Prisoner’s Dilemma

prisonerKisah “Prisoner’s Dilemma” (Dember et al, 1984) diawali dari tertangkapnya dua pria bersenjata ilegal yang sedang adu jotos oleh aparat keamanan. Selidik punya selidik, keduanya diduga kuat telah membobol lemari besi sebuah bank beberapa hari sebelumnya. Oleh Kepala Tahanan, kedua orang tersebut ditempatkan secara terpisah dalam dua sel yang berjauhan.
Untuk memperkuat dugaan, sang Kepala Tahanan melakukan interogasi sembari mengajukan tiga opsi sanksi hukum kepada setiap tersangka. Opsi pertama, jika salah satu tersangka mengaku telah melakukan perampokan sementara yang lain bungkam, maka Kepala Tahanan akan memberikan ganjaran nol tahun penjara kepada pengaku dan sepuluh tahun penjara kepada yang tidak mengaku.
Opsi kedua, jika kedua tersangka mengaku telah melakukan perampokan bersama-sama, masing-masing akan diganjar lima tahun penjara. Opsi terakhir, jika kedua tersangka sama-sama tidak mau mengakui perampokan tersebut sebagai aksi mereka, masing-masing akan diganjar setahun penjara atas dasar kepemilikan senjata secara ilegal.
Pertanyaannya sekarang, keputusan individual manakah yang kemungkinan besar akan dipilih oleh setiap tersangka menghadapi ketiga opsi tersebut, mengaku atau tidak mengaku?
***
Sementara menimbang untuk tidak mengaku, sangatlah manusiawi jika kemudian muncul rasa kekhawatiran dari masing-masing tersangka akan adanya pengakuan dari tersangka lainnya. Bayangan bakal hidup dalam masa penantian selama sepuluh tahun di hotel prodeo jelas bukan idaman siapa pun, bahkan bagi penjahat terkejam sekali pun. Secara rasional  kedua tersangka sedapat mungkin menghindari angka sepuluh tahun.
Akibatnya, angka nol tahun pun “seolah” menjadi harapan yang mustahil terwujud! Lewat pengerahan logika individual secara monolog ala si Butet dari Yogya, secara terpisah kedua tersangka memutuskan akan mengarungi kehidupan lima tahun di balik dinding-dinding penjara. Angka “optimal” ini membuat probabilitas terbesar jatuhnya pilihan setiap tersangka adalah mengaku.
Bagaimana dengan satu tahun penjara? Atas nama rasionalitas, kemungkinan untuk mendapatkan sanksi minimal ini seolah terlupakan. Padahal, berbekal kebersamaan emosional selama bertahun-tahun dalam melakukan kejahatan, seharusnya pasangan penjahat tersebut pernah berbicara dari hati ke hati memikirkan segala risiko, cara menghadapinya, termasuk saat tertangkap.
Semestinya, kemungkinan untuk menjalani hukuman selama satu tahun dalam penjara dapat direalisasikan sebagai keputusan terbaik bagi keduanya jika kedua tersangka tersebut sama-sama yakin bahwa pihak yang lain tidak akan pernah mengaku.
***
Fenomena Prisoner’s Dilemma sering terjadi pada berbagai kasus industrial yang tetap saja marak di berbagai pelosok negeri ini. Kedua elemen bipartit, yaitu pengusaha dan pekerja ibarat “sepasang karib” yang tertangkap basah oleh regulator saat sedang meributkan hasil survey KHL, UMR atau segala tetek bengek peraturan yang digunakan untuk menetapkan hak-hak dan kewajiban normatif ketenagakerjaan lainnya.
Buruknya kualitas hubungan industrial dan produktifitas ekonomi dua tersangka yang tinggal seatap di alam ekonomi bebas ini “dicurigai” para pakar ketenagakerjaan dan investasi sebagai salah satu penghambat perkembangan perekonomian Indonesia, karena itu keduanya “harus ditangkap”. Sedikit berbeda dengan analog di awal, setelah ditangkap –atas kemauan sendiri- keduanya meminta diletakkan pada sel yang berbeda. Kejadian berikutnya mirip dengan analog di atas, pemerintah selaku Kepala Tahanan harus memberikan opsi untuk mengetahui benar tidaknya hasil investigasi kepakaran.
Permasalahannya sekarang, memberikan tiga opsi solutif ternyata bukan perkara mudah bagi si Kepala Tahanan. Contohnya, pemberian opsi sanksi nol tahun bagi yang menerima nilai UMR dan sanksi sepuluh tahun bagi yang menolak UMR ternyata ditanggapi sebagai opsi hasil perselingkuhan industrial antara salah satu tersangka dengan Kepala Tahanan.
Karena jengkel atau bingung atas situasi yang berkembang, sang Kepala Tahanan bahkan sering (sengaja) tidak mengunci pintu sel masing-masing tersangka. Sayangnya, meski Kepala Tahanan telah “mempersilakan” para tersangka untuk keluar dari sel agar dapat berdiskusi dan menentukan opsinya sendiri dengan lebih nyaman, ternyata para prisoners tetap bersikeras untuk tinggal di sel mereka masing-masing. Konflik para penghuni “penjara industrial” makin dilematis.
***
“Miskin” perselisihan industrial adalah dambaan semua perusahaan. Saat ini sebagian para pengusaha dan pekerja di Indonesia sudah telanjur terperangkap “penjara industrial”. Sel yang terbuka dan kebebasan untuk membuat opsi yang ditawarkan oleh Kepala Tahanan seharusnya dimanfaatkan sebagai momen reformatif untuk melakukan perjanjian rasional, emosional, murni dan bebas mediasi. Siapa tahu, sambil mengenang bayangan kemesraan di awal terbentuknya hubungan industrial, ruang tahanan dapat dijadikan tempat kerja yang sangat produktif selama satu tahun masa tahanan.

Penulis: Tigor Tambunan (25/5 2007)

Sumber: PortalHr

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s