Bisnis Bali: Menghadapi ACFTA dengan Menata Ulang Klaster Industrial

Bisnis Bali, 14 April 2010

“Mematahkan lidi sebatang demi sebatang itu mudah, namun akan menjadi tidak mudah jika lidi-lidi tersebut disatukan oleh sebuah ikatan.” Filosofi kuno tentang kekuatan dalam kebersamaan ini sering menjadi rasionalisasi di balik strategi pengelompokan/ klaster industrial ( industrial clustering ).

Pembicaraan seputar strategi ini kembali menghangat, ketika topik ini dimasukkan ke dalam program 100 hari kerja Kabinet Indonesia Baru yang terbentuk Oktober 2009 lalu.

Beberapa Dati I/ Dati II nampak mulai mencoba menerapkannya kembali secara lebih serius untuk menaikkan daya saing UKM yang ada di daerahnya, khususnya UKM-UKM penghasil produk-produk khas daerah, seperti kain batik, kerajinan keramik/ gerabah, kerajinan kuningan, dansebagainya.

Dan menjadi makin menarik, ketika strategi pengelompokan industrial ini direkomendasikan oleh beberapa pihak sebagai salah satu cara yang cukup efektif untuk menghadapi ACFTA, yang akhirnya benar-benar dilaksanakan sejak awal tahun 2010 ini.

Penataan Industrial

Pengelompokan industrial adalah sebuah strategi penataan unit-unit industrial, rantai pasokan ( supply chain s), dan industri-industri pendukungnya ( supporting industries ) dalam sebuah wilayah geografis. Pengelompokan industrial dilakukan dengan tujuan mengoptimalkan potensi industrial lokal dalam wilayah yang dimaksud, termasuk untuk meraup penghematan biaya industrial secara signifikan karena aspek kedekatan geografis (salah satu target utama pelaksanaan strategi ini).

Luas wilayah operasional klaster industri beserta seluruh industri pendukungnya perlu diatur sedemikian rupa untuk menjamin optimalitas pencapaian strategi ini, dan bukan untuk mengumpulkan/ memindahkan/ mengalihkan modal dari berbagai penjuru ke dalam sebuah wilayah geografis.

Pengelompokan industri bukan strategi untuk menarik investor masuk ke sebuah wilayah geografis. Investor akan datang dengan sendirinya jika kelompok industrial yang terbentuk mampu “memamerkan” segala keunggulan bersaing industrialnya ( industrial competitiveness ) ke pasar yang lebih luas; seperti; ketersediaan sumber daya manusia dengan keahlian yang terspesialisasi, kepemilikan dan penerapan teknologi terkini, manajemen biaya produksi yang optimal, pemberlakuan standardisasi kualitas proses dan produk secara konsisten, dan -tidak ketinggalan- “catatan” transaksional menyangkut permintaan produk yang sangat tinggi oleh konsumen akhir, dsb.

Keberadaan sebuah klaster industri yang kuat akan memperkuat daya saing para anggota kelompok (sinergi industrial), bahkan kekuatan dan daya saing sosial ekonomi seluruh elemen masyarakat di wilayah di mana kelompok tersebut berada.

Tapi sekali lagi -jangan lupa- beberapa konsekuensi logis tetap harus diwaspadai. Kemunculan beban-beban lingkungan yang baru, transformasi sistem sosial, melemahnya daya saing perusahaan-perusahan non-klaster adalah beberapa dampak negatif yang perlu diperhitungkan sebelum kebijaksanaan pengelompokan industrial dilaksanakan.

Potensi perbedaan daya saing yang bakal dialami kelompok sejenis di beberapa wilayah yang berbeda juga harus mendapat perhatian yang serius dari pemerintah lokal, regional, maupun pusat. Kondisi ini dapat menyebabkan perpindahan sumber daya industrial (khususnya sumber daya manusia dan modal), yang ujung-ujungnya akan melemahkan daya saing salah satu kelompok industrial.

Sebagai pembuat dan pengawal kebijakan pengelompokan industrial, pemerintah juga harus menjamin klaster industri yang terbentuk bebas dari “usikan” pemodal-pemodal raksasa yang ingin menjadi tandingan dengan membuka usaha sejenis di wilayah lain yang berdekatan.

