Bisnis Bali: Kewirausahaan dalam Kurikulum Pendidikan

Bisnis Bali, 12 Februari 2010

Seorang siswa kelas 6 sebuah SD swasta menjual file MP3 beberapa lagu populer kepada teman-temannya sesama siswa pemilik ponsel di sekolahnya.

Pesan promosionalnya, “Lagunya baru-baru, harganya lebih murah daripada download di XXXX (sambil menyebut beberapa nama operator jaringan ponsel)”. Lagu-lagu tadi diunduhnya dari internet secara gratis. Legal? Pasti tidak.

Masih di kelas yang sama, siswa lainnya menjual dompet ponsel dengan harga lebih murah dibanding harga barang yang sama di counter-counter aksesoris ponsel pada umumnya.

Tidak perlu langsung bayar! Barang boleh dibawa pulang dulu untuk minta persetujuan orang tua masing-masing. Kalau setuju, pembayaran bisa diangsur dua kali! (Sepertinya) sadar, kecil kemungkinan kawan-kawannya membeli produk itu lebih dari satu, sesekali sang siswa membawa casing ponsel beraneka warna atau stiker-stiker bergambar tokoh-tokoh kartun anak-anak yang sedang nge-tren.

Dan lagi-lagi- harganya sangat murah. Hebatnya, beberapa guru dan orang tua siswa ternyata ikut kepincut membeli produk-produk yang ditawarkannya!

Selidik punya selidik, transaksi jual beli oleh siswa-siswa di sekolah ini ternyata juga terjadi hampir di setiap kelas di SD ini. Lini produk yang ”diperdagangkan” sangat bervariasi. Tapi semuanya merupakan produk untuk anak-anak.

Apakah di SD tadi diajarkan pelajaran bisnis atau kewirausahaan? Sama sekali tidak. Satu dua anak mengaku ide berdagang tadi adalah inisiatif murni sang siswa yang terinspirasi aktivitas bisnis sehari-hari yang yang dijalankan oleh orang tuanya, sebagian lagi mengaku karena didorong (catatan: tidak dipaksa) untuk berjualan oleh orang tuanya.

Seolah mengkonfirmasi kebenaran hasil penelitian Shapiro (1975) yang menyatakan 50% lebih dari wirausahawan yang ditelitinya ternyata adalah anak-anak wirausahawan, hampir 100% ”pedagang-pedagang kecil” di SD swasta tadi ternyata anak para pedagang juga.

Di perguruan tinggi, sejarah panjang perjalanan bisnis Harland Sanders dengan KFC-nya; kisah bagaimana Coca-Cola yang semula dirancang sebagai obat akhirnya menjadi salah satu minuman ringan paling laris di dunia; bermula dari memperhatikan anak perempuannya yang memainkan beberapa peran orang dewasa pada bonekanya, Ruth-Handler (sang ibu) akhirnya menciptakan boneka bernama Barbie; sudah menjadi materi perkuliahan berbagai sub-bidang ilmu manajemen di Indonesia sejak puluhan tahun lalu.

Demikian pula pelajaran-pelajaran/ materi perkuliahan tentang pembentukan keahlian/ kecakapan individual, manajemen modal, manajemen organisasi, kepemimpinan, termasuk pengetahuan untuk membaca peluang bisnis, semuanya itu sebenarnya telah menjadi bagian dari pendidikan formal sejak lama di negeri ini.

Jadi, siapa bilang materi kewirausahaan jarang diberikan di bangku formal? Tapi apakah hal itu akan secara otomatis membangkitkan jumlah wirausahawan di Indonesia? Tidak, bukan?

Kalau begitu, apakah fakta-fakta di atas membuktikan bahwa kewirausahaan sukar/ tidak bisa diajarkan secara formal?

Pelajaran kewirausahaan?

Ilmu kewirausahaan adalah ilmu tentang keberanian dan semangat untuk melakukan tindakan-tindakan ekonomi yang mengarah pada terwujudnya kemandirian sesosok individu dalam menjalani hidupnya di tengah-tengah masyarakat. Unsur keberanian dikaitkan dengan pengenalan seseorang secara mendalam terhadap segala resiko kegagalan yang bakal dihadapinya ketika berbisnis.

