Sekilas Teknologi Solar Panel

Sinar matahari adalah sumber energi yang sangat melimpah. Manusia dapat memanfaatkan sinar matahari dengan bantuan solar photovoltaic panel (disederhanakan dengan istilah solar panel). Solar panel mengubah sinar matahari menjadi listrik searah (DC), selanjutnya diubah menjadi listrik bolak-balik (AC) dengan bantuan alat yang disebut inverter.

Belakangan, kontribusi sinar matahari sebagai salah satu pemasok kebutuhan energi manusia meningkat drastis. Penyebabnya, dari waktu ke waktu, tingkat efisiensi solar panel dalam mengkonversi sinar matahari makin tinggi. Saat ini, tingkat efisiensi solar panel yang dihasilkan oleh produsen-produsen solar panel ternama di dunia berkisar antara 19,4-23%. Sebagai perbandingan, pada tahun 2012, sebuah solar panel berukuran 39in x 65 in dapat menghasilkan daya sebesar 200 watt (efisiensi 15%), sedangkan solar panel berukuran sama yang dibuat dengan teknologi solar panel tahun 2018-an menghasilkan daya sebesar 320watt (efisiensi 18,7%).

Tingkat efisiensi yang berbeda dipengaruhi oleh beberapa faktor. Salah satunya adalah bahan dasar solar panel. Bahan dasar panel surya monokristalin dan polikristalin adalah kristal silikon. Material ini memiliki sifat molekular yang sangat stabil, dapat menghasilkan energi ketika terpapar sinar matahari, dan dapat berfungsi secara efektif sampai jangka waktu 25 tahun pemakaian.  Itu sebabnya, sejumlah perusahaan penyedia solar panel menawarkan masih jaminan fungsional selama 25-30 tahun (setelah melewati jangka waktu tersebut masih berfungsi, namun efektifitasnya berkurang).

Tingkat efisiensi panel surya monokristalin lebih tinggi daripada panel surya polikristalin karena kemurnian silikon panel monokristalin lebih tinggi daripada panel surya polikristalin. Tingkat efisiensi yang berbeda ini, menyebabkan pengguna  panel surya polikristalin membutuhkan permukaan lebih besar untuk menghasilkan daya listrik yang sama seperti dihasilkan panel surya monokristalin. Meski tingkat efisiensi panel surya polikristalin sedikit lebih rendah dibanding panel surya monokristalin, harga yang relatif lebih murah membuat panel surya polikristalin sangat diminati konsumen. Secara visual, membedakan panel surya monokristalin dan polikristalin cukup mudah. Solar panel monokristalin terlihat seperti lapisan serat yang searah dan seragam seperti wafer (kiri/ hitam), sedangkan solar panel polikristalin lapisan seratnya berhamburan (kanan/ biru).

Meski tergolong energi yang terbarukan dan ramah lingkungan dari sisi penggunaanya, bukan berarti keberadaan solar panel tidak memiliki dampak lingkungan sama sekali. Nitrogen trifluoride (NF3) dan sulfur hexafluoride (SF6) adalah dua buah jenis gas emisi yang sering dihubungkan dengan proses pembuatan solar panel.

NF3 17.000 kali lebih berbahaya dibandingkan CO2, sedangkan  SF6 jauh lebih berbahaya lagi, yaitu 22.200 kali dibandingkan CO2. Paska umur layanannya, sistem solar panel juga menghasilkan limbah (silicon). Karena kemurnian solar panel polikristalin lebih rendah dibanding solar panel monokristalin, otomatis jumlah limbah silikon  solar panel polikristalin juga akan lebih sedikit.

Yang perlu digaris bawahi di sini adalah, tidak ada satupun energi tanpa resiko atau dampak terhadap lingkungan selama siklus hidupnya. Yang perlu dilakukan adalah, usaha-usaha untuk meminimalkan dampak lingkungan harus terus diupayakan.

Advertisements