Bisnis Bali: Menambah Nilai Produk Kerajinan Tangan

Bisnis Bali, 12 Juni 2010

Kabar baik seputar peningkatan jumlah wisatawan asing dan domestik yang berkunjung ke Bali ternyata tidak otomatis memberikan dampak positif bagi volume perdagangan produk-produk kerajinan tangan ( handicraft ) di Bali .

Minat wisatawan untuk membeli produk-produk tersebut di beberapa pasar seni di Bali bahkan cenderung menurun beberapa tahun ini ( Bisnis Bali, 7/5/2010 ) .

Dari pengamatan terbatas, diperkirakan wisatawan mulai bosan dengan keragaman produk yang ditawarkan. Itu-itu saja dari waktu ke waktu! Kurang variatif dan kurang berkembang!

Wisatawan asing yang rajin membeli produk-produk kerajinan tangan inipun ternyata dari negara yang itu-itu juga, khususnya Australia ( Bisnis Bali, 6/5/2010 ) . Wisatawan dari negara lain, cenderung hanya melakukan “wisata cuci mata” daripada “wisata belanja”.

Pengembangan Produk

Secara teknis, produk yang dibuat dengan bantuan beberapa alat masih dikategorikan sebagai produk kerajinan tangan, selama proporsi penggunaan tangan masih dominan. Masalahnya, tidak mudah bagi para konsumen untuk mengenali apakah produk kerajinan yang hendak dibelinya dibuat secara manual (kerajinan tangan) atau 100% buatan mesin-mesin modern.

Dalam membuat setiap produknya, perajin harus mengoptimalkan talenta seninya untuk memastikan produk kerajinan yang dibuatnya benar-benar hanya bisa dibuat oleh tangan. Bukan produk kerajinan tangan yang ”terpaksa” dibuat dengan tangan karena sang perajin tidak memiliki mesin.

Masih dari Bali, ditengarai beberapa wisatawan asing selain berwisata ternyata juga menjalankan misi bisnis berupa pencarian model barang kerajinan tangan bernilai tinggi yang bisa ditiru dengan mudah di negeri mereka.

Patung-patung/ ukiran kayu serumit apa pun bentuknya — selama tidak mengandung unsur ukiran berongga yang sangat rumit dan ”dalam” dapat dibuat dengan sangat cepat jika menggunakan bantuan teknologi 3D Scanning dan mesin CNC ( Computer Numerical Control ). Selain mempercepat proses pembuatan, mesin-mesin semacam ini dapat membuat produk kerajinan tangan diproduksi secara masal.

Teknologi semacam ini dapat dengan mudah ”mengcopykan” bentuk-bentuk yang rumit dari material kayu ke metal, bahkan multi-skala. Menghadapi situasi seperti ini, talenta perajin lokal harus dioptimalkan untuk mencegah/ mengurangi potensi peniruan oleh pihak asing.

Para perajin harus membuat produk-produk dengan teknik pembuatan manual sedemikian rupa sehingga susah di- copy – oleh sistem permesinan yang makin canggih dari waktu ke waktu. Dan itu bisa dilakukan!

Produk-produk kerajinan tangan harus berkembang sesuai permintaan pasar tanpa meninggalkan keaslian ciri dan budaya dan ketradisionalannya. Keputusan untuk melakukan adaptasi nilai-nilai lokal ke dalam produk-produk global atau menyisipkan nilai-nilai global ke produk lokal harus dilakukan secara selektif supaya produk kerajinan tangan yang dibuat tidak menjadi barang yang harus menunggu sangat lama sampai akhirnya diterima pasar wisatawan.

Contoh, kerajinan ukiran/ patung tetap bergaya Jepara atau Bali, tapi cerita dalam ukiran tidak boleh monoton. Jangan hanya cerita pewayangan atau legenda-legenda daerah tertentu saja. Indonesia kaya akan cerita rakyat.

Kalau perlu, sesekali cerita rakyat yang berkembang di masyarakat Eropa (Rusia dan Belanda) atau cerita rakyat Asia (Jepang, Cina, dan India) diangkat ke dalam aspek desain produk-produk tadi.

