Lha??? Yang meninggal itu siapa???

wanted

Baru saja aku login ke Yahoo Messenger,  kulihat bayangan seseorang di pintu masuk ruanganku yang kebetulan terbuat dari kaca buram.

Pintu belum diketok. Tapi aku yakin pasti sosok itu mahasiswa yang memang sudah janjian mau menemuiku, makanya langsung aku ngomong keras-keras, “Silakan masuk!”

“Permisi, Pak!”

“Eh, Ninik! dari mana aja kamu! Ayo masuk!”  kataku.

Ninik adalah salah satu mahasiswi yang aku bimbing pembuatan Tugas Akhir/ skripsinya. Dia sudah lama menghilang dari kampus. Benar2 lenyap seperti ditelan bumi. Kawan-kawannya nggak ada yang tahu kabar tentang dirinya sedikitpun waktu aku tanyai.

Ninik bawaannya cenderung pendiam dan pemalu. Tapi, seorang kawannya pernah cerita kalau Ninik adalah seorang instruktur aerobik di beberapa instansi pemerintah, “Masak iya, sih?” aku sedikit tidak percaya. Anaknya mungil banget!

“Ayo duduk.., lama sekali kamu nggak kelihatan di kampus? Ke mana kamu selama ini? Tugas Akhir-mu pasti belum kamu kerjakan. Kamu keasyikan kerja, ya?” kucecar dia dengan beberapa pertanyaan sekaligus.

“Iya, Pak. Maaf, saya lagi banyak masalah…” Untuk beberapa saat dia terdiam.

“Masalah apa, Nik? Mungkin saya bisa membantu,” tanyaku.

Tanpa pemanasan, tiba-tiba air matanya mengucur deras.

Walah! Pake acara nangis segala. Mana persediaan tissue di ruangan nggak ada lagi.

Bayangkan! Kalau saja ada mahasiswaku yang tiba-tiba nyelonong masuk, sangat mungkin akan muncul gosip-gosip miring…:D

Sekarang kan jamannya gosiptainment. Semua peristiwa layak dianggap sebagai materi untuk mengasah kemampuan menggosip…

“Papa saya baru saja meninggal, Pak.”

“Oh, begitu. Saya turut berduka cita ya, Nik.” Kami kemudian sama-sama terdiam.

***

      Siang itu aku minta bagian administrasi kemahasiswaan untuk pasang pengumuman ikut berduka cita atas meninggalnya Papanya si Ninik.

“Sudah saya tempel, Pak. Barusan aja.” kata Pak Dar.

Lanjutnya, “Tadi pagi, kita sudah terima fax dari mahasiswa Bapak memberitakan hal yang sama.”

“Oh, ya sudah kalau begitu. Terima kasih, Pak Dar.”

***

      Sekitar tiga bulan kemudian di acara wisuda.

“Sidang Terbuka Senat Universitas selesai. Atas perhatian segenap hadirin, kami mengucapkan.…” belum sempat MC menyelesaikan kata-katanya, suara teriakan dan lemparan topi wisuda seketika memenuhi ruangan wisuda.

Nuansa kebahagiaan terasa sekali di wajah para wisudawan dan pengantarnya. Suasana aula tempat wisuda memang kacau banget waktu itu. Perayaan sekali seumur hidup! Wajarlah…Ada yang tarik sana, tarik sini. Foto sama-sama.  Ada yang menjerit histeris karena dicium sama kawannya. Beberapa wisudawan terlihat tertawa agak  berlebihan… Naaah, beneran kan! Sampai batuk-batuk segala!!! Heboh banget, sih! Seorang ibu bersanggul kulihat kebingungan sama dandanannya. Setiap kali ada orang yang dekat dengan dirinya, dia langsung mengambil jarak dua langkah ke kanan. Sekarang, dua langkah ke kiri. Balik kanan, mundur dua langkah. Koq seperti tari poco-poco?  Takut tersenggol kali,ya  Mungkin dia belum sempat foto! Kan lucu kalau sanggulnya lepas waktu foto!

