Dasi….lagi…..:D

dasi2

Aku lihat jam mobilku. Masih pukul 07.56 pagi sih sebenarnya.

Bukan karena aku karyawan baru, bukan bermaksud pamer di depan kawan-kawan dosen lain, apalagi mau cari muka ke atasan,  aku datang sepagi ini karena salah satu kebiasaan “baik” di tempat kerja yang lama masih ‘nyangkut sedikit di otakku.

Ya, meski tinggal lima sampai sepuluh persen lah! 😀

Hari ini aku mengajar mata kuliah Manajemen Pemasaran.

***

Pemandangan di kelas terlihat lain dari biasanya.

Semua mahasiswa pakai dasi.

Beberapa terlihat sangat kikuk.

Beberapa lagi kelihatan sangat pede.

“Bagaimana rasanya pakai dasi?” tanyaku.

“Gatal, Pak!”

“Pak, pake dong dasinya seperti kami,” usul seorang mahasiswa.

“Enak aja! Emangnya saya salesman!” gurauku.

Aku memang sengaja tidak pakai dasi. Lagi “M” alias males..:D

Tugas hari ini adalah presentasi tentang 4P.

Suasana perkuliahan penuh dengan gelak tawa.

Pasalnya, semua mahasiswa mendadak jadi pakar busana.

Yang warna dasi tidak sesuai dengan warna bajulah….

Dasinya kegedeanlah…yang miringlah….

Masangnya kependekan atau kepanjanganlah….dsb dsb dsb…

Semua dikomentari…

Pokoknya, ribut banget!

Padahal, di kanan kiri kelasku masih ada kuliah dosen lain. “Pasti nanti ada komplain waktu rapat dosen,” pikirku.

Biar saja, komplain urusan belakang. Yang penting mahasiswa mendapat pengalaman baru.

Learning by doing, experential learning, or apapun  lah istilahnya. Aku percaya banget dengan efektifitas konsep belajar yang satu ini.

Kuliah baru berjalan 20 menit, kulihat dua pasang kaki berhadap-hadapan di balik pintu kaca tempatku mengajar.

Bagian lutut ke atas tidak terlihat, karena ditutupi lapisan buram yang menempel di kaca pintu.

Hmm……

….

….

….

Pintu kubuka. Dan tawapun seketika meledak.

Dua mahasiswa di depan pintu tadi terperanjat.

Mereka tidak dapat menyembunyikan kekagetannya waktu pintu terbuka.

Keduanya “tertangkap basah” sedang saling mencoba membantu mengenakan dasi satu sama lain….Terlihat mesra…wkwkwk

Dan….gagal total!!!! Hahaha…

“Kenapa tidak pakai dari rumah?”

“Malu, Pak.”

Ada-ada saja, lalu mereka kusuruh masuk dan memasang dasi di dalam kelas.

***

Kira-kira menjelang akhir perkuliahan, terdengar suara ketukan.

“Masuk!” perintahku.

Makhluk di balik pintu tidak bereaksi.

“Silakan masuk!” kuulangi dengan volume suara yang lebih keras.

Tak juga ada reaksi.

Aku berjalan menuju pintu. Pintu kubuka. “Kenapa nggak masuk? Kan sudah saya suruh masuk tadi? Ayo duduk.”

Mahasiswaku tadi akhirnya masuk.

Dandanan luar biasa berantakan.

Ujung dasi yang kecil terlihat lebih panjang daripada ujung yang besar.

Bajunya basah, penuh keringat. Bau badannya yang demikian tajam langsung  menyergap hidungku.

Wuih!!! Anak ini pasti sedang stres berat!

“Kenapa baru datang? Untung kelompokmu belum dapat giliran presentasi.”

“Sa…sa…saya nggak bisa pakai dasi, Pak,” jawabnya terbata-bata, memelas sekali wajahnya.

Kontan suara tawa membahana (lagi) di dalam kelas.

“Sana, gabung dengan kelompokmu. Nanti kamu yang bagian presentasi, ya!” Sengaja aku kerjain dia.

“Bagaimana kelompok tiga. Setuju dengan usulan saya?”

“Setuju banget, Pak!” Serentak empat orang anggota kelompok tersebut menyahut. Si mahasiswapun makin lemas.

Dasi, oh dasi!

