Titik awal…(14 tahun yang lalu)…

Kehidupan sebagai karyawan sebuah bank swasta kecil di Surabaya terasa sangat monoton bagiku. Datang pagi pukul 06.50. Mampir ke check-clock. Trus kerja. Ketik ini itu. telepon sana sini. Pukul 12.00-13.00 istirahat makan siang. Trus kerja lagi. Pukul 17.00, kalau kerjaan beres, bisa pulang. Kalau belum, terpaksa ngelembur.
Urusan kerjaan, kalau lagi banyak, banyaknya bisa segudang. Nggak ada habis-habisnya. “Patah satu, tumbuh seribu!” Tapi kalau lagi longgar,… mendadak berdatangan tugas tidak jelas bagai banjir bandang. Artinya, bos-bos nggak bakalan pernah ikhlas ngeliat karyawannya menghirup nafas kemerdekaan barang sejenak. Setiap hembusan nafas kami sedapat mungkin menebarkan aroma rupiah bagi hidung mereka. Keserakahan bisnis yang demikian parah membuat berbagai bentuk kejanggalan bisnis, aksi tipu-tipu, main suap, pemalsuan data, menjadi pemandangan sehari-hari di tempatku bekerja.
Dua tahun sudah aku bekerja bagai kuli di tempat ini. Perubahan nasib –maksudku kenaikan jabatan dan gaji- tak kunjung datang. Tiap hari aku tetap saja jungkir balik mengerjakan hal-hal yang sebenarnya bukan porsiku.
Sementara orang-orang baru berdatangan dengan memperoleh berbagai priveleges yang nggak pernah aku nikmati sedikitpun! Meski aku jauh lebih senior dari mereka.
Yang paling menjengkelkan adalah ketidakadilan perlakuan para bos terhadap anak buah benar-benar terlihat di depan mata! Mulai dari urusan sanksi atas keterlambatan, pengaturan lembur, bonus, dan gaji, semuanya terasa sangat diskriminatif!
Termasuk Pak Dreamy, sang Direktur Utama. Si pemegang kemudi perusahaan ini ternyata berhasil memaksaku untuk memberinya gelar “manusia terplin-plan” dalam catatan sejarah pekerjaanku selama lima tahun terakhir.
Dreamy!. Ya, namanya Dreamy! Orangnya masih muda sekali. Perawakannya tinggi besar, sedikit gendut, pipinya montok kemerahan. “Bayi sehat,” badanku terguncang-guncang kala mendengar sebutan itu untuk pertama kalinya dari kawan-kawan di divisi sistem dan prosedur. Mereka benar-benar ahli di bidang penanganan sistem informasi perusahaan tempatku bekerja. Buktinya, hanya dalam waktu beberapa jam, seluruh cabang sudah mengenal gelar kehormatan yang mereka berikan tadi pada sang direktur baru.
Kata orang, si bayi sehat lulusan dari universitas terkenal di negerinya Pakde Sam. Gosipnya, meski masih muda, Direktur Utama yang baru ini adalah orang yang sangat matang kemampuan manajerialnya. “The Real Banker!” promo komisaris di acara perkenalan informal beberapa waktu yang lalu. Punya pengalaman segudang waktu jadi manajer pemasaran sebuah bank Jepang di Amrik.
‘mprettttt…! Bagiku promo seperti itu sudah expired. Pengalaman segudang? Kurang definitif tuh! Musti dijelasin gudangnya sebesar apa dulu. Gudang yang dimaksud buat nyimpan apa? Masih lumayan kalau gudang buat nyimpan pesawat (Itupun sebenarnya aneh, ngapain pesawat disimpan di gudang? Pasti pesawatnya rusak, dan pasti pesawatnya adalah pesawat televisi. Nggak mungkin pesawat terbang!) ‘Gimana kalau gudangnya ternyata hanya ruang kecil ukuran 2mx1m? Buat nyimpan koran bekas lagi?
