Dosen…oh….dosen….:D

lecturerNamanya juga mobil tua, rusak sedikit itu sudah biasa. Tapi biar ongkos servicenya cuma 100 ribu or 200 ribu, kalau di kantong sedang tidak ada uang cadangan, pusing juga kepala ini untuk memikirkan subsidi silangnya. Padahal aku sudah terlanjur janji ‘nraktir anak-anakku nanti malam.

Kalau perbaikan mobil ditunda, takut kerusakan makin parah dan merambat ke mana-mana. Bagiku dan keluargaku, mobilku ini benar-benar sahabat yang sangat baik.

***

Kata mas montir perlu waktu sekitar dua jam untuk memperbaiki mobilku. Waktunya tanggung bener! Mau pulang dulu, terlalu jauh. Lagian, tidak ada orang di rumah. Kalau ke kantor, internet lagi ngadat. Otakku juga lagi beku, nggak ada inspirasi buat ‘nulis. Ya, sudahlah, aku tunggu saja.

Bergantian kubaca koran dan beberapa majalah otomotif yang ada di ruang tunggu bengket.

***

“Bener-bener nggak habis pikir aku sama tetanggaku yang satu ini! Kata orang, suaminya dosen, tapi cara ngomongnya kasar sekali!” kudengar obrolan dua mbak-mbak bagian administrasi bengkel.

Si Mbak yang satu lagi menyahut, “Emangnya kenapa, ‘Lis?”

Lis? Hmmm…Aku mencoba menduga-duga namanya. Kalau dari panggilan tadi, mungkin namanya Sulis, Lilis, Lista, atau Geulis.

“Probabilitas untuk Geulis hampir nggak ada, “pikirku, “Ini kan kota Surabaya. Lagipula ngomongnya medhok banget.”

“Kemaren di RT ku kan ada arisan PKK. Si istri dosen itu kan nggak punya jabatan apa-apa. Ketua bukan. Sekretaris bukan. Bendahara, juga bukan. Masak sih dia marah-marah karena aku datang nggak pakai seragam.”

“Seragammu di mana rupanya?”

“Ya, di rumah. Aku memang lagi males pake! Arisannya kan lesehan. Nggak bebas gitu lho, Mbak!”

“Ya, salahmu kalau begitu.” Kata si mbak yang satunya.

“Aku tahu aku salah. Tapi khan ngomongnya nggak perlu bentak-bentak seperti itu, to! Aku ini kan bukan anak kecil. Katanya istri dosen, tapi nggak ada halus-halusnya sedikit pun. Nggak punya sopan santun sama sekali.”

Si mbak yang satu nyeletuk, “Kali suaminya nggak pernah ngajarin, ya?”

Walah, kupikir si mbak mau mendinginkan suasana hati si Sulis atau Lilis atau Lista atau Lisa atau siapalah. Ternyata malah ‘ngomporin!

“Rasa-rasanya gitu! Kalau mendidik istrinya aja nggak bisa, apalagi mendidik mahasiswanya, ya. Pantes sarjana-sarjana sekarang nggak bisa ngapa-ngapain!”

Kesimpulan berdasarkan analisa perseptual yang dahsyat, man! Meski belum tentu salah..huehehe.

“Fallacy of composition,” kata kawan-kawanku di ekonomi.

“Memang, begitu Lis. Pendidikan di negara kita ini sudah sangat berantakan. Ganti menteri, ganti aturan! Makanya, kalau nanti anakmu sudah besar. Pikir dulu sebelum menyekolahkan. Kalau ujung-ujungnya susah dapat kerjaan, lebih baik nggak usah disekolahin.”

Wah asyik juga nih pembicaraan. Mulai yang sangat mikro, sampai makro. Semuanya tertuang dalam pembicaraan serius dua orang wanita pekerja,  DI BENGKEL!!!

“Bener kan, Mas?” Entah kenapa, si Mbak tanpa identitas itu tiba-tiba mengajakku bergabung ke dalam forum diskusi

“Yang bener apanya, Mbak?” Wah, jangan-jangan ketahuan nih kalau aku ‘nguping….wkwkwk

“Ya, itu tadi. Dosen-dosen sekarang sudah nggak ada yang beres. Kerjanya ngobyek terus. Nggak pernah ngajar. Mahasiswa ditelantarkan. Terima duitnya mau, kerja nggak”

Sepertinya kedua wanita ini punya beberapa kisah buruk yang berhubungan dengan dosen. Dan dosen adalah profesiku saat ini!