Sedangkan unsur semangat berhubungan dengan komitmen seseorang untuk melakukan perbaikan tindakan secara terus menerus ( continuous improvement ) melalui sebuah organisasi (baca: perusahaan) yang dibangunnya sendiri (Gartner, 1985). Carton et al (1998) menyatakan, proses pembelajaran kewirausahaan sebenarnya baru dimulai ketika sang pembelajar mulai berwirausaha ( learning by doing ). Rentang waktu pembelajarannya tidak terbatas. Ujian akan dihadapi oleh sang pembelajar di sepanjang waktu dengan bentuk permasalahan yang sangat dinamis.

Banyak kisah di negara-negara berkembang menunjukkan; keterpurukan, keterpaksaan, kepasrahan, ketidaksengajaan (atau kombinasinya) adalah faktor-faktor situasional dan kondisional yang menjadi latar belakang seseorang berwirausaha. Kompleksitas situasional dan kondisional semacan ini sepertinya tidak dapat dijelaskan (baca: diajarkan), melalui konsep-konsep simulasi bisnis terkompleks sekalipun.

Contoh sederhana, tidak mudah bagi kita membayangkan kekesalan seorang pedagang yang terpaksa merugi Rp 200 karena tidak memiliki dua keping uang logam kembalian dan terpaksa membayangkannya sebagai keuntungan tambahan tidak terduga bagi para pembeli; sukar membayangkan betapa gembiranya hati ini ketika permintaan terhadap produk yang dihasilkan jauh di atas perkiraan kita, tapi sekaligus menjadi duka karena kapasitas produksi yang kita miliki masih sangat minim; atau membayangkan kesalnya hati seorang pemilik restoran yang terpaksa menuruti permintaan tambahan air dari seorang pelanggan yang sudah menghabiskan setengah gelas teh manisnya dengan alasan terlalu manis.

Terlalu banyak kendala material yang bersifat praktis bakal menghadang efektivitas formalisasi pendidikan kewirausahaan. Materi-materi pemasaran modern, kualitas pelayanan, customer relationship management , dan sejenisnya teoritis maupun terapan- tidak akan mampu menampung apalagi mencerna situasi-situasi nyata di lapangan tadi.

Kalau tetap dipaksakan untuk masuk ke kurikulum, besar kemungkinan materi kewirausahaan tidak ada bedanya dengan pelajaran/ mata kuliah-mata kuliah manajemen yang sudah lebih dahulu ada. Hanya ganti ”baju”!

Tidak perlu formal

Pengelola sistem pendidikan tidak perlu terburu-buru membongkar kurikulum atau menyusun ulang materi pelajaran/ mata kuliah kewirausahaan, karena “roh” dari pembelajaran kewirausahaan adalah “melakukan” ( experiential learning ), bukan melihat atau mendengarkan.

Sedangkan kita semua tahu, kalau sebagian besar sistem pendidikan kita (mulai dari jenjang terendah hingga perguruan tinggi) sudah berpuluh-puluh tahun dibangun di atas pondasi pembelajaran melihat ( watching ) dan mendengarkan ( listening ) tadi. Empat hal berikut asal dilakukan secara serius pada setiap pelajaran sudah lebih dari cukup untuk memupuk jiwa kewirausahaan para siswa/ mahasiswa.

Pertama, guru atau dosen harus kreatif mencari cara agar siswa selalu berani mengeluarkan ide-ide segar dan berani berpikir ” out of the box ” di seluruh mata pelajaran/ mata kuliah. Kedua, siswa harus terus menerus didorong untuk mewujudkan ide-ide segarnya, sesederhana apapun ide tersebut. Ketiga, jangan halangi siswa untuk berpikir tentang uang dan tentang mencari uang.

Urusan kewirausahaan tidak bisa dilepaskan dengan urusan uang. Kalau pro-kontra di kalangan orang tua siswa maupun para guru masih muncul ketika urusan mencari ”uang” dihadapkan dengan urusan mencari ”ilmu”, mengapa tidak dicoba menggabung keduanya menjadi ”mencari ilmu untuk mencari uang”. Lebih menarik, bukan? Terakhir, formalisasi adalah pemaksaan yang menghasilkan keterpaksaan.

Efektifitasnya sangat rendah. Karena itu jangan memaksa siswa untuk menyenangi kewirausahaan, biarkan siswa tahu dengan sendirinya bahwa berwirausaha itu menyenangkan.

* Penulis adalah Ketua Jurusan Teknik Industri Sekolah Tinggi Teknik Surabaya (STTS)

Link: http://www.bisnisbali.com/2010/02/12/news/opini/x.html

Advertisements