Dasi, wibawa, & kebebasan (masih 14 th yg lalu)

dasiHari ini belum genap seminggu aku menjadi seorang dosen.
“Lho, Pak Tambunan koq tidak pake dasi!” Pak Rudi –sang Pembantu Ketua II Bidang Administrasi di kala itu- menegurku. Kebetulan, aku baru keluar dari kelas -mau ke kamar kecil.
“Wah, maaf, Pak. Saya tidak tahu kalau ada peraturan dosen harus memakai dasi.” jawabku enteng sambil mataku melihat ke arah seorang rekan senior yang kebetulan lewat dan juga tidak memakai dasi
Mungkin dia membaca pikiranku.
“Profesi kita dosen, Pak. Kalau sedang mengajar harus berdasi, biar berwibawa di mata mahasiswa,” nadanya terdengar sedikit ketus buatku.
“Baik, Pak. Nanti kalau mengajar lagi, saya bawa dasi.”
***
Dari dulu, aku ini anti banget sama yang namanya dasi. Buatku, dasi adalah simbul pengekangan terhadap kepala dan segala instrumen di dalamnya. Tapi ya sudahlah. Ini adalah hari-hari awalku bekerja sebagai dosen. Menurut Maslow, aku masih berada di bagian dasar hierarki kebutuhan hidup manusia. Lebih baik pakai dasi, daripada kehilangan pekerjaan, bukan?
Besoknya aku berangkat menuju ruang kelas memakai dasi sesuai “petunjuk” Pak Rudi. Begitu sampai di kelas, entah mengapa, secara otomatis aku buka dasiku di depan mahasiswa-mahasiswaku. Aku ternyata tetap aku, apa adanya! Aku adalah orang yang tidak bisa bertahan lama pada situasi dan kondisi yang bukan “gue banget”, istilah yang aku adopsi dari anak-anak sekarang. Dan rupa-rupanya, tidak perlu menunggu terlalu lama untuk menunjukkan karakterku yang satu ini. Apalagi, badanku sudah memberi alarm, kalau dasi masih belum termasuk komponen pakaian yang sesuai bagi diriku, termasuk dalam pekerjaan ini.
“Lho, koq dasinya dilepas, Pak?” celetuk salah satu mahasiswa.
“Leher saya tercekik. Nanti saya nggak bisa ngajar dengan tenang. Kalian tidak keberatan, khan?” Tanyaku sambil melipat lengan baju panjangku hingga setengah bagian.
“Sama sekali nggak, Pak. Justru enakan kalau Bapak nggak pakai dasi. Jadi nggak kaku suasananya.”
Dua jam berlalu dengan suasana sersan alias serius tapi santai -menurutku-. Kelas selesai, dasi aku pakai lagi.
“Dipakai lagi, Pak?”
“Iya, buat menyenangkan hati orang tua” jawabku sekenanya.
“Ohhh….” ekspresi wajah mereka terlihat lucu campur bingung mendengar jawabanku.
“Pasti mereka nggak ngerti maksudku,” pikirku. Aku cuek saja.
Keluar kelas, aku sengaja berjalan ke ruang si Bapak pemberi petunjuk. Mau mampir, sambil pamer dasi lima belas ribuan yang kubeli demi “memuaskan” dirinya.
“Siang, Pak. Saya sudah pakai dasi hari ini. Sudah berwibawa kan, Pak?”
Tidak ada kata-kata sedikitpun keluar dari mulutnya, selain sebuah senyum tipis. Tipis sekali. Biasalah! Senyum ala Bos. Hahaha…
Ya, sudahlah. Kenapa harus memikirkan reaksinya? Pokoknya, aku sudah mengambil keputusan kalau hari itu adalah hari pertama sekaligus hari terakhir aku pakai dasi sesuai “aturan” yang tidak pernah aku baca sampai hari ini, di tempat ini.
***
Dan entah mengapa, setelah hari itu Pak Rudi ternyata juga tidak pernah menegurku meski berulang kali melihatku mengajar tanpa dasi di kelas.
Mungkin kejadian di awal cerita ini merupakan bagian dari ritual perkenalan buat dosen baru ala Pak Rudi. Maklumlah. Sebagai dosen, mungkin dia jarang-jarang mendapat kesempatan untuk menunjukkan positional power-nya. Dosen kan juga manusia…hehehe…
***
Nikmatnya bekerja tanpa dasi. Aku benar-benar menjadi orang bebas. 😉