Sementara itu, meningkatkan muatan seni (latar belakang tradisi, bentuk, dan warna) dan meningkatkan aspek kualitas (kehalusan, kerapian, dan keseragaman) pada produk-produk seni murni adalah dua cara yang sangat efektif untuk menambah nilai jual sebuah produk kerajinan tangan.

Dua cara tadi akan makin ”menggigit” pasar, jika dterapkan pada produk-produk fungsional yang belum sempat dirambah sentuhan seni para pengrajin. Untuk alasan originalitas dan keunikan, produk tetap harus ”dipaksa” untuk dibuat dari bahan-bahan lokal.

Karena itu, pengrajin perlu pula memikirkan kesinambungan ( sustainability ) persediaan bahan baku. Jangan sampai perajin tidak mampu berproduksi karena keberadaan bahan di daerah asal makin langka seperti yang pernah dialami oleh perajin anyaman alang-alang di Nusa Tenggara Barat.

Dan supaya nilai ekonomi produk kerajinan tangan makin tinggi di mata wisatawan asing, penerapan konsep material dan proses produksi yang ramah lingkungan ( eco-friendly handicraf ) harus ditekankan.

Salah satunya, para pengrajin harus memiliki pengetahuan yang cukup tentang toksisitas bahan untuk memastikan produk-produk yang dibuatnya tidak beracun bagi manusia. Produk kerajinan tangan sedapat mungkin dikembangkan sebagai produk yang ramah energi hidrokarbon, bahkan nol.

Kenangan Wisata

Barang atau benda keseharian hasil kerajinan tangan berbasiskan budaya lokal seperti kain, gerabah, anyaman, dan patung/ ukiran adalah benda-benda yang paling sering dijadikan produk dagang andalan di daerah wisata (khususnya di daerah tujuan wisata budaya).

Tradisionalitas dan keunikan produk-produk budaya ini diyakini dapat menjadi daya tarik utama bagi para wisatawan. Produk-produk ini akan menjadi bukti/ kenangan bahwa sang wisatawan pernah mengunjungi sebuah tempat, di mana berbagai hal dalam kehidupan masyarakatnya sangat berbeda dibanding daerah asal sang wisatawan. Tidak terlalu banyak kriteria/ pertimbangan pembelian produk pada kunjungan wisata yang pertama.

Meski sedikit mahal, selama masih dalam batas daya beli dan benar-benar memiliki keunikan yang “tradisional’, harga bukan faktor pertimbangan utama. Pertimbangan lebih banyak diberikan terhadap terhadap aspek keselamatan barang (mudah dan aman dibawa).

Sang wisatawan ingin memastikan bahwa produk kerajinan tangan yang dibelinya tidak merepotkan dirinya selama tinggal di Indonesia , dan dapat dibawa dengan selamat sampai di negara asalnya. Mereka tidak ingin kenangan pengalaman wisatanya berkurang kualitasnya karena produk yang dibelinya rusak dalam perjalanan.

Keinginan wisatawan semacam ini sebenarnya mesti dilihat sebagai cermin potensi bisnis jangka panjang yang sangat besar oleh para produsen kerajinan tangan.

Makin lama produk-produk kerajinan tangan dapat dinikmati oleh wisatawan, makin lama kenangan sang wisatawan terhadap asal produk tersebut, dan makin besar pula kemungkinan bagi sang wisatawan untuk mengulangi perjalanan wisatanya.

Hanya saja, ketika sang wisatawan datang, para pengrajin harus mulai menyiapkan produk-produk kerajinan tangan yang baru namun tetap bernilai tradisional dan unik.

Karena pada kunjungannya yang kedua, ketiga, dan selanjutnya, sang wisatawan tidak akan terlalu berminat untuk membeli produk-produk yang sama atau sejenis hingga beberapa kali, kecuali -mungkin- untuk alasan dagang barang seni.

Kesimpulannya, harus selalu ada produk kerajinan tangan yang baru, tapi tetap mengandung ciri-ciri budaya asli/ lokal yang unik. Pengembangan nilai tambah produk kerajinan tangan harus mendapat perhatian yang sangat serius dari seluruh pihak, karena produk-produk ini sangat efektif untuk menggali devisa.

* Penulis adalah dosen Teknik Industri Sekolah Tinggi Teknik Surabaya ( STTS )

Link: http://www.bisnisbali.com/2010/06/12/news/opini/x.html