Lagian, apa sih hebatnya punya pengalaman segudang? Mbok kalo bikin istilah yang lebih keren, pengalamannya setinggi gedung pencakar langit. Setinggi patung liberty, seluas bandara Sukarno Hatta, atau yang lain gitu kek? Lebih keren! Jangan gudang! Gudang urusannya buat nyimpan barang. Kalau gudangnya besar dan isinya penuh terus, berarti sang pemilik gudang orangnya nggak efisien. Holding cost-nya kegedean karena stok yang disimpan terlalu banyak. Kesimpulannya, orang yang pengalamannya segudang pasti orangnya bego banget! Jadi sebagai seorang direktur utama, si Dreamy ini mestinya orang bego. Pengalamannya baru pada level gudang.
(Bener kan! Orang sirik dan stress sekalipun bisa melakukan reasoning dengan cara yang logis banget. Btw, menurut Anda, tadi itu logis nggak? Semoga kita sepaham…)
‘Ntar dulu? Dia kan kami juluki bayi sehat? Seorang bayi udah pernah main-main di gudang? Wah, sudah lumayan banget ‘tuh, sebagai “seorang” bayi. Berarti yang bego kami, kenapa mau dipimpin bayi sehat.
***
Aku jadi teringat awal kedatangan orang aneh ini di kantor kami -dia belum jadi bagian dari kami, dan memang akan tidak pernah…Tuh, emosional banget kan?
Hari itu, menjelang istirahat siang, seluruh karyawan kantor pusat mendadak mendapat undangan makan siang dari manajemen. Isi memo, “Acara perkenalan dengan Direktur Utama yang baru.”
Di pertemuan perdana itu, cara bicara orang baru ini terasa terlalu melangit. Buatku. Terlalu tinggi! Sukar untuk didaki…, oleh manusia normal. Atau, tunggu dulu…mungkin aku yang nggak bisa membedakan keterusterangan dan kesombongan,…
“Saya sangat menjunjung EEO! Jadi Anda tidak perlu khawatir dengan my leadership style. Sorry, saya tidak tahu bahasa Indonesianya leadership…“Itu katanya dalam pidato perkenalan.
Pelecehan bener, khan! Emangnya kita sebodoh itu! Apalagi hanya untuk urusan bahasa. Meski peringkat HDI kita jeblok banget, bukan berarti kita ini orang bodoh. Setuju? Kita ini orangnya membumi, rendah hati, nggak suka pamer…
Ya, begitu itu cara bicara si Direktur Utama baru kami. Dialeknya sedikit dibule-bulekan. Dicampur-campur sama bahasanya Pak George Bush. Biasa, biar orang yakin kalau dia baru datang dari US.
“’Gor, opo kuwi EEO?” tanya kawanku lirih.
Padahal aku lihat dia tadi manggut-manggut waktu si Dirut ngomong EEO. Aku pikir dia ngerti. Eh, ternyata dia pura-pura! Tepatnya, pura-pura sakit leher…hi…hi…hi…
Setengah berbisik aku jawab, “EEO itu Equal Employment Opportunity…” Ya, jelas aku tahu. Thema thesisku ku kebetulan seputar huruf-huruf itu tadi….
“Oooo….”
Aku yakin dia masih nggak ngerti, “Kamu ngerti nggak?”
“Blassss…, apa sih itu? Ada hubungannya sama perbaikan nasib kita?”
Aku ambil kartu nama catering yang melayani kami. Dibaliknya kutulis, “Gombalan khas para MBA!”
***
Sampai di mana tadi, Oh, ya…Banker sejati…
Itu kata komisaris,….
Kenyataannya? Beda banget!! Semua gembar-gembor komisaris tentang golden boy-nya yang satu ini benar-benar tak lebih dari dongeng sebelum tidur yang hanya pas buat anak-anak, … atau manusia bermental anak-anak….
