Belajar Berjanji

Waktu itu perkuliahan baru saja dimulai.
Seseorang mengetuk pintu. Saya menuju pintu dan membukanya.
“Pagi, Pak Tigor,”
“Pagi, Billy. Ayo masuk. Kuliah baru mulai, ” saya mempersilakan dia masuk.
“Maaf, Pak. Saya tdk kuliah hari ini. Saya ijin karena ada tugas organisasi, “katanya sambil menyebut salah satu kegiatan organisasi kampus.
“Hari ini materinya sangat penting. Ayo kuliah dulu,”
“Wah, bgm ya, Pak. Saya sdh terlanjur janji dgn kawan2 organisasi saya. Masa tdk boleh, Pak?”
Materi kuliah saya hari ini adalah materi utama. Tapi memakainya sbg dasar berargumentasi sdh saya buktikan makin tdk efektif bbrp tahun belakangan. Harus pakai alasan lain. Alasan yg lebih emosional tapi harus sangat logis.
“Kapan kamu janji ke kawan-kawanmu? ”
“Kemarin, Pak. Waktu kami rapat.”
“Ya, sdh. Terserah kamu dan kawan-kawanmu. Kalau kalian pikir janji yg kalian buat kemarin lebih penting dari janji kalian terhadap orangtua kalian dan diri sendiri utk belajar dgn tekun di awal kuliah di sini, silakan lakukan kegiatan organisasi kalian.”
“Yaaaaah, koq gitu, Pak. Sekali iniiii saja, Pak Tigor.”
“Lho? Saya kan tdk melarang. Lagipula kalian kan mmg punya jatah utk absen 25% dari total kehadiran… ” kata saya sambil tersenyum.
“Sdh, ya. Saya harus mengajar, kawan2mu menunggu.”
Kuliah saya lanjutkan.



Sekitar 15 menit kemudian, pintu diketuk lagi.
Bayang2 tinggi badan dan model rambut di balik kaca buram pintu kelas cukup jelas bagi saya utk mengira-ngira siapa yg datang.
“Masuk, Billy” pinta saya sambil menulis di papan.
Dia masuk kelas dengan wajah ditekuk.
Wkwkwk… Saya mencoba membayangkan apa yg sdh tjd di antara mereka.
Rasa2nya baru saja terjadi perdebatan keras di antara Billy dan kawan2 organisasinya.
Efektifkah perkuliahan saya buat Billy hari ini? Saya tdk yakin. Tapi saya yakin, Billy sdh belajar hal penting yg jauh lebih penting dari perkuliahan saya. Itu yg saya sebut self learning.

Advertisements

Berenang di Kolam Dalam

Manusia dewasa normal yg tidak bisa berenang tidak akan pernah memasuki bagian kolam renang yang dalam.Yang dimaksud normal di sini adalah isi kepalanya.
Kalau nekat, bahaya mati tenggelam terbuka lebar di depan mata.
Aman2 saja sih sebenarnya kalau manusia dewasa tadi pakai ban pelampung. Tapi apa kata dunia?

Kalau tidak bisa berenang sama sekali, kadang lebih baik tidak masuk kolam sekalian…terus selfie dengan latar belakang kolam jadi background, lanjut apde status di medsos, “Badan lagi not delicious nih… batal deh pakai gaya bebas 1000m…”

Beda dgn anak kecil yg tidak bisa berenang. Begitu dia merasakan enaknya air kolam renang pakai ban pelampung, dia tidak akan ragu memasuki setiap area kolam renang. Nekat? Sama sekali tidak. Anak kecil ini tidak tahu apa itu dangkal atau dalam… Dan dia juga juga tdk tahu apa itu tenggelam… Apa lagi mati tenggelam!

Beda lagi kalau bisa renang, apalagi jagoan. Nggak manusia dewasa, nggak anak kecil, justru akan jadi pertanyaan kenapa hanya berendam dan tdk berenang saat ada di kolam renang.

Berenang beda dengan sekedar berendam di kolam renang. Berenang urusannya dgn bisa atau tidak bisa, bukan dewasa atau anak-anak.

Masuk ke kolam yg dalam bagi yg tdk bisa renang urusannya dgn tdk tahu malu atau tdk tahu resiko.