Bisnis Bali: Kewirausahaan dalam Kurikulum Pendidikan

Bisnis Bali, 12 Februari 2010

Seorang siswa kelas 6 sebuah SD swasta menjual file MP3 beberapa lagu populer kepada teman-temannya sesama siswa pemilik ponsel di sekolahnya.

Pesan promosionalnya, “Lagunya baru-baru, harganya lebih murah daripada download di XXXX (sambil menyebut beberapa nama operator jaringan ponsel)”. Lagu-lagu tadi diunduhnya dari internet secara gratis. Legal? Pasti tidak.

Masih di kelas yang sama, siswa lainnya menjual dompet ponsel dengan harga lebih murah dibanding harga barang yang sama di counter-counter aksesoris ponsel pada umumnya.

Tidak perlu langsung bayar! Barang boleh dibawa pulang dulu untuk minta persetujuan orang tua masing-masing. Kalau setuju, pembayaran bisa diangsur dua kali! (Sepertinya) sadar, kecil kemungkinan kawan-kawannya membeli produk itu lebih dari satu, sesekali sang siswa membawa casing ponsel beraneka warna atau stiker-stiker bergambar tokoh-tokoh kartun anak-anak yang sedang nge-tren.

Dan lagi-lagi- harganya sangat murah. Hebatnya, beberapa guru dan orang tua siswa ternyata ikut kepincut membeli produk-produk yang ditawarkannya!

Selidik punya selidik, transaksi jual beli oleh siswa-siswa di sekolah ini ternyata juga terjadi hampir di setiap kelas di SD ini. Lini produk yang ”diperdagangkan” sangat bervariasi. Tapi semuanya merupakan produk untuk anak-anak.

Apakah di SD tadi diajarkan pelajaran bisnis atau kewirausahaan? Sama sekali tidak. Satu dua anak mengaku ide berdagang tadi adalah inisiatif murni sang siswa yang terinspirasi aktivitas bisnis sehari-hari yang yang dijalankan oleh orang tuanya, sebagian lagi mengaku karena didorong (catatan: tidak dipaksa) untuk berjualan oleh orang tuanya.

Seolah mengkonfirmasi kebenaran hasil penelitian Shapiro (1975) yang menyatakan 50% lebih dari wirausahawan yang ditelitinya ternyata adalah anak-anak wirausahawan, hampir 100% ”pedagang-pedagang kecil” di SD swasta tadi ternyata anak para pedagang juga.

Di perguruan tinggi, sejarah panjang perjalanan bisnis Harland Sanders dengan KFC-nya; kisah bagaimana Coca-Cola yang semula dirancang sebagai obat akhirnya menjadi salah satu minuman ringan paling laris di dunia; bermula dari memperhatikan anak perempuannya yang memainkan beberapa peran orang dewasa pada bonekanya, Ruth-Handler (sang ibu) akhirnya menciptakan boneka bernama Barbie; sudah menjadi materi perkuliahan berbagai sub-bidang ilmu manajemen di Indonesia sejak puluhan tahun lalu.

Demikian pula pelajaran-pelajaran/ materi perkuliahan tentang pembentukan keahlian/ kecakapan individual, manajemen modal, manajemen organisasi, kepemimpinan, termasuk pengetahuan untuk membaca peluang bisnis, semuanya itu sebenarnya telah menjadi bagian dari pendidikan formal sejak lama di negeri ini.

Jadi, siapa bilang materi kewirausahaan jarang diberikan di bangku formal? Tapi apakah hal itu akan secara otomatis membangkitkan jumlah wirausahawan di Indonesia? Tidak, bukan?

Kalau begitu, apakah fakta-fakta di atas membuktikan bahwa kewirausahaan sukar/ tidak bisa diajarkan secara formal?

Pelajaran kewirausahaan?

Ilmu kewirausahaan adalah ilmu tentang keberanian dan semangat untuk melakukan tindakan-tindakan ekonomi yang mengarah pada terwujudnya kemandirian sesosok individu dalam menjalani hidupnya di tengah-tengah masyarakat. Unsur keberanian dikaitkan dengan pengenalan seseorang secara mendalam terhadap segala resiko kegagalan yang bakal dihadapinya ketika berbisnis.