“Mbak, senang nggak kalau banyak mobil rusak?” tiba-tiba pertanyaan itu keluar begitu saja dari mulutku.

Si Mbak yang dipanggil Lis tadi langsung menjawab, “Ya jelas, Mas. Kalau nggak ada yang rusak, kami nggak bisa terima gaji, dong. Tapi, apa hubungannya sama dosen?”

“Lho, kalau mobilnya dosen nggak rusak, berarti kan bengkel ini nggak punya kerjaan?” jawabku sekenanya, sambil mencari-cari arah pembicaraanku sendiri.

Terus kusambung, “Gajinya dosen nggak seberapa. Kalau mobilnya rusak, uang yang mestinya buat keperluan penting, terpaksa dipake untuk memperbaiki mobil. Bengkel ini senang, dosennya senep alias sakit perut -bahasa jawa-“

“Karena itu dosen mesti ngobyek, cari kerjaan lain. Biar mbak-mbak bisa terima gaji”

Masih kulanjutkan, “Masak istrinya dosen mesti seperti dosen. Nanti pembantunya dosen, supirnya, baby sitternya, pengawal pribadinya juga dituntut Mbak-Mbak harus berperilaku seperti dosen!!!”

Tiba-tiba aku bingung sendiri sama opiniku. Lagian, dosen apa bisa ya bayar supir pribadi? Dari mana duitnya?

By the way, Mbak…Jangan-jangan istrinya dosen di kumpulan PKK-nya mbak tadi itu kerja di bengkel,…makanya kalau ngomong kasar, seenaknya sendiri.” Nah, ketemu nih kata-kata yang cespleng…,

Aku nggak peduli dia ngerti apa nggak ama kata-kata canggihku, “Pasti suaminya yang dosen itu sudah terkontaminasi oleh kebiasaan kawan istrinya, bukan sebaliknya….”

“Pengaruh jelek memang mudah sekali mempengaruhi seseorang, Mbak…” makin kuperparah, “Apalagi dari istri sendiri,…yang kerjanya di bengkel…”

Aku pura-pura menghela nafas panjang, “Kasihan banget mahasiswa suaminya itu,…” seolah aku sedang berempati.

Reaksimu benar-benar seperti yang aku perkirakan,“Koq mas ngomongnya gitu? Kenapa saya jadi yang disalahin?”

“Eeeit, saya nggak pernah ‘ngebahas Mbak lho dari tadi. Tapi istrinya dosen tetangga mbak itu, jangan tersinggung dong…”

Kena dia sekarang!

“Mas ini pasti mahasiswa, ya? Suka bicara dibolak-balik!” tanyanya penuh kepastian. Benar-benar nih orang! Errrggh…

weit e minet!!!!…“Mahasiswa…?!” Senang juga dicurigai sebagai mahasiswa. Berarti tampangku masih segar banget dong…he…he….he…

“Saya ini dosen, Mbak!”

Sesaat, mereka berdua saling pandang.

“Pasti mereka tidak percaya!” pikirku.

“Kenapa Mbak. Masih muda, ya?” Ge-er sedikit setahuku tidak termasuk pelanggaran hukum. Jadi, sah-sah aja khan?

“Masa, sih? Ora pantes blas!!!….Kalau Mas ini dosen, pasti dosen yang ngeselin!!!”

Huahaha…sableng juga nih si mbak! Hobi banget mengambil kesimpulan dan kepastian! Padahal di kelas aku selalu berkoar-koar kalau satu-satunya kepastian di muka bumi ini adalah ketidakpastian itu sendiri…ceilleeee,…pret, dung, tak, tak, tak….byurrr…

Kujawab aja, “Bisa jadi, soalnya saya sering ke bengkel ini…”

Hua…ha…ha…ha…Mampus, lu!!!

Si Lis jadi agak salah tingkah, “Mas, tadi itu sekedar cerita, lho. Jangan dimasukin hati….”

“Iya Mas, kami berdua biasa ngobrolan apa aja. Buat isi waktu. Abis, kerjaan lagi sepi..” Mbak yang satunya ikut-ikutan angkat bicara.

“Nggak. Jangan kuatir. Paling nanti langsung saya ceritakan ke Mas Slamet,” jawabku sambil senyum-senyum.

