Mainstream

Hari Sabtu, pukul 9.50 WIB, naik motor, saya antar anak bungsu saya -cewek- ke sekolah untuk latihan Pramuka. Cuaca Surabaya saat itu lumayan hangat. Cukup untuk melelehkan potongan coklat di saku … 😀
FYI, di awal keberangkatan sempat ada “insiden kecil” antara Istri saya dan anak saya… Pasalnya, si bungsu ini terlihat ogah-ogahan berangkat. Istri sayapun sempat “meledak” hehehe…..Bayangkan, kegiatannya jam 10.00, tapi jam 9.50 baru berangkat. Padahal jarak rumah-sekolah 10km lebih…
… Dan inilah sekelumit cerita yang terjadi di tengah perjalanan…
Papa (P): Koq berangkatnya siang sekali, Dek? Kan jadi terlambat…
Anak (A): Aku sebenarnya malas brgkt, Pa
P: Kenapa, dek?
A: Anggota kelompokku hari ini banyak yg malas, Pa
P: Lho, adek kan ketua kelompok?
A: Ketua masak nggak boleh sekali-sekali malas, Pa?
P: Tdk boleh, boru Sunge. Ketua itu panutan. Harus memberi contoh. Contoh bgm bekerja, contoh berorganisasi. bukan main perintah… ~Boru Sunge adalah panggilan kesayangan formalku buat anak bungsuku ini, kependekan dari Boru Tambunan Sunge~
A: Nggak berlaku kalau di sekolahku, Pa. Kawan2 aktifnya hanya kalau ada acara2 khusus. Tadi aja di Line mereka semua udah pada ngomong bakal bolos karena malas. Kegiatannya nggak seru, gitu mereka bilang.
P: Ok, begitu, ya? Gini saja. Kau mau jadi spt yg mainstream apa tdk?
A: ya, nggak mau lah, Pa. Nggak keren! Aku kan anti mainstream?!
P: Nah, jaman sekarang, kemalasan, tukang perintah, sok hebat, sdh jadi mainstream. Dan itu terjadi di mana-mana, Dek….
A: Masak di mana-mana, Pa?
P: Beneran itu, Dek. Di tempat kerja, di organisasi pemerintah, di organisasi agama…. Di mana-mana, yg tadi Papa bilang, sudah jadi mainstream…
A: Waaaaah…. koq hal jelek dijadikan mainstream ya, Pa?
P: Hehehe… Kalau itu, Papa tidak bisa jawab apa penyebabnya  🙂 Papa tanya lagi, masih mau jadi mainstream?
A: Ya pasti nggaklah, Pa. Apalagi mainstreamnya seperti itu… Hmmmm… Berarti aku harus sebaliknya ya, Pa?
P: Good! Itu boru hasian Papa… (Y)

… Turun dari spd motor, aku lihat wajahnya jauh lebih cerah… Jaketnya yang semula dia minta saya bawa pulang, tetap dipakainya. Katanya, “Nggak usah, Pak. Nanti kelamaan. Nggak enak sama kawan-kawan. Sekarang aja sudah terlambat….”
Hehehe…. Tidak bisa saya ingkari, betapa senangnya melihat wajahnya yang jauh lebih cerah dibandingkan waktu berangkat tadi. Semoga kalian menjadi generasi yang membawa kebaikan bagi negeri ini….
Salam Pramuka, Anak Negeri!
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s