Selang beberapa hari kemudian, kami mengadakan rapat Kantor Pusat yang pertama. Rapat langsung dipimpin sang Direktur Utama yang baru. Boleh juga sih rapatnya. To the point dan sistematis! Agendanya very clear…
Setelah dua jam rapat yang sangat efektif, “This is an american style!” I katanya dengan bangga, “I hope you learn a lot of thing of me…!”
Persediaan sombongnya itu lho, gila-gilaan banyaknya! Kapan habisnya, ya?
Dengan penuh rasa percaya diri, di telponnya salah satu komisaris kami. Niatnya, menyampaikan hasil rapat yang baru saja kami buat. ……………Tahu apa yang terjadi kemudian?
Baru beberapa menit berbicara, wajah putih si Dirut mendadak merah padam mirip pantat bayi! Tangannya bergetar hebat seperti orang ketakutan!
“Ya, Pak…ya,…ya,… eehhh….iyyyya, iya, Pak…ya,…terima kasih, Pak. Selamat siang…”
Telepon ditutup, dan… dengan tergopoh-gopoh dia keluar dari ruangan rapat. Nggak jelas ke mana! Tapi sepertinya ke kamar mandi.
Hahaha…, pasti dia mau buang air kecil!
Kami yang ada di ruangan saling pandang sambil menebak-nebak apa yang bakal terjadi.
Si Dirut kembali, dan “I am so sorry, hasil rapat terpaksa tidak dapat kita laksanakan!”
Hah????
Aku sudah menduga sejak awal kalau si bayi sehat -julukan kami- itu tak lebih dari sebuah robot besar, sama seperti direktur-direktur lainnya. Semua kendali tetap ada pada para invisible men!
***
Ketidakberesan demi ketidakberesan terjadi demikian telanjang di depan mataku. Sama dengan nasib kami yang tidak pernah beres.
Kami -beberapa orang lama yang ikut melakukan babat alas, membantu proses pembangunan perusahaan sedari awal- masih saja diperlakukan seperti barang bekas. Nggak ada harganya! Dilempar ke sana ke mari, merekayasa A jadi B, B jadi A, semuanya demi menuruti hobi saling sikut antar bos.
“Dengan sampah aja kita kalah! Sampah masih bisa bisa didaur ulang, bisa dijadikan kompos. Kita?!!” ujarku seorang kawanku yang sudah super frustasi.
Tidak bisa kupungkiri kalau kerja dengan cara begini sama sekali nggak sesuai dengan jiwaku.
Hati kecilku berontak hebat.
Hanya satu kalimat yang ada dalam benakku. “Aku harus hengkang dari perusahaan ini secepat mungkin!”
***
Satu persatu kawan-kawan baikku mengajukan pengunduran diri. Mereka sudah tidak tahan dengan suasana perusahaan yang makin panas dari hari ke hari.
Orang-orang baru dan lama terus keluar masuk bergantian. Turn over-nya ekstra tinggi.
Para Bos masih terus menjalankan hobinya bongkar pasang karyawan. Komisaris bolak-balik ganti Direktur, direktur gonta-ganti sekretaris, rotasi manajer terjadi dalam hitungan semesteran. Hari ini seseorang bisa jadi manajer, enam bulan berikutnya diturunkan dari jabatannya karena dianggap tidak mampu.
Peraturan perusahaan dan kebijakan ikuti-ikutan berubah. Sebagai staf HRD yang cukup sering loncat dari satu perusahaan ke perusahaan lain, aku masih bisa memahami fenomena organisasional semacam ini, “Sedang mencari jati diri!” Begitu kata pakar-pakar organisasi.…Tapi tidak separah yang kualami saat ini, “Kalau ini sih lupa diri!” FYI, perusahaan tempatku bekerja adalah perusahaan yang baru saja diakuisisi oleh kelompok perusahaan konglomerat di kotaku.