Setel yakin aja! Mas Slamet itu aku yakin bos mereka. Ya yang punya bengkel ini!!!

Aku punya empat fakta di balik kesimpulanku tentang orang yang namanya Slamet ini.

Pertama.Bengkel ini namanya bengkel Slamet.

Kedua. Tadi sempat kulihat ada pria pendek, item, kepalanya miskin rambut, tapi berotot, ada tulisan nama Slamet di atas dada kanannya.

Ketiga, orang yang namanya Mas Slamet tadi, kerjanya mondar-mandir dari satu mobil ke mobil lain. Hampir semua orang bengkel diperintahnya..

Alasan keempat. Waktu baru datang, orang tua yang lagi duduk di sebelahku tanya ke si Mbak Lis, “Slamet mana, Lis?”

“Pak Slamet sedang memeriksa kendaraan di sebelah, Pak…”

“Tolong beritahu dia, mobil saya yang diperbaiki kemaren, ngadat lagi.”

. ***

“Dua ratus tiga puluh ribu, Mas”

Kulihat kertas rincian tagihan yang disodorkan. Di bawah tertera nama “Sumarni”.

Tanyaku, hanya ingin tahu, “Sumarni ini nama siapa, Mbak?”

“Nama saya, Mas. Kenapa?”

“Tadi Mbak yang satu manggilnya koq Lis?”

Agak tersipu dia kulihat, “Itu nama keren saya di bengkel ini, Mas.”

Oooo…

***

“Pa, kita nanti makan di mana?” tanya anakku yang bontot.

“Kita ke Podomoro saja, ya.” Jawabku. Warung Podomoro itu dekat kampus Universitas Surabaya. Tamie goreng dan nasi goreng diamondnya, pas banget buat lidahku, harganya masih dalam jangkauan warga kampus…he…he…he…

Untung, janji makan malamku ke mereka sifatnya open destination alias tempatnya belum definitif. Jadinya aman,kan? Janjipun perlu strategi, bukan! Uang di saku sudah tersedot buat service mobil.

***

Sambil menunggu pesanan, aku, istriku, dan anak-anakku ngobrol ringan. Di sekitar kami, beberapa anak muda -aku yakin banget mereka mahasiswa- sedang makan dengan lahapnya, sambil sesekali berbicara. Ada juga yang kelihatan sedikit serius. Mereka sepertinya sedang punya masalah dengan dosen.

Dosen???

“Dosen yang satu itu memang sok kuasa! Mentang-mentang punya jabatan. Dasar ….-ups-… harus disensor, nih!”

Ya, ampun!. Sial banget nasib perseptual profesi dosen hari ini!

Advertisements

3 thoughts on “Dosen…oh….dosen….:D

  1. Dosen adalah ujung tombak kemajuan bangsa. Masa depan bangsa ditentukan oleh pendidikan generasi mudanya. Sayang sekali dosen di Indonesia di-kuyo kuyo, udah gaji lebih kecil dari tukang pijat( gaji tukang pijat panggilan di Jakarta 120-150 ribu perjam, gaji dosen swasta di Jakarta 75-120 ribu perjam), fasilitas riset tidak diberi dengan cukup, mahasiswanya juga seenaknya saja main laptop dan smartphone di kelas.

    Tapi saya masih cinta jadi dosen, saya masih berdedikasi membagikan ilmu kepada generasi muda, membuat paper-paper ilmiah meskipun sering saya sendiri yang membayari biaya pencetakan (hanya di dunia akademis, kita yang menyerahkan hasil karya ilmiah kita juga yang harus bayar).

    Untung saya punya pekerjaan fulltime untuk “membiayai” hobby saya mengajar di kampus. Tapi universitas juga jangan keterlaluan memanfaatkan orang-orang yang berdedikasi untuk dunia pendidikan dengan seenaknya memberi honor yang terlalu kecil. Pemerintah juga harus lebih memperhatikan nasib dosen.

  2. “…Tapi universitas juga jangan keterlaluan memanfaatkan orang-orang yang berdedikasi untuk dunia pendidikan dengan seenaknya memberi honor yang terlalu kecil….”

    Terkadang saya merasa, situasi yang Bapak sebutkan tadi, sengaja diciptakan oleh satu dua orang atau kelompok manusia dalam perguruan tinggi (khususnya PTS) yang anti terhadap kehadiran “manusia2 berdedikasi”, Pak… 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s