Dasar Clustering

Meski secara teoritis, strategi pengelompokan/ klaster industrial dapat diterapkan pada seluruh jenis industri, pengalaman di banyak negara menunjukkan bahwa setiap negara memiliki cara pandang yang berbeda ketika menentukan kelompok-kelompok yang akan dibentuk. Tidak ada patokan yang pasti -baik teoritis maupun praktis- berapa jumlah kelompok industrial yang optimal untuk dikembangkan.

Karena itu jenis industri-industri inti ( core industries ) yang hendak dikelompokkan harus dipilih secara hati-hati. Yang penting, pendekatan/ motivasi politik harus dihindari dalam perencanaan strategi ini. Selain terlalu berisiko, keuntungan ekonomi yang diraih -karena pendekatan motivasi politik- berpotensi menjadi sangat kecil atau hampir tidak ada (Held JR dalam Economic Development Quarterly , 1996).

Selain melihat potensi lokal yang ada saat ini, penyelenggara strategi pengelompokan industri sangat direkomendasikan untuk menelusuri terlebih dahulu sejarah industrial di sebuah wilayah (Porter, 1990). Hasil riset yang dikemukakan Zhang dkk (2004) dalam Journal of Textile and Apparel, Technology, and Management (JTAM) menunjukkan bahwa keberhasilan kelompok-kelompok industrial pertekstilan di China didukung oleh originalitas karakteristik industrial dan masyarakat yang sudah ada sejak lama.

Contohnya, kota Shengze (propinsi Jiangsu) sejak beratus-ratus tahun lalu – by nature – telah dikenal sebagai kelompok industri penghasil kain sutra ternama di Cina. Karena situasi politik-ekonomi tertentu, kelompok industrial ini sempat “menghilang” dari dinamika perekonomian masyarakat. Setelah ada reformasi kebijakan perekonomian di Cina, kelompok industri lokal ini akhirnya “dimunculkan” kembali (seolah-olah menjadi kelompok industri by design ). Sekarang, produknya telah mendunia.

Konsekuensi Logis

Persaingan antar perusahaan dalam kelompok industrial tetap terjadi. Bahkan sangat mungkin akan makin tajam dan terbuka di era pelaksanaan ACFTA ini. Namun menurut Porter (1990), beberapa potensi sinergis yang nampak maupun tidak nampak justru akan muncul akibat persaingan tadi. Efek sinergisnya sangat besar. Seperti peningkatan kemampuan berinovasi secara sistemik, peningkatan efisiensi proses dan manajemen produksi, dan pengembangan fungsi-fungsi organisasional.

Contohnya, dalam perusahaan yang menjadi bagian sistem industri yang tidak terkelompok, fungsi pemasaran biasanya menjadi “anak emas” perusahaan. Perannya sebagai eksekutor akhir aktifitas-aktifitas transaksional ditempatkan sebagai peran kunci penentu keuntungan yang bakal diraup perusahaan. Dalam perusahaan yang menjadi bagian dari sebuah kelompok industrial, peran kunci disebar ke seluruh fungsi primer maupun pendukung. Tanggungjawab optimisasi nilai setiap fungsi dalam value stream menjadi lebih besar. Setiap fungsi akan menjadi “anak emas” perusahaan.

Efek sinergis lainnya, adanya penggabungan-penggabungan aktifitas operasional yang sifatnya relatif non-competitive . Misalnya, penggabungan kapasitas oleh beberapa perusahaan kecil/ menengah (UKM). Jika kerjasama operasional ini dikelola secara profesional, dapat digunakan sebagai senjata yang ampuh untuk meraih posisi strategis di pasar yang lebih luas, termasuk pasar global (baca: akses ke pasar menjadi lebih terbuka).

Dengan klaster industrial, diseminasi informasi seputar perkembangan teknologi terbaru dan pengetahuan-pengetahuan industrial terkini menjadi jauh lebih cepat. Lewat formalisasi kelompok industrial, dukungan kelompok bisnis dan industri penunjang seperti perbankan, transportasi, institusi-institusi pendidikan khususnya bidang riset dan pengembangan, menjadi semakin jelas dan spesifik.

***

Untuk menghadapi ACFTA, kita membutuhkan kenaikan produktivitas secara signifikan pada seluruh penggunaan faktor produksi. Sementara itu, banyak bukti menunjukkan strategi sinergi cukup efektif untuk mencapai tujuan tersebut. Mengapa tidak dicoba untuk mengoptimalkannya?

* Penulis adalah Ketua Jurusan Teknik Industri STTS (Sekolah Tinggi Teknik Surabaya)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s