Setahuku, setiap kali terjadi pergantian manajer, manajemen sebuah bank harus melapor ke Bank Indonesia. Pergantian yang sering terjadi sebenarnya dapat menjadi indikasi kuat terhadap buruknya kinerja manajemen. Anehnya manajemen sumber daya manusia yang demikian berantakan dinilai aman-aman saja oleh lembaga pemilik otoritas kebijakan perbankan di negeri ini. Bahkan bank tempatku bekerja dikategorikan sehat! Aneh bin ajaib!
“Apa untungnya memikirkan hal itu?” pikirku.
Sedangkan, nasibku sebagai karyawan sama sekali tidak pernah dipikirkan oleh perusahaan ini. Apa lagi kalau aku ingat, aku bergabung dengan perusahaan ini bukan karena aku yang minta. Aku nggak melamar, aku yang diajak oleh Pak Ricky-Kepala Cabang Utama waktu itu. Janjinya selangit! Dia bilang, nanti kalau aku sudah S2 aku akan dapat posisi yang lumayan. Sementara ini, aku harus bekerja keras untuk membantunya melakukan berbagai penataan.
Aku benar-benar sudah muak dengan istilah loyalitas yang selalu disebut-sebut para bos dalam rapat!
Benar-benar membosankan dan menjengkelkan!
Semuanya terasa sangat melelahkan!
Aku sssstress berat! Aku nggak tahan lagi.
Dan,…terjadillah hal yang kutakutkan… kondisi fisikku akhirnya mencapai titik terendah ketika suatu hari kedua kakiku secara tiba-tiba kehilangan tenaga. Perut mual-mual, semua benda diperutkan kumuntahkan. Asem campur pahit! Seperti ada benda berputar hebat di kepalaku.
Tipus!!!! Ya, tipus! Dokter memastikan kalau aku terkena tipus yang parah. Gawat! Sepengetahuanku, tipus identik dengan istirahat panjang. Bisa berminggu-minggu nggak masuk kantor nih!
Kukirim surat permintaan ijin dari dokter ke Pak Suharno-Direktur HRD- yang membawahiku langsung saat itu.
Aneh, kan! Atasanku langsung adalah Direktur HRD. Tapi aku nggak punya jabatan sama sekali. Aku cuma sebuah pion yang bisa digeser satu atau dua langkah ke depan. Padahal, aku sering sekali diminta membuat berbagai surat keputusan penting dari departemen ini. Aku bahkan menyusun peraturan ketenagakerjaan perusahaan, termasuk menjelaskan berbagai hal seputar HRM padanya dan direktur-direktur lainnya. Mestinya semua ini pekerjaan si Lusi.
Lusi, sang manajer “bayangan” HRD nan bawel itu bisanya hanya main tetris dan ‘nangis kalau ada karyawan yang komplain karena mendapat potongan gaji. Badannya yang kurus -aku yakin karena terlalu ketat menjalankan diet pembentukan badan- membuatnya lebih sering absen karena sakit daripada ngurusin urusan-urusan manajerial yang menjadi tanggungjawabnya.
Pernah suatu ketika, karena aku lagi malas, aku sengaja datang terlambat waktu dipanggil Pak Harno ke ruangannya, “Tigor, lama sekali kamu baru datang. Ini ada surat dari Disnaker. Apa yang harus kita lakukan?”
“Pak, ini kan urusan Bapak dan manajer HRD. Kenapa harus saya?” tanyaku tanpa merasa bersalah sama sekali.
“Kamu kan sekarang lagi kuliah S-2, pasti kamu jauh lebih ngerti daripada Lusi,” tukasnya, sama sekali nggak marah atas sikapku, “Nanti nggak selesai-selesai kalau nunggu dia.”
“Ya ganti aja dia, Pak!” usulku. Agak kurang ajar sih memang kedengarannya! Sengaja! Biar balance…
“Bisa aja kamu ini. Masak kamu yang jadi manajer. Nanti Lusi jadi apa?”