Salah satu dosen, kawanku, kulihat sedang kerepotan menerima permintaan untuk foto bersama para mantan mahasiswanya, Lagi laris dia, rupanya! Kalau wisuda begini, dosen mirip selebritis. Banyak penggemarnya! He…he…he…!

Tiba-tiba Seorang mahasis..ups…maksudku wisudawati menegurku, “Pak, foto dulu bareng saya dan orang tua saya, ya…”

Wah, aku laku juga ternyata Benar kan apa kubilang! Mestinya kami bikin tarif khusus sebagai model wisuda,…

“Eh, Ninik. Selamat ya…” Ninik rupanya yang mengajakku berfoto bersama.

“Terima kasih, Pak. Oh, ya. Ini Papa dan Mama saya. Pa, Ma, ini Pak Tigor…”

Kami bersalaman. Kalau dipikir-pikir sebetulnya aneh juga kejadian ini. Lima tahun anaknya kuliah di tempatku bekerja, orang tuanya yang membiayai. Tapi hanya sekali aku sebagai dosen bertemu muka dengan orang tua mahasiswa. Itupun waktu wisuda!

“Terima kasih atas semuanya, Pak.Ninik sering sekali cerita tentang Bapak,” kata Papanya.

Aku jadi nggak enak, “Waduh, Semoga bukan cerita tentang kejelekan saya…,” tukasku, pura-pura merendah sih…buat meninggikan mutu…hahaha…

Sebentar kemudian si juru kamera mengatur posisi kami. Klik,…,

“Ganti posisi, Pak.” Kami kemudian bergeser. Lalu, Klik.

“Sekali lagi, Pak.” Klik…tiga kali pengambilan.

Yup selesai!

“Sukses ya, Ninik. Sampai ketemu lagi!” kataku sambil berjabatan tangan.

Dari kejauhan aku melihat mereka bertiga kompak banget…Senang rasanya lihat keluarga yang akur seperti keluarga itu,…adem…:)

“Wah, kenapa aku jadi sok bijak ‘n lembut gini, ya???”

Mendadak aku merasa teringat sesuatu, “Seperti ada yang aneh! Tapi apa ya?”

“Mestinya ada hubungannya dengan Ninik. Ya, Ninik… Ninik???” Itu tadi kan Ninik yang papanya baru meninggal tiga bulan lalu? Trus tadi itu siapa, ya? Koq, Ninik bilang kalau itu Papanya?”

“Bisa jadi sih. Mungkin mamanya baru menikah lagi,”aku coba mereka-reka, “Tapi masa’ secepat itu?” Hipotesisku sepertinya tidak dapat diterima…

***

      “Pak, tadi ada orang tua wisudawan marah-marah lewat telpon,” cerita Pak Dar waktu ketemu di teras gedung U.

“Wisudawan yang mana, Pak?”

“Itu, bekas mahasiswanya Bapak. Mahasiswi, namanya Ninik?”

“Ada masalah apa? Kan anaknya sudah wisuda?” tanyaku.

“Tadi saya sampai dimaki-maki segala, Pak. Habis itu pakai ngancam lagi! Katanya kampus ini sudah mencemarkan nama baiknya.”

Aku jadi penasaran,“Masak ibunya sekasar itu, Pak?

“Bukannya ibunya, Pak. Tapi bapaknya…”

“Pasti maksud Pak Dar bukan Ninik mahasiswa saya. Soalnya Ninik yang kenal bapaknya sudah meninggal,” rasa penasaranku sedikit memudar.

“Justru itu, Pak. Saya masih ingat sama Ninik yang bapaknya sudah meninggal itu. Ternyata, Bapaknya masih segar bugar. Makanya dia marah waktu saya tanya, Bapak ini siapa, apa Bapak omnya Ninik.”