Sedangkan unsur semangat berhubungan dengan komitmen seseorang untuk melakukan perbaikan tindakan secara terus menerus ( continuous improvement ) melalui sebuah organisasi (baca: perusahaan) yang dibangunnya sendiri (Gartner, 1985). Carton et al (1998) menyatakan, proses pembelajaran kewirausahaan sebenarnya baru dimulai ketika sang pembelajar mulai berwirausaha ( learning by doing ). Rentang waktu pembelajarannya tidak terbatas. Ujian akan dihadapi oleh sang pembelajar di sepanjang waktu dengan bentuk permasalahan yang sangat dinamis.

Banyak kisah di negara-negara berkembang menunjukkan; keterpurukan, keterpaksaan, kepasrahan, ketidaksengajaan (atau kombinasinya) adalah faktor-faktor situasional dan kondisional yang menjadi latar belakang seseorang berwirausaha. Kompleksitas situasional dan kondisional semacan ini sepertinya tidak dapat dijelaskan (baca: diajarkan), melalui konsep-konsep simulasi bisnis terkompleks sekalipun.

Contoh sederhana, tidak mudah bagi kita membayangkan kekesalan seorang pedagang yang terpaksa merugi Rp 200 karena tidak memiliki dua keping uang logam kembalian dan terpaksa membayangkannya sebagai keuntungan tambahan tidak terduga bagi para pembeli; sukar membayangkan betapa gembiranya hati ini ketika permintaan terhadap produk yang dihasilkan jauh di atas perkiraan kita, tapi sekaligus menjadi duka karena kapasitas produksi yang kita miliki masih sangat minim; atau membayangkan kesalnya hati seorang pemilik restoran yang terpaksa menuruti permintaan tambahan air dari seorang pelanggan yang sudah menghabiskan setengah gelas teh manisnya dengan alasan terlalu manis.

Terlalu banyak kendala material yang bersifat praktis bakal menghadang efektivitas formalisasi pendidikan kewirausahaan. Materi-materi pemasaran modern, kualitas pelayanan, customer relationship management , dan sejenisnya teoritis maupun terapan- tidak akan mampu menampung apalagi mencerna situasi-situasi nyata di lapangan tadi.

Kalau tetap dipaksakan untuk masuk ke kurikulum, besar kemungkinan materi kewirausahaan tidak ada bedanya dengan pelajaran/ mata kuliah-mata kuliah manajemen yang sudah lebih dahulu ada. Hanya ganti ”baju”!

Tidak perlu formal

Pengelola sistem pendidikan tidak perlu terburu-buru membongkar kurikulum atau menyusun ulang materi pelajaran/ mata kuliah kewirausahaan, karena “roh” dari pembelajaran kewirausahaan adalah “melakukan” ( experiential learning ), bukan melihat atau mendengarkan.

Sedangkan kita semua tahu, kalau sebagian besar sistem pendidikan kita (mulai dari jenjang terendah hingga perguruan tinggi) sudah berpuluh-puluh tahun dibangun di atas pondasi pembelajaran melihat ( watching ) dan mendengarkan ( listening ) tadi. Empat hal berikut asal dilakukan secara serius pada setiap pelajaran sudah lebih dari cukup untuk memupuk jiwa kewirausahaan para siswa/ mahasiswa.

Pertama, guru atau dosen harus kreatif mencari cara agar siswa selalu berani mengeluarkan ide-ide segar dan berani berpikir ” out of the box ” di seluruh mata pelajaran/ mata kuliah. Kedua, siswa harus terus menerus didorong untuk mewujudkan ide-ide segarnya, sesederhana apapun ide tersebut. Ketiga, jangan halangi siswa untuk berpikir tentang uang dan tentang mencari uang.

Urusan kewirausahaan tidak bisa dilepaskan dengan urusan uang. Kalau pro-kontra di kalangan orang tua siswa maupun para guru masih muncul ketika urusan mencari ”uang” dihadapkan dengan urusan mencari ”ilmu”, mengapa tidak dicoba menggabung keduanya menjadi ”mencari ilmu untuk mencari uang”. Lebih menarik, bukan? Terakhir, formalisasi adalah pemaksaan yang menghasilkan keterpaksaan.

Efektifitasnya sangat rendah. Karena itu jangan memaksa siswa untuk menyenangi kewirausahaan, biarkan siswa tahu dengan sendirinya bahwa berwirausaha itu menyenangkan.

* Penulis adalah Ketua Jurusan Teknik Industri Sekolah Tinggi Teknik Surabaya (STTS)

Link: http://www.bisnisbali.com/2010/02/12/news/opini/x.html