Fyi, si Lusi itu terhitung masih keponakannya salah satu komisaris Bank ini. Jadi, tahu sendirilah…
“Enak aja! Gaji kopral, tanggungjawab kerjaan jendral!”Aku hanya bisa ngomel dalam hati, “Dasar orang-orang nggak punya malu!”
***
Dua minggu setelah aku absen dari kegiatan kantor, Pak Harno -sekarang orangnya sudah almarhum- datang ke rumahku.
Oh, ya. Aku memang tidak mau dirawat di rumah sakit. Selain biayanya mahal (tidak diganti sama sekali oleh kantor), aku juga tidak tahan kalau tidak melihat anakku yang waktu itu lagi lucu-lucunya. Meski tidak bisa memeluknya, paling tidak aku bisa melihatnya setiap hari dari pintu kamar di mana aku terkapar tanpa daya menanti proses pemulihkan diri.
Aku ingat benar kejadian kala itu. Aku sendiri yang langsung menemui Pak Harno di ruang tamu, meski sebenarnya aku belum boleh banyak bergerak oleh dokter.
Tanpa basi-basi, dia tanya, “Kamu gemukan ya, Tigor? Kena tipus beneran apa nggak sih?”
“Dasar wong gendeng!” umpatku dalam hati.
Aku benar-benar tersinggung! Kupikir dia datang untuk menjenguk dan bersimpati, ternyata dia datang hanya untuk menyelidiki kebenaran penyakitku.
“Lho, orang sakit emang nggak boleh gemuk, Pak?” nadaku agak tinggi.
“Nggak, nggak,…bukan begitu maksud saya. Gitu saja kamu tersinggung, Tigor “ Pak Harno agak salah tingkah melihat reaksiku.
Kemudian kami melanjutkan dengan pembicaraan-pembicaraan yang menurutku hanya penuh kepura-puraan.
“Salah sendiri! Kenapa datang ke rumahku hanya cari-cari masalah!” pikirku.
“Pak Harno, maaf saya harus istirahat dulu. Saya belum boleh lama-lama duduk. Nanti kalau lama sembuhnya, bisa-bisa Bapak ikut sakit karena terlalu curiga, eh maksud saya, memikirkan saya…” aku memang sengaja mengusir dia.
Tapi, serius! Mataku sudah suntuk banget melihat tampang orang jelek satu ini. Aku khawatir kesehatanku memburuk lagi gara-gara stress kena pantulan cahanya dari kepala botaknya itu…he…he…he…
***
Beberapa hari kemudian akhirnya aku diijinkan dokter untuk kembali bekerja, meski sebenarnya aku belum benar-benar pulih.
Enak banget memang jadi dokter, ya! Kita yang bayar, dia yang ngatur-ngatur kita! Kalau kita nggak sembuh-sembuh karena diagnosanya salah atau obatnya nggak cocok, dia bilang, “Anda pasti telah melanggar nasehat saya…” …hehehe…juzz kidding…
Boleh percaya, boleh tidak. Baru beberapa hari saya masuk, Pak Harno memanggilku ke ruangannya dan menyodorkan SP alias Surat Peringatan! Saya tidak tahu apa alasannya yang pasti. Karena memang di dalamnya tidak ada keterangan sama sekali.
“Kamu sudah terlalu lama tidak masuk kantor,” Pak Harno mencoba menjelaskan.
Aku langsung membela diri, “Bapak kan tahu sendiri kalau saya sakit. Surat dokter saya juga Bapak terima, khan?”
“Masalahnya di situ, ‘Gor. Surat ijin doktermu tidak pernah kamu perbarui selama kamu absen.”
“Maksud Bapak?” Aku nggak ngerti ucapannya, “Sejak kapan ada aturan seperti itu?!” sanggahku.