“Trus…” walah, rasa penasaranku menyeruak lagi!

Lanjut Pak Dar,“Saya ini Papanya!… kata orang itu.”

“Trus, trus,…” ceritanya jadi seru sekarang…

“Bapak jangan bercanda. Papanya Ninik sudah meninggal, Pak. Saya sendiri yang pasang pengumumannya di kampus…Itu yang saya bilang ke penelpon tadi. Setelah itu, habis saya dimaki-maki.” Pak Dar menarik nafas panjang.

***

      Rasa penasaranku masih berlanjut hingga sekarang kalau mengingat Ninik. Anak itu cukup misterius buatku.

“Eh, Tia, sini sebentar.” Kupanggil salah satu mahasiswiku yang kebetulan lewat di dekatku.

Tia datang menghampiriku, “Ada apa, Pak?”

Setahuku Tia adalah kawan baik Ninik. Mestinya dia tahu banyak hal tentang Tia. Aku sendiri cukup sering ngobrol sama Tia.

“Saya mau tanya sesuatu. Nggak ada hubungannya sama kuliahmu, koq.”

“Bapak pasti mau tanya tentang Ninik, kan?”

Aku jadi heran, “Kamu koq bisa nebak? Kamu paranormal, ya?”

“Bapak koq tahu kalau saya paranormal? Bapak paranormal juga, ya?” dia ganti meledekku.

Tuturnya, “Beberapa hari yang lalu papanya ‘nelp ke kos-kosan saya, Pak. Saya dulu kan satu kos sama Ninik. Papanya cerita kalo Ninik kabur dari rumah sudah hampir satu minggu. Papanya ‘nelpon ke kampus pengen cari informasi tentang alamat Ninik terakhir di Surabaya. Saya bilang kalau saya nggak tahu. Saya memang bener-bener nggak tahu, Pak. Saya nggak berani bo’ong. Lagian apa untungnya saya bo’ong. Bo’ong itu kan dosa, Pak. Itu prinsip hidup saya. Orang tua saya ngajarin saya begitu dari kecil…”

Wuih, gila juga nih anak! Bibirnya nggak bisa direm…

“…Abis itu, Pak. Papanya juga cerita sambil meledak-ledak, ngeri kalo saya ingat nadanya, intinya dia ngerasa jengkel banget karena diberitakan sudah meninggal di kampus kita…” kulihat Tia berhenti sejenak, ambil nafas….

Kesempatan untuk berbicara! “Kamu kenal, Papanya?” cepat-cepat kutanya sebelum dia memperpanjang cerpennya.

Mukanya mendadak seperti orang o’on banget, “…Nggak, Pak…”

“Bagaimana kamu yakin kalau laki-laki di telpon itu papanya Ninik?”

“Ninik pernah cerita kalau dia punya dua papa. Yang satu papa beneran, udah cerai sama mamanya. Satu lagi papa bo’ongan alias papa tiri,” cerita si Tia sambil mencoba mengingat-ingat. Kulihat arah gerakan matanya, sesekali ke kanan atas, sesekali ke kiri atas. Yah, anak ini sedang mengingat atau sedang mengarang, ya?

“Suatu ketika, kalau tidak salah waktu itu di kamarnya. Maaf lho, Pak. Ini seingat saya… mungkin benar, mungkin salah…dia cerita kalau dia sebenarnya nggak cocok sama papa tirinya. Mereka sering berantem, seingat saya begitu ceritanya…”

***

      Ninik dan keluarganya memang tidak pernah lagi menghubungiku ataupun kampus di mana Ninik pernah kuliah. Kawan-kawannya juga nggak pernah mendengar kabar sama sekali tentang Ninik. Satu-satunya hal yang masih mengganjal dalam otakku adalah selembar kertas ucapan belasungkawa atas meninggalnya papa Ninik.di papan pengumuman kampus ini.

Ninik, Ninik. Siapa sih yang kamu bilang meninggal waktu itu????

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s