Dasi, wibawa, & kebebasan (masih 14 th yg lalu)

dasiHari ini belum genap seminggu aku menjadi seorang dosen.
“Lho, Pak Tambunan koq tidak pake dasi!” Pak Rudi –sang Pembantu Ketua II Bidang Administrasi di kala itu- menegurku. Kebetulan, aku baru keluar dari kelas -mau ke kamar kecil.
“Wah, maaf, Pak. Saya tidak tahu kalau ada peraturan dosen harus memakai dasi.” jawabku enteng sambil mataku melihat ke arah seorang rekan senior yang kebetulan lewat dan juga tidak memakai dasi
Mungkin dia membaca pikiranku.
“Profesi kita dosen, Pak. Kalau sedang mengajar harus berdasi, biar berwibawa di mata mahasiswa,” nadanya terdengar sedikit ketus buatku.
“Baik, Pak. Nanti kalau mengajar lagi, saya bawa dasi.”
***
Dari dulu, aku ini anti banget sama yang namanya dasi. Buatku, dasi adalah simbul pengekangan terhadap kepala dan segala instrumen di dalamnya. Tapi ya sudahlah. Ini adalah hari-hari awalku bekerja sebagai dosen. Menurut Maslow, aku masih berada di bagian dasar hierarki kebutuhan hidup manusia. Lebih baik pakai dasi, daripada kehilangan pekerjaan, bukan?
Besoknya aku berangkat menuju ruang kelas memakai dasi sesuai “petunjuk” Pak Rudi. Begitu sampai di kelas, entah mengapa, secara otomatis aku buka dasiku di depan mahasiswa-mahasiswaku. Aku ternyata tetap aku, apa adanya! Aku adalah orang yang tidak bisa bertahan lama pada situasi dan kondisi yang bukan “gue banget”, istilah yang aku adopsi dari anak-anak sekarang. Dan rupa-rupanya, tidak perlu menunggu terlalu lama untuk menunjukkan karakterku yang satu ini. Apalagi, badanku sudah memberi alarm, kalau dasi masih belum termasuk komponen pakaian yang sesuai bagi diriku, termasuk dalam pekerjaan ini.
“Lho, koq dasinya dilepas, Pak?” celetuk salah satu mahasiswa.
“Leher saya tercekik. Nanti saya nggak bisa ngajar dengan tenang. Kalian tidak keberatan, khan?” Tanyaku sambil melipat lengan baju panjangku hingga setengah bagian.
“Sama sekali nggak, Pak. Justru enakan kalau Bapak nggak pakai dasi. Jadi nggak kaku suasananya.”
Dua jam berlalu dengan suasana sersan alias serius tapi santai -menurutku-. Kelas selesai, dasi aku pakai lagi.
“Dipakai lagi, Pak?”
“Iya, buat menyenangkan hati orang tua” jawabku sekenanya.
“Ohhh….” ekspresi wajah mereka terlihat lucu campur bingung mendengar jawabanku.
“Pasti mereka nggak ngerti maksudku,” pikirku. Aku cuek saja.
Keluar kelas, aku sengaja berjalan ke ruang si Bapak pemberi petunjuk. Mau mampir, sambil pamer dasi lima belas ribuan yang kubeli demi “memuaskan” dirinya.
“Siang, Pak. Saya sudah pakai dasi hari ini. Sudah berwibawa kan, Pak?”
Tidak ada kata-kata sedikitpun keluar dari mulutnya, selain sebuah senyum tipis. Tipis sekali. Biasalah! Senyum ala Bos. Hahaha…
Ya, sudahlah. Kenapa harus memikirkan reaksinya? Pokoknya, aku sudah mengambil keputusan kalau hari itu adalah hari pertama sekaligus hari terakhir aku pakai dasi sesuai “aturan” yang tidak pernah aku baca sampai hari ini, di tempat ini.
***
Dan entah mengapa, setelah hari itu Pak Rudi ternyata juga tidak pernah menegurku meski berulang kali melihatku mengajar tanpa dasi di kelas.
Mungkin kejadian di awal cerita ini merupakan bagian dari ritual perkenalan buat dosen baru ala Pak Rudi. Maklumlah. Sebagai dosen, mungkin dia jarang-jarang mendapat kesempatan untuk menunjukkan positional power-nya. Dosen kan juga manusia…hehehe…
***
Nikmatnya bekerja tanpa dasi. Aku benar-benar menjadi orang bebas. 😉

Advertisements

3 thoughts on “Dasi, wibawa, & kebebasan (masih 14 th yg lalu)

  1. hari ini saya jadi satu-satunya peserta lelaki di seminar Kerja Praktik yang tidak mengenakan dasi.
    selain itu., saya satu-satunya yang tidak mengenakan kemeja berwana cerah.

    kira-kira bagaimana dengan nilai saya ya?

    sebenarnya nilai sudah keluar semester lalu., kira-kira berubah gak ya gara-gara seminar tadi 😕

  2. Menurut saya dasi adalah simbol pengekangan manusia terhadap manusia lain seperti halnya kalung kucing/anjing.

    Malah saya kalau dalam meeting-meeting bisnis membedakan “the real decision maker” dengan “high level slave” gampang saja. Yang “the real decision maker” atau istilah anda (the invisible hand), biasanya adalah para owner, shareholder atau komisaris, biasanya pakaiannya lebih santai, kemeja, atau baju batik, tanpa jasi atau jas.

    Kaum “high level slave” , CEO, Direktur, GM, Senior Manager, Konsultan… memiliki gelar MBA, bahkan PhD, biasanya memakai jas lengkap dengan dasi. Gayanya gagah sekali kalau di kantor tapi kalau di board meeting terkencing-kencing kalau dimaki-maki shareholder/owner gara-gara revenue turun hahaha.

    #sayajugahighelevelslave

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s