Pak Harno terdiam. Tangannya pura-pura merapikan rambut di puncak kepalanya yang licin bebas hambatan, “Sudahlah. Terima saja SP ini. Hanya formalitas. Nggak usah dijadikan masalah”
Alasan yang dibuat-buat! Padahal jelas sekali surat dari dokter menyebutkan lamanya ijin yang diminta. Orang ini benar-benar sangat menjengkelkan!
Aku tidak peduli lagi. Nggak pakai acara sopan-sopanan segala. “Pak, Anda rupa-rupanya sengaja senang mencari masalah dengan saya.” Aku mulai panas.
“ Dulu Anda datang ke rumah saya pura-pura ingin tahu kondisi saya, ternyata Anda ingin memastikan saya bohong atau tidak” sambil ber Anda-Anda kuingatkan dia kejadian beberapa minggu lalu
“Sekarang Anda memberi saya SP. Tapi Anda bilang ini hanya formalitas. Kalau Anda ingin memecat saya, langsung aja pecat. Nggak usah pake cari-cari alasan yang aneh-aneh!” Pak Harno diam terpaku. Mulutnya melongo. Jeleekkk banget! Huh!!!
“Silakan Bapak tempel surat ini di Papan Pengumuman. Biar sekalian semua orang baca!” Surat itu aku tinggal begitu saja di mejanya. Aku keluar dari ruangannya dengan hati luar biasa kesal.
***
Oh, ya. Selama proses penyembuhan berlangsung, untuk mengisi waktu kosongku aku menyempatkan diri untuk membuat beberapa surat lamaran. Tujuannya asal saja kubuat. No koran, no yellowpages, no informasi. Seratus persen tanpa referensi! Akupun nggak ada ada target sama sekali. Murni iseng!
Anehnya, tiga buah surat lamaran yang kubuat, semuanya kutujukan untuk posisi dosen di beberapa PTS Surabaya. Sejak mahasiswa aku memang sering menjadi instruktur berbagai training yang diselenggarakan oleh jurusanku maupun dosenku. Aku juga sempat beberapa kali pindah perusahaan konsultan yang bergerak di bidang pelatihan dan pengembangan organisasi. Tak bisa kupungkuri, aku memang suka sekali mengajar, berbicara di depan orang banyak sambil berinteraksi. But, to be honest, -sorry, pake istilah seberang dikit, buat mancing emosi pembaca yang benci ama gaya penulisan keinggris-inggrisan- nggak pernah ada dalam pikiranku sedikitpun untuk bekerja jadi dosen.
Dan, sebuah mujizat terjadi! Aku lupa tanggal pastinya. Hari itu mendapat surat panggilan interview dari sebuah perguruan tinggi swasta Surabaya, yang “mestinya” pernah aku kiriman surat lamaran. Aku sama sekali nggak tahu persiapan apa yang mesti kulakukan untuk menghadapi interview kali.
***
Wawancara berlangsung dengan singkat.
Terlalu singkat, malah! Nggak sampai setengah jam.
Pak Rinaldi –Pembantu Ketua I Bidang Akademik- dan Pak Kris –Ketua Jurusan di jurusan yang aku lamar- hanya menanyakan beberapa hal sederhana menyangkut informasi pribadi yang ada di surat lamaranku. Kemudian kami membicarakan mata kuliah yang kemungkinan cocok aku ajar.
Ya…Hanya itu saja…
Aku benar-benar masih nggak yakin kalau proses interview karyawan baru, apalagi untuk jabatan fungsional bernama dosen di kampus ini demikian sesederhana.
Setahuku, di Bank dan di tempat-tempat lain di mana aku pernah bekerja, prosedur rekrutmen dan seleksi karyawan baru yang dijalankan cukup panjang. Kadang berliku…Itupun hasilnya belum tentu memuaskan.
“Atauuu…, jangan-jangan aku memang dianggap tidak layak sama sekali? Makanya interviewnya sebentar…” rasa pesimis (campur kecewa ‘dikit) mulai datang mengunjungi benakku.
Ah, biarlah!.
