(lagi)… Nama Bapak siapa?

 

Di suatu siang, saat aku sendirian di ruang kerjaku.

“Selamat siang, Pak.”
Dua orang mahasiswi memasuki ruang kerjaku.
“Pak, kami mau membagi undangan kegiatan kampus ke dosen-dosen di ruangan ini,” kata salah satu dari mereka.
“Silakan,” jawabku.
Pekerjaanku di depan komputer pun berlanjut.



Sempat tertangkap dari ekor mataku, mereka seperti kebingungan.
“Maaf, Pak. Bisa mengganggu sebentar?”
“Iya?” pekerjaanku kuhentikan.
“Pak, di ruangan ini ada berapa dosen, ya?”
“Ada sembilan orang. Kalian bawa daftar namanya?” tanyaku.
“Di undangan ada namanya. Tapi kami tidak tahu siapa yang di ruangan ini, Pak.“ jawabnya sambil tersenyum kecut.
“Kalian mahasiswa baru, ya?”
“Iya, Pak.”
“Ok. Saya bantu. Depan saya adalah meja Bapak…., sebelah kanan saya Ibu …,” satu per satu aku beritahu siapa yang duduk di ruanganku.
Sambil kutunjuk, mereka meletakkan undangan ke tiap meja sesuai dengan nama yang tertera di undangan.

Tidak sampai dua menit, delapan undangan sudah terbagi…..
“Sudah, ya, “ kataku. Akupun kembali ke kesibukanku.
“Baik, Pak. Terima kasih atas bantuannya.”

Beberapa saat, aku baru sadar kalau mereka belum meninggalkan ruangan.
Kulihat mereka saling pandang. Kelihatan sekali kalau mata mereka sedang berkomunikasi…. via batin…. hehehe



“Maaf, Pak..,” salah satu dari mereka memberanikan diri bertanya.
“Nama Bapak siapa, ya? Bapak kan belum dapat undangan.”
Huahaha…. Aku juga baru sadar kalau mereka tidak memberiku undangan.
“Nama saya Tigor”
“Oooo… sebentar ya, Pak. Kami carikan undangannya,”
“Ok.”

Kulihat mereka membolak-balik amplop undangan yang tersisa sampai berkali-kali. Dan  tak kunjung menemukan undangan atas namaku.
“Pak Tigor, maaf. Sepertinya tadi undangan untuk Bapak terselip entah di mana. Nanti kami print ulang ya, Pak.”
“Tidak perlu. Saya sudah tahu acara kalian.”
“Nggak, Pak. Sebentar lagi kami kirim. Bapak harus dapat undangannya. Permisi, Pak, “ kata mereka.sambil cepat-cepat meninggalkan ruanganku.

Wkwkwk… kalau kawan-kawan seruanganku tahu pasti mereka ketawa sambil berkomentar, “Pak Tigor sudah tidak diakui keberadaannya di kampus ini…”



Lima menit kemudian….
“Permisi, Pak.”
“Iya?” Kulihat dua orang mahasiswi tadi datang kembali ke ruanganku.
“Pak, nama Bapak STB Tambunan, ya?” kulihat wajah setengah kesal tapi lucu tergambar di wajah mereka.
Hahaha…. baru ngeh aku apa penyebab kebingungan mereka tadi.
“Benar. Nama panggilan saya Pak Tigor atau Pak Tambunan,” jawabku sambil tertawa lebar.
“Yahhhhh, Bapak. Nggak ngomong dari tadi. Undangan buat Bapak tadi sudah ada.”
“Ya, sdh. Saya minta maaf. Saya kan tidak tahu bagaimana kalian menulis nama saya di undangan “
Aku yakin mereka sempat ditegur panitia yang lebih senior.
“Hehehe…. Ok deh, Pak. Ini undangan buat Bapak. Bapak datang, ya”

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s