(Fiksi) Hutang Si Tukang Ojek

Di sebuah desa, seorang pria “kreatif” korban PHK, hutang ke tetangganya untuk beli motor. Motornya dipakai ngojek. Penghasilannya dipakai utk bayar bensin, perawatan, dan cicilan hutang (termasuk bunga).

Karena si tetangga juga punya anak yg perlu antar jemput sekolah, si tukang ojek diminta antar jemput anaknya. Bayarkah? Sudah pasti, tapi caranya beda. Biaya antar jemput dipotong langsung dari biaya cicilan hutang si tukang ojek jadi “lebih kecil jumlah angsurannya”.

Saat melakukan kegiatan rutinnya, si tukang ojek melihat peluang lain, yaitu buka jasa SPBU mini. Dia nego ke tetangganya kembali agar mau meminjamkan uangnya. Melihat peluangnya lumayan, sang tetangga pun setuju. Apalagi dengan adanya SPBU mini itu, dia sendiri tidak perlu jauh-jauh ke tengah kota utk isi bensin. Kemungkinan pemasukan yang cukup besar ditambah kemudahan yang dirasakan si pemilik modal, membuat si tukang ojek memiliki “cara yang cukup mudah untuk mengangsur kewajibannya”.

Beberapa waktu kemudian, sang tetangga yang kebetulan punya banyak uang, kali ini justru datang ke si “tukang ojek” untuk menawarkan pinjaman investasi dengan bunga ringan. Kenapa? Dia lebih yakin “meminjamkan uangnya” ke si tukang obyek yang terbukti kreatif dan produktif, dibanding jauh-jauh menyimpan uang di bank. Selain penuh aturan, bunganya kecil.

Sang “tukang ojek” pun setuju, Dan usaha yang akan dilakukan adalah bisnis pupuk karena bisnis utama si pemilik uang adalah petani besar dan pedagang hasil pertanian. Apalagi, daerah mereka pada dasarnya adalah daerah pertanian. Jadi potensinya masih sangat besar. Tapi ada syarat tambahan yang diajukan oleh si tukang ojek. Sang tetangga harus selalu membeli pupuk dari si tukang ojek. Sang tetangga pun setuju. Dengan cara ini, si tukang ojek jadi “lebih mudah mengelola resiko bisnisnya.”

Apakah “kehidupan” sang tukang ojek sudah beres begitu saja? Ternyata tidak. Desa tempat tinggal mereka penuh gosip. Rasa iri terhadap kesuksesan si tukang ojek membuat beberapa orang yang sirik menebar gosip bahwa si tukang ojek punya hutang besar di mana-mana. Dan jumlahnya sangat besar! Apapun istilahnya, bagi mereka, hutang adalah hutang. Dan hutang identik dengan penderitaan! Si tukang ojek akan menderita seumur hidupnya karena tidak akan pernah mampu membayar hutangnya!. Padahal, para tukang gosip itu adalah pengguna jasa ojek, pembeli bensin, dan pupuk dari tempat si tukang ojek. Ya begitulah manusia. Unik dan menarik…. hehehehe….

Sebenarnya si tukang ojek ingin berbagi ilmu ke tetangga-tetangga yang sirik itu bagaimana cara mengembangkan bisnis seperti yang dijalaninya. Tapi dia mikir juga, orang yang dengki apa mau mendengar omongannya? Orang kalau sudah iri, rasionalitasnya kemungkinan sudah terdegradasi oleh emosi tak terkendali.

Apa yang akhirnya dilakukan si tukang ojek? Si tukang ojek tidak peduli. Dia terus menjalankan, bahkan terus mengembangkan bisnisnya. Meski berhasil dan terkenal di mana-mana, si tukang ojek tetap rendah hati dan memperkenalkan dirinya sebagai tukang ojek.

Oiya, hampir lupa. Kalau dulu hanya tetangganya yang baik itu yang meminjamkan modal, sekarang bahkan “beberapa tukang gosip” yang kebetulan juga punya duit, ikut-ikut menawarkan pinjaman, tapi lewat pihak ketiga….. wkwkwkwk

Terakhir,…jangan lupa, tulisan ini hanyalah sebuah fiksi.

 

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s