Que sera-sera,…apa yang akan terjadi, biarlah terjadi…
***
Tidak sampai satu minggu sesudah proses itu, aku menerima panggilan untuk kedua kalinya dari -kali ini lewat telepon- untuk nego gaji. “Nego gaji?!!!” Hampir aku tak percaya, “Berarti aku diterima, dong!”
Tuhan benar-benar selalu campur tangan dalam langkahku! Aku percaya sekali tentang hal itu.
Sesuai dengan tanggal yang ditentukan, aku datang ke kampus ini. Ketemu langsung dengan seseorang bernama Pak Rudi, Pembantu Ketua II Bidang Administrasi Kepegawaian.
“Begini, Pak Tigor. Bapak kami terima sebagai dosen di institusi ini dengan status sebagai dosen kontrak terlebih dahulu selama dua semester.”
“Terima kasih, Pak.”
“Tapi, Pak…. Anda perlu tahu bahwa kemampuan finansial lembaga ini jelas tidak sama dengan perusahaan-perusahaan di luar sana…” ujarnya sambil menunjukkan angka yang tertera dalam sebuah kertas. “Ini yang bulanan, Pak. Bagaimana?” Tidak pakai tawar menawar! “Ya, saya terima, Pak!” aku langsung terima nominal gaji bulanan yang ditawarkan Pak Rudi padaku.
Hanya satu yang ada dalam pikiranku saat itu. AKU HARUS KELUAR DARI BANK YANG SAKIT DAN TELAH MEMBUATKU MENJADI SAKIT!!! AKUUU HARUS KELUARRRRRRRRRR!!!
***
Hari ini aku terima gaji. Yup, amplop masuk kantong! Ini adalah gaji terakhirku yang aku terima dari Bank ini…
Dengan melangkah pasti aku datang ke ruangan Pak Harno, “Siang, Pak.”
“Siang, Tigor. Kebetulan kamu ke sini. Saya sebenarnya mau ‘manggil kamu. Ada surat yang perlu kamu buat…” Lihat! Orang ini di dalam otaknya hanya ada perintah, perintah, dan perintah.
“Oh, ya…. Kamu sudah ambil gaji?”
“Sudah, Pak.” Jawabku.
Kuserahkan surat pengunduran diriku yang sudah kusiapkan dari rumah. Tanpa basa-basi, aku beri surat itu langsung ke Pak Harno, “Pak, besok saya keluar dari perusahaan ini. Ini surat pengunduran diri saya. Terima kasih.” sambil kusodorkan tanganku, mengajaknya bersalaman.
“Lho, nggak boleh begini caranya!” kata Pak Harno, tidak membalas uluran tanganku.
“Kamu baru bisa mengundurkan diri satu bulan dari sekarang…”
Tak kutanggapi omongannya. Kutarik lagi tanganku.
“Selamat siang, Pak. Sampai bertemu di lain jaman!”
***
Kalau tidak salah hari itu hari Senin. Mobilku secara perlahan masuk kampus. Sempat ditanyai Pak Satpam. “Ada perlu apa, Mas?” Hehehe…, maklum umurku waktu itu baru 26 tahun. Jadi wajahku masih “wajah mahasiswa” banget. Belum bermutu alias bermuka tua. Wajarlah kalau dia memanggilku mas.
“Mau ngajar, Pak.”
“Oh, Bapak dosen baru itu, ya?” sambutnya ramah, sambil mengarahkan mobilku ke tempat parkir.
Yah. Hari itu adalah hari pertamaku masuk ke sebuah kampus dengan status sebagai dosen…..Ya, aku sekarang seorang dosen…

Advertisements

2 thoughts on “Titik awal…(14 tahun yang lalu)…

  1. nice story 🙂
    ternyata sudah menjadi dosen di usia muda, dan ternyata sebelumnya pernah bekerja di bank swasta..

    ceritanya diwarnai luapan emosi, baik amarah maupun sukacita..
    ehehehe..

    salam.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s